PedomanBengkulu.com, Jakarta — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) Hj Leni Haryati John Latief mengingatkan masyarakat agar tidak memperlakukan abu vulkanik seperti debu biasa. Selain berbahaya bagi kesehatan jika terhirup, abu vulkanik juga dapat merusak permukaan kaca dan kendaraan apabila dibersihkan dengan cara yang keliru.
Senator asal Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, abu vulkanik memiliki partikel yang tajam dan mengandung silika. Karena karakteristik tersebut, masyarakat perlu berhati-hati ketika membersihkan abu yang menempel di halaman, rumah, kaca, maupun kendaraan.
“Abu vulkanik itu tidak sama dengan debu biasa. Di dalamnya ada silika yang partikelnya tajam. Kalau salah cara membersihkannya, justru bisa merusak permukaan. Bahkan ketika bercampur air dalam jumlah tertentu, materialnya dapat mengeras seperti semen,” kata Hj Leni Haryati John Latief, Senin (7/9/2026).
Untuk membersihkan halaman rumah, ia menyarankan masyarakat tidak langsung menyiram abu dengan ember atau air dalam jumlah banyak. Sebaiknya menunggu debu atau abu berhenti berjatuhan terlebih dahulu, kemudian menyemprot atau membasahi permukaan dengan air secara perlahan dan setelah itu menyapunya dengan hati-hati.
“Jangan disiram pakai ember sekaligus. Abu yang bercampur air bisa menjadi lapisan keras seperti semen di lantai dan justru menyulitkan pembersihan. Tunggu debunya berhenti, semprot atau siram perlahan, kemudian sapu dengan hati-hati,” ujar Hj Leni Haryati John Latief.
Hal yang sama perlu diperhatikan ketika membersihkan kaca dan kendaraan. Menurutnya, permukaan terlebih dahulu harus disiram dengan air sebelum dibersihkan. Masyarakat tidak dianjurkan langsung mengelap abu dalam kondisi kering karena partikel silika yang tajam berpotensi menimbulkan baret pada kaca maupun bodi kendaraan.
“Kalau kaca atau mobil terkena abu, wajib disiram dulu. Jangan langsung dilap kering. Silika itu tajam, sehingga bisa membuat baret pada kaca dan bodi mobil,” kata Hj Leni Haryati John Latief.
Dewan Pakar Daerah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Provinsi Bengkulu ini juga mengingatkan agar kendaraan tidak ditunda pencuciannya setelah terkena abu vulkanik. Sifat abu yang dapat bersifat asam dikhawatirkan mempercepat kerusakan atau korosi pada bagian kendaraan. Karena itu, membersihkan kendaraan tidak cukup hanya dengan mengelap permukaannya.
Dari sisi perlindungan kesehatan, ia meminta masyarakat menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi memadai, seperti KN95 atau KN. Masker dapat sedikit dibasahi agar partikel debu lebih mudah tertahan, serta penggunaan kacamata keselamatan juga dianjurkan untuk melindungi mata.
“Jangan abai. Tidak menggunakan masker saat berada di lingkungan penuh abu sama saja membiarkan tubuh menghirup serpihan yang sangat halus dan tajam. Risikonya adalah ISPA, gangguan pernapasan, dan iritasi,” tegas Hj Leni Haryati John Latief.
Jika abu masuk ke mata, ia mengingatkan masyarakat jangan mengucek mata. Mata harus segera dibilas menggunakan air mengalir sampai bersih. Mengucek mata justru dapat memperparah rasa perih dan menyebabkan iritasi.
Selain itu, masyarakat diminta menutup seluruh celah rumah, termasuk ventilasi, jendela, dan pintu. Lubang atau celah yang memungkinkan abu masuk dapat disumpal menggunakan koran atau kertas bekas.
“Sekali abu masuk ke dalam rumah, membersihkannya membutuhkan waktu lama. Karena itu, lebih baik cegah sejak awal,” tutur Hj Leni Haryati John Latief.
Pembina Forum Melayu Rembuk Bengkulu ini menegaskan, masyarakat tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh meremehkan bahaya abu vulkanik. “Sesak sedikit karena menggunakan masker tentu lebih baik daripada tubuh yang Allah amanahkan kepada kita rusak karena kita menghirup abu tanpa perlindungan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, ia mengajak masyarakat menghadapi bencana dengan memperkuat kepedulian sosial.
“Yang paling penting dan terpenting adalah kita saling membantu, memperbanyak tobat dan doa, serta tetap melakukan ikhtiar terbaik untuk menjaga diri, keluarga, dan sesama,” demikian Hj Leni Haryati John Latief.