Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Arah Rupiah Hari ini Setelah BI Rate Ditahan 5,75%

 

PedomanBengkulu.com, Jakarta - Rupiah diperkirakan mengalami konsolidasi dan bergerak di rentang Rp18.000-Rp18.090/US$ dengan bias melemah dalam perdagangan spot hari ini, Kamis (22/10/2026). Di satu sisi, rupiah bisa tertopang sentimen positif di pasar keuangan Asia dengan meredanya penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan stabilnya harga minyak mentah. 

Penguatan harga minyak sempat tertahan. Kemarin harga minyak Brent sempat kembali menguat 0,44%, tetapi ditutup dengan sisa penguatan hanya 0,03% di US$108,8/barel. Sementara itu, indeks dolar AS melemah terbatas 0,07% ke 101,7, menyusul yield obligasi AS yang stabil di 5,11%. 

Sejumlah indikator itu membuat gerak mata uang Asia defensif dan bertahan di zona hijau, meski dengan penguatan amat terbatas pagi ini. Yuan offshore menguat 0,03%, disusul dolar Singapura dan yen Jepang masing-masing 0,02%, lalu won Korea Selatan dan dolar Hong Kong 0,01%.

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah bertahan dan menguat tipis 0,08% di posisi Rp18.061/US$ pada 07:10 WIB. Tak lama berselang, rupiah offshore kembali melemah tipis 

Di sisi lain sikap pasar masih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. Namun kabar bahwa pengiriman oli dari Timur Tengah belum mengalami gangguan signifikan, walau Iran semakin sering melancarkan serangan, sempat memberi ruang penguatan pada aset-aset di Asia.

Kemarin, arus modal dari investor global masuk ke sejumlah pasar saham negara berkembang di Asia. Seperti Korea Selatan mencatatkan pembelian bersih saham tertinggi dalam sebulan, hingga US357 juta, disusul aksi beli di pasar obligasi Negeri Ginseng senilai US$95,8 juta. 

Di Asia Tenggara, investor global juga membukukan pembelian bersih saham Thailand sebesar US$46juta, Malaysia US$10,7 juta, Vietnam US$7,51 juta, dan Filipina US$7,97 juta. Thailand juga mencatat pembelian obligasi oleh investor senilai US$180,8juta, sementara Indonesia mencatat pembelian saham senilai US$693 ribu. 

Sebaliknya, arus dana di pasar saham India dan Taiwan justru tertekan. Investor global mencatat penjualan bersih saham India senilai US$43,6 juta, pada awal pekan ini, meski tetap melanjutkan aksi beli di pasar obligasinya senilai US$85,2 juta, kemarin. Adapun di Taiwan, investor global melepas saham senilai SUS$85,2 juta kemarin, dan memperpanjang tren penjualan jadi 11 hari beruntun. 

Mata Uang Asia & Rupiah

Di tengah pergerakan arus modal ini, terlihat bahwa minat investor terhadap aset negara berkembang mulai terpecah. Korea Selatan dan Thailand jadi dua pasar yang paling menonjol dari sisi aliran modal, sedangkan Taiwan justru tengah menghadapi tekanan jual yang persisten. 

Indonesia masih mencatat pembelian saham hanya sekitar US$693ribu, artinya dukungan portofolio belum sepenuhnya kuat. Saat ini ,rupiah cukup defensif dan berhasil mempertahankan posisinya di sekitar Rp18.000/US$.

Akan tetapi, sikap Bank Indonesia (BI) yang ambigu dengan menjalankan kebijakan campuran berpotensi membuat penguatan rupiah tertahan. Sikap BI mempertahankan BI Rate tetapi menjalankan kebijakan pelonggaran likuiditas dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dari 9% jadi 7%.

Sementara itu, meski BI Rate tidak naik, BI melakukan kebijakan pengetatan tambahan dengan menaikkan Deposit Facility 25 basis poin (bps) jadi 5%. Kenaikan ini meningkatkan insentif bagi bank untuk menempatkan dananya di BI. Maklum, BI masih kini perlu menjalankan mandat menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Penekan rupiah lainnya adalah sentimen terkait MSCI yang berpotensi menurunkan peringkat pasar saham Tanah Air ke standalone market belum sepenuhnya reda. Hari ini, sikap pasar diperkirakan masih akan berhati-hati yang ditandai dengan konsolidasi rupiah dan aksi jual di pasar obligasi.  


Sumber: www.bloombergtechnoz.com