Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Astra Motor Dorong Standarisasi Nasional Keselamatan Berkendara, Semarang Jadi Pilot Project

PedomanBengkulu.com, Semarang — Peresmian Astra Motor Safety Riding Center Jawa Tengah di Semarang, Rabu (15/7/2026), menandai langkah strategis Astra Motor dalam mendorong sistem edukasi keselamatan berkendara yang lebih terstruktur dan berorientasi nasional.

Fasilitas ini tidak sekadar menambah sarana pelatihan, tetapi menjadi pilot project bagi pembentukan model edukasi yang terintegrasi—sesuatu yang selama ini masih menjadi celah dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Di tengah tingginya angka kecelakaan di berbagai daerah, kehadiran pusat pelatihan ini menggeser peran industri otomotif. Tidak lagi hanya sebagai penyedia produk, tetapi juga sebagai aktor yang ikut bertanggung jawab dalam membentuk perilaku berkendara masyarakat secara sistematis.

Chief Executive Astra Motor, Robien Tony, menegaskan bahwa keselamatan berkendara tidak bisa hanya dibebankan kepada individu pengguna jalan. Dibutuhkan ekosistem edukasi yang konsisten, berkelanjutan, dan memiliki standar yang bisa diterapkan secara luas.

Selama ini, edukasi keselamatan di Indonesia masih bersifat sporadis—kampanye sesaat, pelatihan terbatas, dan minim kesinambungan. Safety Riding Center di Semarang mencoba memutus pola tersebut dengan menghadirkan pendekatan terintegrasi, mulai dari teori, simulasi berbasis teknologi, hingga praktik langsung di lintasan yang dirancang menyerupai kondisi jalan nyata.

Dari perspektif nasional, pendekatan ini membuka peluang lahirnya standarisasi pelatihan keselamatan berkendara. Artinya, kualitas edukasi tidak lagi bergantung pada inisiatif lokal yang berbeda-beda, melainkan dapat diseragamkan dan diperluas ke berbagai wilayah.

Langkah ini juga menyasar akar persoalan yang selama ini kerap diabaikan, yakni pembentukan perilaku sejak dini. Kehadiran Kids Traffic Park menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang untuk menanamkan budaya keselamatan sejak usia anak.

Hal ini krusial, mengingat persoalan keselamatan berkendara di Indonesia bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga budaya. Banyak pelanggaran terjadi bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kebiasaan yang terus berulang.

Selain itu, integrasi fasilitas seperti ruang komunitas hingga bengkel AHASS menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya dibangun melalui pelatihan formal, tetapi juga melalui interaksi sosial dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, satu fasilitas tentu tidak cukup untuk mengubah wajah keselamatan berkendara secara nasional. Namun sebagai pilot project, langkah ini menjadi fondasi awal.

Jika direplikasi secara konsisten di berbagai daerah, model ini berpotensi melahirkan sistem edukasi keselamatan berkendara yang lebih kuat, terukur, dan berdampak luas.