Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Pidato Presiden dan Ikhtiar Menjemput Keberkahan Bangsa

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul patut diapresiasi sebagai penegasan arah pembangunan yang berpihak pada rakyat. Presiden dengan jelas mengingatkan bahwa tujuan pembangunan nasional tidak boleh berhenti pada angka-angka pertumbuhan atau label negara berpendapatan tinggi, melainkan harus bermuara pada meningkatnya kualitas hidup rakyat secara nyata.

Penekanan pada tiga pilar kesejahteraan, yakni Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, dan pendidikan yang merata, menunjukkan kesadaran bahwa negara hadir sejak dari hulu kehidupan rakyat. Ini adalah fondasi penting untuk membangun manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan bermartabat.

Apresiasi juga layak diberikan pada dorongan kuat Presiden terhadap kemandirian nasional. Swasembada pangan dan energi ditegaskan sebagai fondasi transformasi bangsa, sementara penanganan sampah melalui gerakan Indonesia ASRI menunjukkan keseriusan pemerintah melihat persoalan lingkungan sebagai isu strategis, bukan sekadar urusan teknis. Arahan ini menuntut kepemimpinan daerah yang disiplin, selaras, dan berani mengambil tanggung jawab.

Dalam soal integritas, Presiden bersikap tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Pesan bahwa kepemimpinan adalah pengabdian, bukan sarana memperkaya diri atau kelompok, merupakan peringatan keras bagi seluruh elit. Sikap keras terhadap potensi kecurangan dan korupsi di tubuh BUMN serta ajakan persatuan lintas politik untuk pengentasan kemiskinan menunjukkan bahwa moral kepemimpinan ditempatkan sebagai pilar utama keberhasilan pembangunan.

Di tengah situasi geopolitik global yang kian tidak menentu, arahan Presiden agar Indonesia tetap waspada namun teguh pada politik bebas aktif adalah langkah realistis dan bijak. Penekanan pada sinergi pusat dan daerah dalam mengimplementasikan Asta Cita menjadi kunci menjaga stabilitas nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Namun, di balik seluruh agenda besar tersebut, ada satu dimensi mendasar yang patut terus dihadirkan secara lebih eksplisit dalam kepemimpinan nasional: perbaikan hubungan bangsa ini dengan Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Pembangunan sejati tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah. Sila pertama Pancasila bukan sekadar asas formal, melainkan sumber nilai, arah moral, dan energi spiritual bangsa.

Mengajak rakyat Indonesia untuk kembali memperkuat keimanan, kejujuran, amanah, dan kesadaran bahwa kekuasaan adalah titipan Allah akan menjadi penguat utama seluruh kebijakan negara. Dari hubungan yang baik dengan Tuhan itulah lahir ketenangan batin rakyat, persatuan yang tulus, serta keberkahan dalam ikhtiar nasional. Dan dari sanalah pula, pertolongan Allah ta’ala pasti akan turun untuk menolong Indonesia menghadapi tantangan di dalam dan luar negeri yang kian kompleks.

Pidato Presiden telah memberi arah yang jelas bagi pembangunan bangsa. Harapannya, arah tersebut terus disempurnakan dengan ajakan moral dan spiritual, agar Indonesia tidak hanya maju dan kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga kokoh secara iman dan akhlak, menuju kebahagiaan rakyat lahir dan batin.