Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Bengkulu Berderai Air Mata di Tengah Antrean BBM: Sebuah Ironi di Bumi Merah Putih

 

Lebih dari sekadar antrean, ini adalah nestapa yang tak berkesudahan bagi warga Bengkulu. Di SPBU Jalan Jenderal Sudirman hingga Pelabuhan Pulau Baai, barisan kendaraan mengular tanpa ampun sejak fajar menyingsing. Seorang bapak berjaket lusuh, wajahnya menyimpan lelah tak terperi, duduk di trotoar, pandangannya kosong menembus cakrawala. Seorang ibu, dengan bayi terlelap di gendongan, setia menanti di bawah sengatan mentari, sesekali menyuapi buah hatinya dengan nasi bungkus yang telah mendingin.

Mengurai Benang Kusut Persoalan Bengkulu: Ketika Rantai Keadilan Terputus di Ujung Negeri

1. Distribusi yang Pincang: Ketidakadilan yang MerajalelaData dari Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel mengungkap fakta pahit: distribusi BBM bersubsidi ke Bengkulu kerap terhambat ganasnya ombak Selat Sunda, mengacaukan jadwal kedatangan kapal tanker. Ironisnya, keterbatasan infrastruktur tangki penyimpanan di Bengkulu memperparah keadaan, menjadikan cadangan BBM begitu rentan. Keterlambatan satu kapal saja sudah cukup untuk memicu krisis di seluruh kota.

2. Jerat Geografis dan Infrastruktur yang Terlupakan: Beban Ganda bagi BengkuluTopografi Bengkulu yang berbukit-bukit, diperparah dengan kondisi jalan yang memprihatinkan, membuat pendistribusian BBM ke pelosok-pelosok seperti Kaur, Seluma, atau Kepahiang menjadi mimpi buruk. Truk tangki seringkali menyerah di tengah jalan, terperangkap dalam lubang-lubang yang menganga. Ini adalah buah dari pembangunan infrastruktur yang berjalan lambat, bukti bahwa Bengkulu belum menjadi prioritas utama.

3. Pola yang Terus Berulang: Luka Lama yang Tak Kunjung SembuhSetiap tahun, terutama menjelang hari raya atau musim paceklik, kelangkaan BBM selalu menghantui Bengkulu. Media lokal seperti RBTV Bengkulu dan Kabar Bengkulu tak henti-hentinya memberitakan hal ini. Namun, solusi yang ditawarkan selalu bersifat sementara: penambahan kuota atau operasi pasar. Tidak ada upaya untuk mengatasi akar masalah, seperti pembenahan pelabuhan minyak Pulau Baai atau pembangunan tangki penampungan baru yang memadai. Ini adalah cermin bahwa Bengkulu seringkali luput dari perhatian pemerintah pusat.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Ini adalah buah dari kesalahan pengelolaan yang kompleks.

- Pemerintah Pusat di Jakarta seolah tak mampu memahami betapa rentannya Bengkulu sebagai provinsi "ujung". Kebijakan distribusi BBM yang seragam untuk seluruh Indonesia jelas tidak sesuai dengan kondisi geografis Bengkulu yang unik. Ini adalah mismanajemen perencanaan yang tidak mempertimbangkan konteks wilayah.

- Pemerintah Daerah seringkali hanya bisa pasrah dan menyalahkan pusat. Kurangnya koordinasi dan kemampuan untuk memperjuangkan kepentingan Bengkulu memperburuk keadaan.

- Pelaku Distribusi di lapangan, meski telah berupaya sekuat tenaga, terhambat oleh sistem logistik yang kaku dan tidak mampu beradaptasi dengan kondisi lokal. Akibatnya, bantuan sering datang terlambat.

Mengapa Masalah Ini Tak Kunjung Usai? 

Kita patut merenungkan pesan WR. Soepratman. Kita mampu membangun jalan tol Trans Sumatera yang megah, tetapi jika semangat untuk melayani rakyat di daerah terpencil seperti Bengkulu tidak tumbuh, maka pembangunan fisik itu menjadi hampa. Anggaran triliunan rupiah untuk infrastruktur nasional tidak akan berarti apa-apa jika mentalitas "Jakarta-sentris" dan ego sektoral masih bercokol di benak para pengambil kebijakan.

Rakyat Bengkulu, dengan kesabaran dan keteguhannya yang luar biasa, bagaikan "anak ayam yang mati kelaparan di lumbung padi". Mereka hidup di negeri yang kaya, namun menderita karena kekurangan BBM, sumber kehidupan yang esensial.

Solusi untuk Bengkulu: Benahi Sistem, Bangkitkan Jiwa

Selain perbaikan infrastruktur lokal yang mendesak, hal terpenting adalah menumbuhkan jiwa kepahlawanan dalam diri para pemegang amanah.

MQG Training, dengan pelatihan spiritual intensif selama 3 hari dan pendampingan selama 120 hari, hadir untuk menjawab tantangan ini. Pelatihan ini sangat penting bagi para birokrat, politisi, dan pelaku usaha, untuk membangkitkan kembali semangat melayani, memegang amanah, dan pantang menyerah.

Bengkulu memerlukan pejabat yang memiliki jiwa kepahlawanan seperti Bung Tomo, mereka yang berani berteriak lantang memperjuangkan hak rakyat Bengkulu hingga ke tingkat nasional. Mereka tidak akan tinggal diam melihat rakyatnya berjam-jam mengantre BBM.

Dengan jiwa yang terbangun, pembangunan fisik untuk Bengkulu—infrastruktur energi, jalan, pelabuhan—akan dilaksanakan dengan sepenuh hati, bukan sekadar proyek formalitas. Dengan demikian, kekayaan negara dapat dirasakan oleh setiap warga, mulai dari nelayan di Pulau Enggano, petani cengkeh di Kaur, hingga sopir angkot di Kota Bengkulu.

Bengkulu membutuhkan pahlawan saat ini. Bukan pahlawan yang mengangkat senjata, apalagi tukang demo tetapi pahlawan yang memiliki jiwa besar untuk membangun negerinya sendiri. Wallahu a'lam.

Selamat Hari Pahlawan, Allahu Akbar.

Saeed Kamyabi