Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Legenda Romeo dan Juliet Ala Nusantara

Masyarakat Italia punya legenda yang termasyhur ke berbagai belahan dunia: Romeo and Juliet. Rupanya, Nusantara juga punya legenda nyaris serupa, bahkan lebih heroik. Yaitu: kisah Datu Museng dan Maipa Deapati.

Mengambil latar Kerajaan Gowa (Makassar) dan Sumbawa (NTB) pada abad ke-17, yang beririsan dengan masuknya kolonialisme di bumi Nusantara, kisah Datu Museng dan Maipa tidak hanya menyuguhkan betapa kokohnya bangunan cinta dua anak manusia, tetapi juga tentang semangat anti-kolonialisme.

Kala itu Kerajaan Gowa, di bawah kekuasaan Sombangta I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Djalil Tumenanga Ri Lakiung, punya armada laut yang tangguh.

Banyak pemuda dari penjuru Nusantara bergabung dengan armada laut Nusantara. Salah satunya pemuda dari Sumbawa, Ade Arrangan. Dia memperkuat armada laut Gowa di Galesong.

Tinggal di Gowa, Arrangan jatuh hati pada perempuan setempat. Dia pun menikahinya. Kelak, salah satu putranya, Karaeng Gassing, juga menikahi gadis Gowa. Karaeng Gassing inilah yang melahirkan putra bernama I Baso Mallarangang alias Datu Museng.

Ketika I Baso masih belia, kedua orang tuanya dibunuh oleh Belanda. Demi keselamatan cucunya, Ade Arrangan memboyong I Baso ke tanah Sumbawa. Kemudian hari, I Baso tumbuh dewasa dengan nama Datu Museng.

Datu Museng pertama-kali bertemu dan tertambat hatinya pada Maipa, anak kandung Sultan Sumbawa, saat keduanya belajar ilmu agama di sebuah Surau. Tetapi cinta keduanya tercegat oleh jurang kelas sosial yang berbeda. Ditambah lagi, Maipa sudah dijodohkan dengan sepupunya sesama bangsawan, Mangalasa.

Mengetahui pujaan hatinya sudah menyerah cinta pada pemuda lain, Mangalasa marah. Kakek Datu Museng, Ade Arrangan, khawatir kemarahan Mangalasa berujung pertikaian dengan Datu Museng. Akhirnya, atas anjuran kakeknya, Datu Museng berlayar ke Negeri Arab untuk memperdalam ilmu.

Namun, siapa yang bisa membunuh benih cinta yang tumbuh dalam taman sari asmara dua anak muda. Lama tak bersua, cinta keduanya tetap tumbuh kokoh. Dengan cinta yang tak padam, Datu Museng kembali ke tanah Sumbawa.

Ditinggal kekasih, rupanya Maipa jatuh sakit. Hanya pertemuan dengan Datu Museng yang bisa menyembuhkan sakitnya. Akhirnya, sang Sultan pun menyerah. Sang Raja merestui Maipa dan Datu Museng bertemu. Bahkan keduanya dibolehkan menikah.

Tak lama setelah menikah, Datu Museng dan Maipa berlayar ke tanah Makassar. Dia ditugasi memperkuat armada perang Kerajaan Gowa melawan serangan Belanda. Namun, karena taktik adu-domba, pelan-pelan Belanda berhasil mendesak armada perang Kerajaan Gowa.

Siapa sangka, di tengah perang yang berkecamuk, kecantikan Maipa telah menggoda seorang perwira Belanda, yang dipanggil To’malompoa (orang besar). Berbagai cara dipakai To’malompoa untuk menyingkirkan Datu Museng, demi mendapatkan Maipa.

Orang-orang pemberani, yang disebut tubarani, direkrut oleh To’malompoa untuk menumpas pemberontakan Datu Museng. Salah satunya bernama Karaeng Galesong. Tetapi upaya itu juga tidak berhasil.

Akhirnya, To’malompoa mengerahkan pasukan besar-besaran. Pasukan Datu Museng terdesak. Dalam keadaan sudah terjepit oleh koalisi Belanda-Karaeng Galesong, Maipa mengajukan permintaan kepada suaminya: dia rela mati di tangan suaminya, ketimbang kulitnya disentuh orang Belanda.

“Datuku, jangan ragukan ketulusan Maipamu. Aku rela pergi mendahuluimu, merintis jalan menuju tempat yang telah ditentukan oleh Maha Pencipta. Junjunganku Datu, aku rela mati di tanganmu. Tuhan jadi saksi, bahwa kuharamkan kulitku ini disentuh Balandaya (Belanda).”

Karena permintaan istrinya dan juga sudah terjepit oleh Belanda, Datu Museng pun menusukkan badik kecil ke leher perempuan paling dicintainya. Dalam keadaan sekarat, Maipa mencoba membesarkan hati suaminya:

Daengku Datu Museng, permata hatiku. Takkan ku gentar walau jiwa melayang. Kebimbangan telah kucampakkan, sebab keyakinan telah kupastikan. Perahu kematian siap kutumpangi. Kemudi telah ku…kuh di tangan. Telah kutetapkan haluan menyongsong tujuan, pada kematian yang hangat dan menyenangkan.

Tak lama kemudian, Maipa jatuh tak bernyawa dalam pangkuan suaminya. Betapa terpukulnya hati Datu Museng kehilangan istri tercinta. Namun, perlawanan tetap dikobarkan. Pantang menyerah kepada penjajah!

Akhirnya, setelah perlawanan sangat sengit, Datu Museng tertikam tombak Karaeng Galesong. Dalam detik-detik terakhir dijemput ajal, Datu Museng berkata:

Karaeng Galesong, semoga hanya engkaulah Mangkasara’ yang mata hatinya digelap–butakan oleh orang-orang  yang mau menjajah kita. Maipa Deapati, kasihku, selamat  berjumpa.”

***


Kisah Datu Musang-Maipa kaya dengan nilai. Tidak hanya kesetiaan, pengorbanan, tetapi juga semangat anti-kolonialisme.

Tidak sulit untuk menyimpan kisah itu dalam memori kolektif kita. Di Makassar, ada jalan Datu Museng, yang tepat berada di bibir pantai Losasi Makassar. Dan diujung jalan itu ada situs makam yang dipercaya sebagai makam Datu Museng dan Maipa.

Tidak hanya itu, kisah Datung Museng dan Maipa selalu dituturkan secara turun-temurun lewat Sinrilik–seni bertutur masyarakat Makassar yang kadangkala diiringi alat musik.

Namun, patut disayangkan, kisah Datu Museng dan Maipa tidak begitu populer. Tidak begitu dikenal oleh masyarakat Nusantara di luar Bugis-Makassar dan Sumbawa.

Dan sebentar lagi, lewat rumah produksi Art2Tonic, kisah Datu Museng dan Maipa akan tayang di layar lebar. Tetapi patut disayangkan, pemeran Datu Museng dalam film tersebut adalah aktor Bollywood berkebangsaan India, Shaheer Sheikh. Seolah tidak ada pemuda Nusantara yang cocok memerankan sosok pemuda Makassar yang setia, pemberani dan anti-kolonialis tersebut. [Mahesa Danu/Berdikari Online]

Foto Perpustakaan Digital Budaya Indonesia