PedomanBengkulu.com, JAKARTA -- Kopi menjadi salah satu minuman favorit karena bisa membantu menjaga fokus. Di tengah kebiasaan tersebut, muncul anggapan bahwa konsumsi kopi secara rutin dapat membebani atau bahkan merusak fungsi hati. Apakah klaim itu akurat secara medis?
Pakar gizi dari IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, mengatakan pada kebanyakan orang dewasa, konsumsi kopi dalam jumlah wajar justru dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Menurut dia, anggapan bahwa kopi dapat merusak hati tidak sepenuhnya sesuai dengan bukti ilmiah yang ada.
"Salah satu anggapan yang paling sering muncul adalah bahwa kopi dapat merusak hati. Pada konsumsi yang wajar, bukti ilmiah justru menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan risiko fibrosis hati yang lebih rendah," kata Widya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (8/10/2026).
Widya mengungkap, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi kopi cenderung berisiko lebih rendah mengalami fibrosis atau jaringan parut pada hati serta sirosis. Bahkan salah satu penelitian pada pasien perlemakan hati, konsumsi kopi dikaitkan dengan risiko fibrosis yang lebih rendah sekitar 35 persen.
"Penelitian oleh Bravi et al juga menemukan bahwa konsumsi kopi menurunkan risiko penyakit hati, termasuk kanker hati, meskipun penelitian yang ada masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian dengan subjek yang lebih besar," kata Widya.
Meski memiliki potensi manfaat, bukan berarti kopi dapat dikonsumsi tanpa batas. Jumlah kafein yang masuk ke tubuh tetap perlu diperhatikan. Widya mengatakan konsumsi kafein hingga sekitar 300-400 miligram per hari atau setara 2-3 cangkir kopi masih dapat ditoleransi orang dewasa sehat.
"Hal ini sejalan dengan panduan Food and Drug Administration (FDA) yang menyebut konsumsi kafein hingga sekitar 400 miligram per hari umumnya tidak menimbulkan efek negatif bagi sebagian besar orang dewasa sehat," ujar Widya.
Namun, batas tersebut tidak bisa diterapkan secara sama kepada setiap orang. Mereka yang mengalami jantung berdebar, gangguan irama jantung, sulit tidur, mudah gelisah, asam lambung, maupun gastroesophageal reflux disease (GERD) disarankan membatasi konsumsi kopi atau kafein.
"Lalu pada ibu hamil, kafein disarankan tidak melebihi 200 milihram per hari dari seluruh sumber, termasuk kopi, teh, dan cokelat," kata Widya.
Selain jumlah kafein, cara mengonsumsi kopi juga perlu menjadi perhatian. Kopi yang ditambahkan banyak gula, sirup, krimer, atau susu tinggi kalori dapat meningkatkan asupan gula dan kalori secara signifikan.
Jika dikonsumsi berlebihan, asupan tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah metabolik, termasuk resistensi insulin. Karena itu, manfaat kopi terhadap kesehatan liver tidak bisa dilihat secara terpisah dari pola konsumsi dan gaya hidup secara keseluruhan.
Menurut Widya, menjaga pola makan, berat badan, serta aktivitas fisik tetap jauh lebih penting dalam memelihara kesehatan hati. "Fondasi utama kesehatan hati tetap melalui menjaga berat badan sehat, makan bergizi seimbang, berolahraga rutin, membatasi alkohol, serta mengontrol diabetes, kolesterol, dan penyakit metabolik lainnya," kata dia.
Dia menyebut penurunan berat badan sekitar 5-10 persen pada orang yang kelebihan berat badan dapat berdampak positif pada hati. Widya juga meluruskan anggapan bahwa kopi berfungsi sebagai minuman "detoks" atau pembersh hati. Hati memang memiliki sistem alami untuk memproses dan membuang berbagai zat dari tubuh, tetapi kopi bukanlah minuman detoks dan tidak dapat dianggap sebagai pengobatan penyakit hati.
"Jadi konsumsi kopi dalam jumlah wajar dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat bagi sebagian besar orang dewasa. Tetapi, kopi bukan pengganti pola makan sehat, aktivitas fisik, pengendalian berat badan, maupun penanganan penyakit metabolik yang menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan lever," kata dia.
Sumber: ameera.republika.co.id
