PedomanBengkulu.com, Jakarta - Satu jam jelang pasar spot tutup di hari Senin (26/10/2026), pergerakan rupiah kian rapuh. Data Bloomberg pukul 14.08 WIB menunjukkan rupiah diperdagangkan di level Rp18.125/US$ melemah 0,38%. Pelemahan siang ini mendekati rekor terendahnya di tahun 2026. Pada awal Juni lalu, rupiah sempat menembus Rp18.190/US$ dan menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Pemicu rupiah anjlok datang bersamaan dengan aksi jual yang terjadi di pasar surat utang dan saham. Di pasar surat utang, sebagian besar tenor mencatat kenaikan yield. Tenor 1 tahun naik 1,4 bps jadi 6,79%, disusul tenor 2 tahun naik 2,8 bps jadi 6,92%. Sementara tenor 3 tahun naik 1,5 bps jadi 7,09%.
Begitu juga tenor 10 tahun naik 1,3 bps jadi 7,46%. Bahkan yield tenor 9 tahun berada di 7,5% setelah naik 2,4 bps, jadi lebih tinggi daripada yield tenor 10 tahun. Bahkan investor asing telah tercatat melepas obligasi Indonesia senilai bersih US$203 juta pada 21 Oktober, berdasarkan data Kementerian Keuangan.
Setali tiga uang, arus keluar modal asing juga terjadi di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sekitar 1% di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing. Data bursa menunjukkan investor global mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia sebesar US$71 juta pada Jumat lalu.
Sumber tekanan rupiah dan aset Indonesia masih datang dari ketidakpastian dari rencana MSCI yang berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia hingga bisa keluar dari kategori emerging market.
Ancaman turunnya status pasar saham RI itu telah memicu penyesuaian portofolio oleh investor global, terutama dana investasi yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuannya.
Di sisi lain, dari eksternal, tingginya harga minyak mentah ikut memperberat tekanan terhadap rupiah siang ini. Harga Brent masih bertahan di sekitar US$115/barel, setelah sempat sentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir pada Jumat lalu di level Rp116/barel. Kenaikan harga komoditas energi ini semakin membayangi laju inflasi.
Kenaikan harga minyak dan bayang-bayang inflasi juga turut menekan sejumlah mata uang Asia. Peso Filipina melemah paling tajam, disusul rupiah, baht Thailand, rupee India, yen Jepang, dolar Singapura, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, won Korea Selatan dan yuan China berhasil defensif dan bertengger di zona hijau.
Pasar kini sedang menanti keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang sementara ini diperkirakan menahan suku bunga acuannya di 3,75-4%.
Namun, mengingat ancaman inflasi masih terus mengintai dengan harga minyak mentah bertahan tinggi, keputusan The Fed diperkirakan lebih mengarah pada hawkish hold. Mengingat laju inflasi bisa lebih tinggi akibat harga minyak naik, The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi tahun ini demi meredam gejolak inflasi.
Sumber: www.bloombergtechnoz.com

