PedomanBengkulu.com - Pernikahan di kalangan anak muda Indonesia kini punya wajah baru. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian kerja, tingginya angka pengangguran, hingga mahalnya harga rumah, Gen Z dan Milenial mulai mengubah prioritas hidup. Menikah sederhana, seperti sekadar menggelar akad di KUA kini bukan lagi hal tabu, melainkan pilihan realistis yang makin populer.
Menariknya, pergeseran tren ini ikut direspons oleh para pembuat perhiasan. Demi menjaga asa pasangan muda yang ingin mengikat janji suci, gramasi cincin kawin kini disesuaikan agar harganya tak menjulang tinggi.
Cincin Kawin Ramah Kantong
Di tengah fluktuasi dan lonjakan harga emas perhiasan, Cikini Gold Center (CGC) di Jakarta Pusat tetap ramai. Pada akhir pekan, lorong-lorong toko emas umumnya didominasi oleh pasangan muda yang berburu cincin kawin (wedding ring).
Namun, ada fenomena menarik di balik tingginya minat pasangan muda tersebut. Demi menyesuaikan anggaran pernikahan, terjadi pergeseran tren gramasi perhiasan yang dijual di pasar.
Suki, pemilik Toko Mas Suki di Cikini Gold Center pada Rabu (30/9), mengungkapkan bahwa pihak pabrik dan penjual kini memutar otak dengan memproduksi cincin kawin ber-gramasi super ringan agar harganya tetap terjangkau oleh konsumen.
"Daya beli konsumen sudah tidak bisa beli yang berat-berat lagi. Makanya disiasati, pabrik sekarang menawarkan gramasi yang lebih ringan," jelas Suki saat berbincang dengan merdeka.com
Ia menjelaskan, jika beberapa tahun lalu ukuran standar cincin nikah sepasang berkisar antara 6 hingga 10 gram, kini ukurannya 'disunat' drastis.
"Cincin nikah sepasang yang dulu umumnya 6 sampai 10 gram, sekarang ada yang cuma 2 gram sepasang (1 gram per cincin) supaya tetap terjangkau dan orang bisa tetap pakai saat acara," tambah Suki.
Pemangkasan gram emas ini menjadi angin segar bagi pasangan muda agar prosesi pernikahan tetap dapat berjalan tanpa membebani keuangan secara berlebihan.
Masihkah Emas Jadi Simpanan Ideal?
Menyikapi harga emas yang terus berfluktuasi, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyarankan masyarakat untuk tetap bijak dalam mengelola keuangan.
Emas dinilai masih menjadi instrumen simpanan yang sangat kuat di tengah gejolak ekonomi. Ibrahim menyarankan bagi masyarakat atau pasangan muda yang memiliki dana dingin, momentum fluktuasi harga emas saat ini dapat dimanfaatkan untuk membeli dan menabung emas secara bertahap.
“Merosotnya atau koreksinya harga emas sebenarnya merupakan kesempatan terbaik bagi masyarakat yang memiliki dana dingin untuk melakukan pembelian, terutama untuk simpanan jangka panjang,” ujar Ibrahim.
Emas tetap menjadi instrumen pelindung nilai (safe haven) yang kokoh di tengah geopolitik global dan ancaman inflasi. Namun, ia menekankan agar masyarakat memposisikan emas sebagai simpanan jangka panjang, bukan sekadar instrumen spekulasi jangka pendek.
Sumber: draft.blogger.com