Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Rupiah Melemah, Ekonom Nilai Tekanan Eksternal Jadi Penyebab: Ada Fenomena Strong Dollar

 

PedomanBengkulu.com- Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah di tengah tekanan pasar keuangan global. 

Pada awal perdagangan hari ini, Selasa (29/9/2026), rupiah spot dibuka di level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,12 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.978 per dolar AS. 

Pun dengan Senin (28/9/2026) kemarin, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan, ditutup di level Rp17.978 per dolar AS. 

Pergerakan nilai tukar rupiah ini, turut mengikuti tren mayoritas mata uang negara-negara Asia.

Merespons hal tersebut,ekonom menilai pelemahan tidak terlepas dari faktor eksternal, terutama menguatnya dolar AS terhadap mata uang negara-negara di dunia atau fenomena strong dollar.

Kondisi tersebut, turut menekan mata uang dan pasar saham domestik.

"Jadi memang kalau kita melihat hari kemarin, tekanan terhadap nilai tukar rupiah termasuk mata uang negara-negara lain akibat adanya fenomena strong dollar," kata Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov dalam Program Kompas Bisnis, Selasa.

Penguatan dolar AS ini, lanjut Abra, terjadi karena kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang saat ini sedang ekspansif. Lantaran kebutuhan terhadap kewajiban Amerika yang dinilai besar pula.

Kemudian, Abra menjelaskan, tekanan ini juga dipengaruhi kebijakan The Fed dan risiko inflasi di Amerika Serikat.

"Kedua, dari kebijakan bank sentral Amerika, The Fed, yang telah menaikkan suku bunga acuan dan akan ada potensi kenaikan lagi, karena memang Amerika saat ini resiko menghadapi inflasi sangat tinggi."

"Inflasi yang tinggi ini juga memang disebabkan karena ulah Amerika sendiri, di mana konflik antara Amerika dan Iran belum putus, artinya gangguan energi dunia masih ada tekanan," jelas alumnus Universitas Diponegoro itu.

Kondisi tersebut, juga dipengaruhi tingginya harga minyak mentah Brent yang menekan inflasi global.

"Sekarang kita tahu harga minyak mentah khususnya jenis brent yang masih di atas 100 dolar per barel. Bahkan di hari kemarin 106 dolar per barel ini memberikan tekanan terhadap inflasi global."

"Jadi di Amerika sebagian aktor utama yang menyebabkan tensi geopolitik dunia masih tinggi ini, juga terdampak. Akibatnya kenaikan inflasi tinggi di Amerika juga harus direspons dengan kebijakan bunga tinggi juga dari The Fed," imbuh Abra.

Oleh karena itu, Abra menilai faktor utama rupiah melemah pada hari Senin kemarin disebabkan dari tekanan eksternal.

Sementara itu, di dalam negeri, perhatian investor kini tertuju pada pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dan asumsi makroekonomi yang ditetapkan pemerintah bersama DPR.

"Saat ini pemerintah dengan DPR sedang membahas RAPBN 2027, di mana hari ini rencananya akan diketok, berbagai asumsi makroekonomi di tahun depan dan tentu investor melihat bagaimana keputusan Pemerintah dan anggota DPR untuk secara rasional menyepakati target-target pertumbuhan ekonomi juga inflasi termasuk juga asumsi terhadap nilai tukar rupiah," terang Abra.

Abra pun menilai, tekanan eksternal tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga negara lain.

Namun, kata Abra, yang perlu diwaspadai adalah antisipasi tekanan eksternal yang bisa berlangsung berkepanjangan karena dapat membatasi ruang kebijakan moneter dan fiskal.

BI: Fundamental hingga Faktor Eksternal Penyebab Rupiah Tertekan
Dari pihak Bank Indonesia mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak bisa hanya direspons melalui kenaikan suku bunga. 

Pasalnya, BI melihat masih terdapat persoalan fundamental dan struktural dalam perekonomian yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar. 

Namun, masih terdapat ruang bagi pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.

"Kenapa kami juga tidak menaikkan suku bunga? Karena kami melakukan assessment bahwa ekonomi kita ini masih bergerak di bawah potensial levelnya, atau output gap-nya masih negatif," Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026), 

Menurutnya, kenaikan suku bunga justru dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan asesmen Bank Indonesia (BI), setiap kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen.

Karena itu, BI memilih mengoptimalkan sejumlah instrumen kebijakan lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Salah satunya melalui pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging cost) bagi aliran dana yang masuk ke Indonesia.

Destry mengatakan, kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam sekitar satu bulan sejak diberlakukan, BI telah melihat aliran dana masuk sekitar US$ 6 miliar melalui instrumen swap maupun DNDF (Deliverable Non-Deliverable Forward).

Namun, Destry menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih ada. 

Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari sejumlah persoalan fundamental dan struktural, terutama yang berkaitan dengan sektor eksternal. 

"Kalau intervensi sebesar-besarnya, tapi kalau sektor eksternal kita juga masih lemah, itu akan berat," katanya. 

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor eksternal. Perkembangan pasar global serta penguatan dolar AS dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar, sehingga upaya stabilisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing.

Destry menjelaskan, Bank Indonesia (BI) kini berupaya mengurangi penggunaan intervensi spot yang dinilai membutuhkan biaya lebih besar.

Sebagai gantinya, BI memperluas penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mendorong masuknya aliran modal ke Indonesia.

Meski demikian, Destry menegaskan bahwa kebijakan insentif hedging tersebut bersifat sementara. 

Kebijakan itu akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan data serta dampaknya terhadap kondisi perekonomian secara keseluruhan.

sumber: m.tribunnews.com