Memahami Arti Retret: Dari Tradisi Spiritual ke Ruang Publik
Belakangan ini, istilah "retret" menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Perbincangan ini dipicu oleh penggunaannya dalam program pembekalan kepala daerah yang digagas Presiden Prabowo Subianto di Akademi Militer Magelang, kemudian dilanjutkan dengan eksekusi Gubernur Bengkulu Helmi Hasan yang telah melaksanakan program serupa di wilayahnya untuk kalangan ASN dan Pelajar, dengan tambahan istilah mitigasi langit.
Lalu, apa sebenarnya arti retret?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), retret didefinisikan sebagai "khalwat mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin" dan dalam entri tersebut diberi label "Kris" yang menandakan kata ini awalnya dikenal dalam konteks agama Kristen . Secara etimologis, kata ini berakar dari bahasa Latin re-trahere yang berarti "menarik kembali" atau "mengundurkan diri". Dalam tradisi Kristen, retret memang telah lama dipraktikkan sebagai sarana berefleksi, berdoa, dan berdialog dengan Tuhan, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari .
Namun, jika kita merujuk pada kamus bahasa Inggris Merriam-Webster, retreat juga memiliki makna yang lebih luas: "a period of group withdrawal for prayer, meditation, study, or instruction under a director" (suatu periode pengasingan kelompok untuk berdoa, bermeditasi, belajar, atau menerima pengajaran di bawah bimbingan seorang pembimbing).
Definisi ini menunjukkan bahwa esensi retret sebenarnya bersifat universal: menyediakan ruang dan waktu khusus untuk refleksi, pembelajaran, dan pembaruan komitmen.
Retret dalam Konteks Kepemimpinan Nasional dan Daerah
Presiden Prabowo Subianto menggunakan istilah retret untuk kegiatan pembekalan Kabinet Merah Putih dan para kepala daerah di Magelang. Tujuannya jelas: membangun sinergi, soliditas, dan pemahaman bersama antara pemerintah pusat dan daerah agar dapat bekerja harmonis fokus pada kepentingan rakyat . Bahkan setelah satu tahun pemerintahan berjalan, Presiden berencana menggelar retret kembali karena para menteri dinilai telah merasakan manfaatnya .
Mengikuti jejak tersebut, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan telah menerapkan konsep serupa di daerahnya dengan sasaran yang lebih luas: pejabat pemerintahan, kepala desa, pelajar, mahasiswa, hingga ASN . Helmi menegaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat tim, menghilangkan distorsi pemikiran maupun gerakan, membangun jejaring, dan menyamakan persepsi tentang pembangunan daerah hingga ke tingkat desa .
Ketika Istilah "Retret" Diprotes
Penggunaan istilah retret oleh pemerintah tidak luput dari protes. Sebagian kalangan keberatan karena menganggapnya sebagai "istilah Kristen" yang diadopsi ke dalam program pemerintah. Kekhawatiran ini muncul karena memang dalam KBBI sekalipun, label "Kris" melekat pada kata tersebut .
Namun, apakah tepat jika kita mempersoalkan sebuah istilah hingga melupakan substansi dan manfaat dari kegiatan itu sendiri? Bukankah sejarah membuktikan bahwa kekayaan bahasa Indonesia justru terletak pada kemampuannya menyerap berbagai istilah dari beragam sumber, termasuk dari tradisi keagamaan, tanpa kehilangan identitas?
Istilah Baik Bersifat Universal
Dalam konteks kebangsaan, penting untuk dipahami bahwa banyak istilah yang awalnya berasal dari tradisi agama tertentu telah digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi makna keagamaannya atau mengganggu keyakinan pemeluk agama lain. Inilah bukti kematangan bangsa Indonesia dalam mengelola keberagaman.
Umat Kristiani di Indonesia juga menggunakan banyak istilah yang berasal dari tradisi Islam atau bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam liturgi ibadah mereka.
Beberapa contohnya antara lain:
1. Allah - Umat Kristen di Indonesia, khususnya di wilayah timur, menggunakan kata "Allah" untuk menyebut Tuhan dalam ibadah mereka. Ini adalah kata Arab yang telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia.
2. Injil - Berasal dari bahasa Arab al-injil, digunakan oleh umat Kristen untuk menyebut kitab suci mereka.
3. Zabur - Digunakan dalam konteks Kristen untuk merujuk pada kitab Mazmur.
4. Rohulkudus - Istilah Arab ini digunakan umat Kristen Indonesia untuk menyebut Roh Kudus.
5. Ibadah - Kata ini digunakan secara luas oleh umat Kristen Indonesia untuk menyebut kegiatan peribadatan mereka.
6. Jemaat - Berasal dari bahasa Arab jama'ah, digunakan untuk menyebut kumpulan umat.
7. Khalilullah - Menariknya, dalam tradisi Islam istilah ini digunakan untuk Nabi Ibrahim AS sebagai "kekasih Allah" . Sementara dalam tradisi Kristen, konsep "kekasih Allah" juga dikenal dalam relasi Tuhan dengan hamba-Nya.
8. Protestan - Bahkan istilah "Protestan" sendiri sering disalahpahami sebagai "protes", padahal berasal dari bahasa Latin pro testor yang berarti "memberi kesaksian" tentang hal-hal yang benar . Ini menunjukkan bahwa pemaknaan suatu istilah tidak bisa hanya dilakukan secara parsial.
Selain contoh di atas, banyak istilah yang awalnya bersifat religius kemudian menjadi universal:
· Kontemplasi - Digunakan secara luas dalam dunia filsafat, seni, dan pengembangan diri, meskipun berakar dari tradisi spiritual.
· Meditasi - Praktik yang berasal dari tradisi Timur kini digunakan secara universal untuk kesehatan mental.
· Refleksi - Istilah yang digunakan di berbagai bidang, dari pendidikan hingga manajemen, untuk merujuk pada perenungan mendalam.
· Pembinaan - Konsep membina mental dan spiritual telah menjadi istilah umum dalam pengembangan sumber daya manusia.
Retret Merah Putih dan Amalan Mitigasi Langit Bengkulu: Hasil Nyata yang Tak Terbantahkan
Daripada mempersoalkan istilah, lebih bijak jika kita melihat hasil konkret dari program Retret Merah Putih yang telah dilaksanakan di Provinsi Bengkulu. Fakta di lapangan menunjukkan dampak positif yang signifikan dari program ini.
Pemerintah Provinsi Bengkulu di bawah kepemimpinan Gubernur Helmi Hasan telah melaksanakan Retret Merah Putih secara berkelanjutan. Berdasarkan data terbaru, program ini telah berjalan dengan capaian sebagai berikut:
· ASN Pria: Telah diikuti sekitar 700 ASN pria dalam sebelas angkatan .
· Pelajar SLTA: Program serupa untuk kalangan pelajar SMA/SMK se-Bengkulu telah menyelesaikan angkatan ke-17 dengan total 1794 peserta .
· ASN Muslimah: Pada awal Februari 2026, Retret Merah Putih angkatan perdana untuk ASN muslimah resmi dibuka di Mushola Alif Lam Mim, Komplek Perkantoran Gubernur Bengkulu, sebelum Ramadan telah me-retret 240 peserta dalam empat angkatan.
. Dilaporkan juga bahwa program serupa telah dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Tengah dan Kota Parepare Sulawesi Selatan.
Perubahan Mindset yang Signifikan
Yang lebih penting dari sekadar angka adalah perubahan mindset yang terjadi pada para peserta. Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni dalam sambutannya mengungkapkan pengalaman berharga dari para peserta:
"Pengalaman kami, kaum lelaki yang mengikuti retret tiga hari, banyak sekali yang baru sadar bahwa bacaan Al-Fatihah saja masih banyak yang salah. Apalagi adab-adab sunnah sehari-hari, banyak yang kurang perhatian. Ini momentum untuk koreksi dan perbaikan diri" .
Pengakuan ini sangat signifikan karena menunjukkan bahwa retret berhasil membuka kesadaran para peserta akan kualitas spiritual mereka. Bukan sekadar kegiatan seremonial, retret menjadi ruang introspeksi yang membawa perubahan nyata dalam pemahaman dan pengamalan keagamaan sehari-hari.
Retret Sebagai Instrumen Mewujudkan Visi Bengkulu
Program Retret Merah Putih di Bengkulu tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian integral dari visi besar Gubernur Helmi Hasan untuk menjadikan Bengkulu maju, religius, sejahtera dan berkelanjutan.
Demikian juga pelaksanaan Retret Merah Putih untuk ASN muslimah, melibatkan berbagai pihak: Sekretaris Daerah, Asisten I Khairil Anwar, Asisten III Nandar Munadi, Ketua Steering Committee RMP Ustadz Saeed Kamyabi, serta koordinator Dr. Nelly Alesa selaku Kadis Kominfo . Kolaborasi ini menunjukkan bahwa program berjalan dengan dukungan lintas sektor dan perencanaan yang matang.
Jangan Persoalkan Istilah, Lihatlah Hasil Positifnya
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah saatnya kita melampaui perdebatan semantik yang tidak produktif. Istilah "retret" hanyalah sebuah wadah; yang terpenting adalah isi dan hasil dari kegiatan tersebut.
Jika kita terus-menerus mempersoalkan asal-usul istilah, kita bisa kehilangan momentum untuk memetik manfaat dari program-program positif. Bayangkan jika umat Kristen di Indonesia menolak menggunakan kata "Allah" hanya karena kata tersebut juga digunakan oleh umat Islam, atau jika umat Islam keberatan menggunakan kata "inkulturasi" yang akarnya dari tradisi Latin. Keberagaman justru memperkaya, bukan memisahkan.
Yang dilakukan oleh Presiden Prabowo dengan retret kepala daerah dan Gubernur Helmi Hasan dengan Retret Merah Putih di Bengkulu adalah upaya serius membangun fondasi kepemimpinan yang kuat, berintegritas, dan bermoral. Ketika seorang ASN di Bengkulu menyadari kesalahan bacaan Al-Fatihahnya setelah mengikuti retret, lalu memperbaikinya, maka itu adalah pencapaian spiritual yang luar biasa. Ketika pelajar-pelajar Bengkulu mengikuti retret dan pulang dengan semangat baru untuk belajar dan berkontribusi kepada lingkungan, maka itu adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah.
Retret Dilaksanakan untuk Bengkulu yang Lebih Baik
Retret, apapun asal-usul istilahnya, telah terbukti menjadi instrumen efektif untuk membangun sumber daya manusia yang lebih berkualitas, baik dari sisi kepemimpinan maupun spiritualitas. Di Bengkulu, program Retret Merah Putih telah berjalan dengan sukses, menjangkau ratusan ASN dan ribuan pelajar, serta membawa perubahan mindset yang signifikan.
Pemerintah Provinsi Bengkulu di bawah Gubernur Helmi Hasan telah menunjukkan komitmen nyata untuk mewujudkan visi Bengkulu maju, religius, sejahtera dan berkelanjutan.
Program retret adalah salah satu instrumen strategis untuk membangun pondasi moral dan spiritual aparatur serta generasi muda sebagai modal utama pembangunan daerah.
Jangan terjebak dalam perdebatan istilah yang tidak berkesudahan. Sebaliknya, mari kita dukung setiap upaya positif yang bertujuan memajukan daerah dan menyejahterakan masyarakat. Retret Merah Putih di Bengkulu adalah bukti bahwa pembangunan mental dan spiritual berjalan beriringan dengan pembangunan fisik dan ekonomi.
Mari kita bersama-sama mendukung visi Bengkulu maju, religius, sejahtera dan berkelanjutan. Dukung program-program positif yang membangun karakter dan moral generasi bangsa.
Safari Ramadan Bintuhan, 20 Februari 2026
Saeed Kamyabi
