Oleh: Marusdi (Pengawas Madrasah)
Ada penyakit kronis yang sering menghinggapi mereka yang baru saja duduk di kursi jabatan: amnesia asal-usul. Tiba-tiba suara meninggi, telinga tertutup dari kritik, dan langkah kaki terasa lebih berat untuk turun ke bawah. Jabatan yang seharusnya menjadi alat perjuangan, seringkali diselewengkan menjadi tameng kekuasaan untuk memuaskan ego pribadi.
Sebagai pengawas yang bergerak di ranah pendidikan, saya perlu mengingatkan dengan keras: Jabatan Anda bukan hak milik, itu adalah utang yang harus dibayar lunas dengan kinerja, dan amanah yang akan dituntut di mahkamah Tuhan.
Jabatan: Antara Marwah dan Sampah
Kekuasaan itu seperti candu. Jika tidak dikendalikan oleh integritas, ia akan membuat pejabatnya mabuk. Banyak pejabat merasa bahwa dengan tongkat komando di tangan, mereka boleh bertindak sewenang-wenang atau memanipulasi keadaan demi citra.
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam hadis riwayat Bukhari: “Kalian akan ambisius terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat.” Jika hari ini Anda bangga dengan fasilitas yang melekat, bayangkan betapa beratnya penyesalan itu jika fasilitas tersebut hanya digunakan untuk kesombongan. Tanpa integritas, jabatan hanyalah tumpukan fasilitas yang akan berakhir menjadi sampah sejarah.
Sindrom "Minta Dilayani"
Indikator paling nyata dari pejabat yang gagal adalah munculnya sindrom "ingin dilayani". Mereka lupa prinsip Sayyidul qaumi khadimuhum—bahwa pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaum tersebut.
Di madrasah, pemimpin ada untuk memastikan guru bisa mengajar dengan tenang dan siswa belajar dengan nyaman—bukan untuk membuat semua orang sibuk mengurusi protokol kedatangan sang pejabat. Jika Anda lebih sibuk menuntut penghormatan daripada memberikan solusi atas masalah umat, maka Anda hanyalah "penguasa kecil" yang tersesat di ruang birokrasi.
Pertanggungjawaban: Di Atas Kertas dan Di Hadapan Pencipta
Jangan merasa aman hanya karena laporan pertanggungjawaban (LPJ) Anda terlihat bersih di atas kertas. Di balik angka-angka dan narasi formal, ada mata Tuhan yang tidak bisa dibohongi.
Ingatlah kisah Khalifah Umar bin Khattab yang gemetar memikirkan seekor keledai yang terperosok karena jalanan yang rusak. Bagaimana dengan kita? Bagaimana jika ada guru honorer yang dizalimi, atau hak-hak siswa yang terabaikan karena kebijakan kita yang salah sasaran? Setiap kebijakan yang mementingkan kelompok dan setiap rupiah yang disalahgunakan akan menuntut balas.
Penutup: Kembali ke Titik Nol
Berhentilah merasa besar karena jabatan. Sehebat apa pun jabatan Anda, itu tidak menambah inci tinggi badan Anda atau kecerdasan otak Anda secara otomatis. Jabatan hanyalah pinjaman.
Mari kita kembalikan marwah kepemimpinan di lingkungan kita. Gunakan tangan Anda untuk merangkul, bukan memukul. Gunakan lisan Anda untuk memotivasi, bukan mengintimidasi. Karena pada akhirnya, yang tersisa dari seorang pejabat bukanlah seberapa lama ia berkuasa, melainkan seberapa tulus ia telah menghamba pada amanah.
Jabatan itu ringan jika diniatkan ibadah, tapi akan sangat menghancurkan jika dijadikan alat pamer kuasa.
.webp)