Dalam kesempatan tersebut, Dewi Coryati menyoroti pentingnya penulisan sejarah Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan, dengan memberikan ruang yang proporsional bagi sejarah dan kontribusi daerah-daerah di Indonesia, termasuk Bengkulu.
“Bengkulu memiliki jejak sejarah, kerajaan, dan peran penting dalam perjalanan bangsa yang perlu diteliti dan ditulis secara komprehensif. Ini penting agar generasi muda mengenal identitas daerahnya sebagai bagian utuh dari sejarah Indonesia,” ujar Dewi Coryati.
Selain sejarah, Dewi Coryati juga menekankan urgensi revitalisasi museum, khususnya museum-museum di daerah. Ia menilai revitalisasi tidak cukup hanya pada perbaikan fisik bangunan, tetapi harus disertai konsep yang terukur, promosi yang berkelanjutan, serta kerja sama aktif dengan dinas pendidikan.
“Museum harus menjadi ruang belajar yang hidup, menyenangkan, dan relevan. Perlu ada kolaborasi dengan sekolah agar guru dan siswa rutin berkunjung, sehingga museum benar-benar berfungsi sebagai pusat edukasi dan literasi sejarah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dewi Coryati menyoroti peran strategis diplomasi budaya dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional. Ia mencontohkan bahwa elemen budaya seperti gamelan dan tari tradisional mampu menjadi jembatan komunikasi antarbangsa.
Pengalaman pribadinya dalam diplomasi budaya saat berada di Kuba menjadi bukti bahwa budaya Indonesia memiliki daya tarik dan kekuatan lunak (soft power) yang besar dalam membangun hubungan internasional.
“Budaya adalah bahasa universal. Melalui seni dan tradisi, Indonesia bisa lebih dikenal dan dihormati dunia,” jelasnya.
Sebagai penutup, Dewi Coryati berharap semarak budaya di Indonesia terus diperkuat, tidak hanya untuk menjaga identitas bangsa, tetapi juga sebagai strategi memperkuat diplomasi dan mendorong Indonesia menjadi negara yang semakin disegani di mata dunia. (**)
