Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Adakah Perdamaian di dalam Marxisme?


 

Catatan Awal; Istilah komunis dan penggunaan nama Marxis pada tulisan ini semata-mata menunjuk pada teori sosial semata

Eksordium

“Kritik yang berswa-sembada, yang lengkap dan sempurna, dengan sendirinya tidak boleh mengakui sejarah sebagaimana itu sesungguhnya terjadi, karena itu akan berarti mengakui massa yang rendah itu dalam segala kemassalannya yang padat, padahal persoalannya adalah menebus massa itu dari kemassalannya. Oleh karenanya sejarah telah dibebaskan dari kepadatannya, dan Kritik, yang mempunyai suatu sikap bebas terhadap obyeknya, menghimbau sejarah, dengan berkata: Anda semestinya terjadi secara demikian dan demikian! Semua hukum Kritik mempunyai kekuatan retro-aktif: sejarah berkelakuan berbeda sekali pada sebelum dan sesudah dekret-dekret Kritik. Karenanya sejarah padat, sejarah yang disebut sejarah sesungguhnya, sangat menyimpang dari sejarah Kritis,”
-Keluarga Suci, Marx-Engel 1845

Anjuran tentang revolusi proletar adalah usaha dalam memenangkan pertentangan kelas. Karena tidak mungkin akan didapatkan kesetaraan/egaliter didalam kelas sosial/struktur sosial ketika perdamaian dianjurkan seketika tanpa melihat pola simbiosis pertentangan klas.

Negara bagi Marxisme bisa dijelaskan sebagai komponen utama bagi para penguasa ekonomi untuk mempertahankan dominasinya. Tanpa ada negara maka sudah barang tentu tidak ada pertentangan klas, tidak ada tingkatan yang muncul didalam piramida sosial.

Hampir serupa, bagi Anarkisme dalam melihat negara. Bahi anarkism, Kekuasaan menerapkan standar moral bagi warga negaranya, dengan maksud dan tujuan memperkuat dominasinya terhadap kehendak bebas warga negara. Apapun itu standar yang ditetapkan, tidak bergantung pada penilaian warga negaranya.

Choamsky (Intelektual anarchisme) menyarankan warga negara, atau kelompok-kelompok kritis membangun standar moralnya sendiri. Maksudnya untuk membendung dominasi negara. Choamsky beranggapan bahwa tanpa negara, rakyat akan baik-baik saja. Pandangan ini relevan, jika kita melihat sokongan choamsky terhadap anarkism

Terlepas dari pandangan ideologis choamsky dan pandangan-pandangan dari tokoh kiri lainnya. Bahwa negara adalah alat bagi kelas dominan untuk melakukan dominasi serta kekerasan baik berbentuk kekerasan simbolik ataupun bersifat opresif. Potensi yang sama akan berlaku terhadap kelompok-kelompok kecil dimana potensi kritis dari kelompok-kelompok ini tidak dijaga.

Maka didalam revolusi proletar ataupun masyarakat lumpen proletar, anjuran utama puncaknya berada di penghapusan mahkluk bernama negara. Selama masa menuju tahap penghapusan, maka secara otoritatif kekuasaan di pegang oleh kaum proletar. Penerjemahnya bisa dikatakan dalam bentuk kekuasaan tunggal tanpa sanggahan/ otoritarian proletar. Otoritarian proletar ini, muncul didalam politik partai tunggal yakni Partai Komunis/anjuran bagi Komunism. Sedangkan bagi Anarkisme lahirnya kelompok-kelompok yang membentuk standar moralnya tersendiri berdasarkan fakta yang mereka pahami (Tafsir pribadi)

Sangat tidak mungkin ada istilah perdamaian sebelum munculnya masyarakat tanpa klas. Tentu masyarakat tanpa kelas adalah masyarakat tanpa negara. Sekali lagi, negara bagi marxisme maupun anarkisme adalah perwujudan otoritatif dari klas penguasa atau klas dominan untuk mempertahankan dominasinya.

Titik kritis konstitusi

Ide ini sebenarnya tidak relevan untuk dibicarakan sebagai upaya untuk merumuskan tindakan secara menyeluruh. Masyarakat dan negara menempati posisi antara seorang pemadat dan sebongkah candu. Kedua hal ini akan saling tarik-menarik, equal pada pemahaman teori konstitusionalism.

-Maksudnya, jika pengertian kita tentang konstitusi adalah kesepakatan. Maka kondisi apapun akan melahirkan konstitusi. Sehingga kehadiran negara tidak bisa dihindari.

Kontitusi juga bicara akomodatif. Artinya Kesetaraan/Equality telah di akomodir oleh negara dialam teks-teks konstitusi, atau nilai-nilai yang ada didalam masayarakat. dan ini dianggap sudah memenuhi kualifikasi equal tsb.

Puas atau tidak puas, konstitusionalism mengajarkan kesetaraan sebagai kewajiban bagi negara berdaulat. sederhananya tidak perlu lagi ada pertentangan atas nama ideologi. tidak perlu lagi masuk kedalam ruang diskursus membicarakan tafsir konstitusi. ruang diskursus hanya boleh membuka ruang tentang bagaimana penerapan konstitusi itu sendiri.

Tetapi mempercayai saja tafsir konstitusi secara sepihak, maka ini gejala menuju ruang monolog, dimana negara dalam anggapan teoritiknya telah berada pada posisi moderat. telah memoderasi semua pertentang klas kedalam teks konstitusi. bahwa semua orang telah setara di hadapan negara/hukum?

Logika kesepakatan social berwujud teks kontitusi ini, dilain pihak menjadi basis bagi masuknya kepentingan kontrak diluar jalur distribusi kesetaraan.

Sebagai induk dari semua peraturan Perundang-Undangan. Maka Konstitusi sebagai teks yang pertama kali akan dibengkokkan atau di-Amandemen jika ada kepentingan besar yang bertendensi dominatif.

Sederhananya, jika ingin melakukan penetrasi atau mengambil alih kekayaan suatu negara secara brutal tapi legal, maka ubahlah teks-teks yang tercatat sebagai pasal-pasal didalam konstitusi suatu negara tersebut. Sehingga apapun peraturan yang ditetapkan/ dibuat jika disamarkan dengan bahasa telah konstitusional, maka dia sah secara hukum?

Sejarah tidak akan mungkin berhenti di satu titik, atau mempertahankan satu episode drama kemanusian bisa berjalan secara rigid. Posisi equal sebagai titik sumbunya mensyaratkan kemampuan untuk tetap bertahan secara prima disetiap pertentangan. Tentu equal disini menurut hemat saya adalah intelektualitas. Jadi siapapun itu, dari klas manapun, dia akan tetap melihat kedalam intelektualism. Teralienasi bermakna tidak berada didalam intelektualism circle.

Makna intelektualisme adalah kemampuan menggerakkan pengetahuan untuk merumuskan, melakukan, tindakan perubahan secara terus menerus. Pertentangan berarti jalan sejarah yang tidak pernah berhenti dan menetap.

Marx, bisa jadi, melihat kehadiran masyarakat tanpa kelas, adalah semacam usaha untuk melakuakan pemaksaam dalam merumuskan jalan sejarah manusia. masyarakat tanpa klas adalah terminal akhir. demikian ide marx jika disederhanakan. Padahal equal dalam bahasa saya adalah kritik dan gerakan yang terus berjalan, walaupun negara itu telah berganti ideologi sekalipun.

Bukankah pemahaman kita didalam melihat alur sejarah dan dialektika seperti satu lingkaran, yang berputar tanpa henti.
Lingkaran ini jika dia putus, berhenti di sinthesa, maka tentu keberadaan sejarah manusia juga tidak lagi terpakai. Kehidupan akan berhenti, peradaban manusia akan habis.

Retorika Gramschian dan beberapa kajian dari post marxisme dalam melihat marxisme didalm politik, menurut saya adalah kenyataan utama dalam meletakkan konteks gerakan sipil untuk diarahkan ke arus utama/ masuk kedalam inner intelektualism. apapun itu, termasuk dalam hal gerakan ekonomi mandiri.

Lalu bagaimana kita menjawab pertanyaan adakah perdamaian didalam ideologi marxisme. saya secara pribadi memahami perdamaian secara menyeluruh tidak akan mungkin terjadi. Pertentangan utama yang di pelopori intelektualism adalah percampuran konsep kemanusian setelah berada didaam hukum dialektika. Apakah konsep yang telah menyatu/tercampur/teremulsi kedalam suatu bentuk tatanan baru akan bertahan? jawabannya tentu tidak. Dia akan kembali berdiaspora, membentuk aneka ragam thesa, membentuk sub culture intelektualism.

Satu-satunya cara untuk melihat perdamaian didalam marxisme adalah didalam sub culture intelektualism. walaupun tidak bisa disanggah , dalam skala minoritas, keberadaan sub kulture ini didalam tubuhnya sendiri juga akan terjadi priksi. tetapi, kemungkinan besar untuk mengekpansi pengaruhnya kedalam negara, dan menginterupsi ide-ide yang telah bertahan secara mapan sangat kecil sekali, jika pengaruh gerakannya, bergantung kepada pengakuan negara.

Apakah kita mau menolak hal ini sebagai bentuk keputus-asaan? atau dalam berbagai diskursus politik adalah janggal jika kita membicarakan, keberadaan sub culture intelektualism ini sebagai jalan dari segala macam keruwetan akibat kontradiksi dari kubu kapitalism dan marxisme?

Masyarakat komunis, jika boleh disederhanakan sebagai unit-unit sub culture intelektualisme. dalam kajian kenegaraan, eksistensinya dianggap sebagai suatu kekayaan suku bangsa yang menempati posisi dilestarikan.

Apapun itu. dalam sejarah hukum, kita menemukan keberadaan comune-comune ini disetiap negara. sangat besar peran mereka dalam hal bagaimana kecakapan negara mempertahankan posisi comune ini.

Pemahaman saya, kebijakan konservatisme terhadap comune ini di ibaratkan sebagai kado ulang tahun yang tentu isinya tidak sama disetiap kado yang didapatkan. negara tetap memegang control terhadap comune-comune ini.

Hal ini berarti setiap negara, berbeda kebijakannya dalam menerapkan usaha melindungi comune-comune ini.

Usaha untuk menginterupsi negara, misalnya pada ide-ide hukum melalui critical legas studies, atau sosio legal atau apalah itu yang mengatas-namakan gerakan hukum rakyat tidak akan mampu menembus jaringan kekuasaan hingga mampu menginterupsi kebijakan hukum suatu negara.

Maka disini kita melihat kontradiksi yang tidak mungkin kita bisa bahasakan sebagai pemakluman akan keberadaan comune sebagai bentuk dari inner intelktualism circle. toh juga, ide-ide kesetaraan tidak bisa diperluas lagi pengaruhnya lebih jauh lagi.

kemenangan comune alias inner intelectualism circle hingga masuk kedalam jaringan negara atau mampu menguasai kekuasaan lebih bersifat kasuistik dan parsial. misalnya kemenangan kaum adat di negara-negara amerika latin. atau revolusi cuba? cenderung tidak bertahan lama. satu-satunya jalan untuk memperluas ide kemenangan ini adalah dengan melanjutkan cita-cita internasionaism.

bahasa dari cita-cita internasionalis ini juga berarti harus mengkomuniskan negara-negara utara, ya negara amerika inggris?

Pertanyaannya apakah ini berpeluang besar? berpeluang kecil? atau tidak memiliki peluang sama sekali? waktu yang akan menjawab itu.

Optimisme setidaknya muncul karena adanya perubahan lanskap kebijakan ekonomi negara-negara utara setelah krisis 2008 lalu dilanjutkan lagi dengan krisis akibat covid-19. sialnya, pergeseran lanskap ini cepat direbut oleh kaum nasionalis seperti Trump di amerika, yang menerapkan kebijakan lebih sempit kearah pola musolini atau hitler. sedangkan kaum sosialis berserakan ditubuh republik atau demokrat, tanpa mampu melakukan tindakan lebih jauh lagi.

Di tempat lain. negara yang berideologi komunis seperti China,sedari awal berusaha bertahan dengan komunismenya mulai mengarah pada usaha untuk terlibat penuh menyokong ide-ide neoliberal. walaupun dalam usaha yang malu-malu ini masih mengatasnamakan negara, ketimbang korporasi swastanya.

Perubahan lanskap ini, akan berpengaruh pada geo politik dan geo ekonomi. Negara-negara selatan yang umumnya negara-negara terlilit hutang, setidaknya mampu menemukan celah dibalik perubahan ini.

Sebagai tambahan di luar judul tulisan ini. Kita sama-sama akan memperhatikan perubahan yang akan terjadi, mereka harus memaksa mengkerucut pada ide-ide sektor ekonomi comune sembari menyiapkan kebijakan agraria yang mumpuni. Jika ini tidak dilakukan, maka kita akan masuk ke krisis yang lebih dalam lagi, lebih hebat dari krisis ekonomi 1997-1998 yang sampai sekaranf belum mampu kita sembuhkan.

Kebutuhan utama untuk merubah lanskap kebijakan lokal yang berpihak pada comune/ adalah anti thesa. Saya membayangkan bahwa satu-satunya jalan bertahan adalah proteksi pada sektor Agraria. Karena base ekonomi dunia akan inline ke ruang online. Hanya pangan yang tercukupi membuat efisiensi bisa di pahami secara baik.

Sumber Rujukan:
1.Manifesto Komunis
2. Das kapital Jil 1 n 2
4. J Derida Hantu-Hantu Mrx
5. Keluarga Suci, F Engel Marx
6. Prison Not Book gramschi
7 . Beberapa buku karya Frans Magnis Suseno.
8. Artikel Berdikari
9. Dan sumber bacaan lain yang lupa di ingat.