Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Wujudkan Masyarakat Adil Makmur, PRD Butuh Legitimasi Kekuasaan

Setiap orang rela berjuang, bahkan mengorbankan harta dan nyawa, karena sebuah ide atau gagasan. Mengutip Sukarno, ide yang agung nan luhur selalu menjadi lokomotif sejarah.

“Para pahlawan berjuang bukan semata-mata karena bendera merah-putih. Sebab, merah-putih bisa dibeli di toko. Tetapi karena sebuah ide, yaitu Republik Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD), Dominggus Oktavianus, dalam peringatan Harlah PRD ke-21 di Jakarta, Sabtu (22/7/2017).

Dominggus menjelaskan, sebagai sebuah ide, Republik Indonesia adalah sebuah negara baru yang terbebas dari kolonialisme dan memperjuangkan cita-cita masyarakat adil dan makmur.

Begitu juga dengan PRD, kata Dominggus. PRD hadir dan berjuang hingga kini karena sebuah ide. Di bawah kediktatoran orde baru, PRD memperjuangkan demokrasi multi-partai.

“Setelah Orba tumbang, ada perubahan situasi. Dan perubahan situasi itu perlu perubahan dalam cara melihat keadaan. PRD perlu merumuskan ide baru,” kata pemuda kelahiran Atambua, Nusa Tenggara Timur ini.

Dalam konteks itu, lanjut Dominggus, PRD sudah menyimpulkan bahwa persoalan bangsa saat ini adalah soal kedaulatan nasional yang berkaitan dengan keadilan sosial.

“Kita sekarang berhadapan dengan kesenjangan sosial yang makin lebar antara kaya dan miskin. Bayangkan, kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan separuh dari penduduknya,” ungkapnya.

Menurutnya, PRD perlu keadilan sosial itu perlu diterjemahkan sebagai ide bersama, sehingga bisa diperjuangkan secara bersama-sama pula.

Masalahnya, kata Dominggus, untuk menerjemahkan gagasan-gagasanya PRD butuh legitimasi kekuasaan. Dan sumber dari legitimasi itu adalah rakyat.

“PRD harus mendirikan gagasannya di atas kondisi objektif rakyat, penderitaan rakyat, amanat perjuangan rakyat. Di situlah gagasan PRD akan berdiri. Dengan begitu PRD akan terus hidup,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Hegel Terome membeberkan tantangan yang dihadapi oleh PRD dalam membumikan gagasan-gagasan perjuangannya.

Pertama, kata dia, PRD melakukan regenerasi secara terus-menerus. Tentu saja dengan terus melahirkan kader-kader baru yang berpikir maju.

Yang kedua, lanjut Hegel, PRD melakukan inovasi diri agar senapas dengan perkembangan zaman dan  tidak berjarak dengan kaum muda.

Masukan lainnya disampaikan oleh Eko Tjiptadi. Menurut mantan Deputi Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, orang-orang partai adalah kasta tinggi dalam masyarakat, sehingga harus jadi panutan.

“Orang-orang PRD harus bisa berkontribusi ke masyarakat. Sehingga PRD bukan cuma dikenal, tetapi anggota dan kadernya dianggap berguna oleh masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, PRD memang harus memberi peran besar untuk Negara. Dalam hal ini, tidak perlu muluk-muluk, bisa dimulai dari yang kecil-kecil di tengah masyarakat.

“ PRD itu nama besar, bukan ecek-ecek,” tegasnya.

Mantan Direktur SDM PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ini juga berharap, PRD bisa memenangkan perjuangan politik dan bisa berpengaruh luar biasa untuk Indonesia di masa depan.

Acara Harlah ke-21 PRD, yang dirangkai dengan Halal bihalal, mengambil tema “Menangkan Pancasila”. Selain seremoni berupa sambutan dan pemotongan tumpeng, Harlah ke-21 PRD juga diisi dengan pemutaran film pendek, musik perjuangan, testomoni dan marawis. [Rini Hartono/Berdikari Online]