Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Bung Karno di Bengkulu, Laksana Dukun Sakti yang Baik Hati

"Terasing oleh jajaran Bukit Barisan.. Negeri ini tidak mempunyai arti penting. Juga tidak dalam hal persahabatan. Daerah yang dikenal sebagai benteng Islam itu masih sangat kolot."

Begitu kata Bung Karno tentang Bengkulu yang ia kisahkan kepada Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Edisi Revisi, Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo, Cetakan Ketiga, 2014.

Meski selama di Bengkulu Bung Karno menerima uang tunjangan sebesar 150 gulden yang setiap bulan diambilnya dari kantor LCM Jaquet, namun Bung Karno tak pernah menolak ketika ada warga yang datang kepadanya untuk memperoleh bantuan.

Bung Karno mengisahkan, semasa hidup di Bengkulu, ia memperoleh kedudukan yang nyaris laksana seperti seorang dukun sakti. Orang datang kepadanya untuk meminta nasihat. Misalnya seorang Marhaen yang dituntut untuk menyerahkan kerbaunya kepada seorang pegawai.

"Marhaen itu menjadi hampir putus asa, karena kerbau ini sangat besar artinya bagi dirinya. Ia datang padaku sebagai dukunnya," kata Bung Karno.

Bung Karno lantas menasehatkan kepada Marhaen itu agar mengajukan persoalan itu ke Pengadilan dan ia akan membantunya dengan doa. Tiga hari kemudian, kerbau itu kembali kepada si Marhaen.

Lalu ada lagi perempuan yang datang menangis-nangis kepada Bung Karno karena sudah tujuh bulan tidak haid. Awalnya, pria dengan julukan Putra Sang Fajar ini mengelak untuk membantu, karena ia berterus terang mengatakan ia bukan dokter.

"Bapak menolong semua orang. Bapak adalah juru selamat kami. Saya percaya kepada bapak dan saya
merasa sangat sakit. Tolonglah ... tolonglah ..... tolonglah saya," ungkap Bung Karno menirukan tangisan perempuan tersebut.

Kepercayaan perempuan itu kepada Bung Karno sangat besar, dan Bung Karno tidak kuasa berbuat sesuatu yang akan menimbulkan kekecewaan warga Bengkulu. Karena itu Bung Karno membacakan untuknya surat pertama dari Al-Qur'an, ditambah dengan doa yang maksudnya sama dengan 'Bapak kami yang ada di sorga'.

Lantas perempuan itu sembuh dari penyakitnya.

Kemudian tetangganya di Anggut Atas, seorang pemerah susu, sangat membutuhkan uang. Dia yakin bahwa dengan mengemukakan persoalannya itu kepada Bung Karno, masalahnya akan terpecahkan.

"Memang ia benar. Aku keluar dan menggadaikan bajuku untuk memenuhi tiga rupiah enampuluh sen yang diperlukannya," ujar Bung Karno.

Sebuah kisah lain diceritakan oleh Burhan Wahid bin Thaib, warga gang Sepakat Kelurahan Tanah Patah dalam catatan kecilnya dengan judul “Sekelumit Cerita Keberadaan Bung Karno di Kota Bengkulu” yang ditulisnya tanggal 10 Desember 1997.

Dalam tulisan Burhan itu dikisahkan, Bung Karno pernah melawan kehendak polisi Belanda yang melarangnya untuk menolong seorang nenek yang sedang sakit. Waktu itu, nenek itu usianya kira-kira sama dengan usia ibunya Bung Karno. Ia tidak memiliki uang untuk naik delman ke rumah sakit, sementara ia mengharapkan bantuan orang lain.

"Saya selaku anak bangsa yang masih gagah naik sepeda lagi, membiarkan perempuan tua yang sakit berjalan terseok-seok di depan mata kepalaku sendiri! Nee Menner; hatiku menjerit. Harus ditolong,’’ kata Bung Karno.

Kakek Burhan Wahid membantu Bung Karno untuk menjelaskan. Akhirnya nenek itu dibonceng Bung Karno ke rumah sakit yang lokasinya sekarang menjadi Masjid Akbar At-Taqwa. Sukarno membayar biaya resep berobat nenek tersebut dan menyewa sebuah delman untuk mengantarnya pulang. [Ahmad Runako]