Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Ini Empat Strategi Cegah Kanker Serviks

15175412_10209983386375294_1515397275_nBENGKULU, PB - Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyakit yang mematikan bagi kaum perempuan. Kanker leher rahim ini merupakan masalah besar di dunia karena setiap tahun ditemukan 500 ribu kasus baru. Sebanyak 80 persen kasus baru terjadi di negara-negara berkembang.

"Kira-kira 200 ribu perempuan meninggal setiap tahun dikarenakan kanker leher rahim. Populasi terbesar kanker ini ada di Indonesia sebanyak 34, 4 persen dan 70 persen diantaranya sudah stadium lanjut. Ada 15 ribu kasus baru di Indonesia yang mengakibatkan 1 orang perempuan meninggal tiap jam," kata Dr Julianty Kusuma, pakar kesehatan Bengkulu, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, kanker leher rahim dapat diketahui atau didiagnosis dengan mudah. Ia menganjurkan agar para perempuan di Bengkulu untuk sering-sering melakukan deteksi dini agar angka kematian yang mencemaskan itu dapat diturunkan.

"Pada dasarnya kanker leher rahim dapat dicegah. Misalnya berhenti merokok, berhenti mengkonsumsi obat-obat yang menekan kekebalan tubuh, jangan menikah di usia remaja, jangan berganti-ganti pasangan seks. Sebanyak 60 persen penderita sakit ini dapat sembuh, 30 sampai 70 persen penyakit ini berkembang dalam 10 tahun dan 15 persen jadi berat setelah tiga sampai empat tahun," urainya.

Ia membeberkan, penderita kanker leher rahim bisa dibersihkan dengan sistem immun atau kekebalan. Menurut dia, hanya 10 sampai 20 persen yag berkemungkinan menjadi infeksi persisten atau menetap.

"Kebanyakan pria dan perempuan yang telah berhubungan intim beresiko terinfeksi kanker serviks dan lebih dari 75 persen perempuan yang berhubungan intim pernah terinfeksi kanker serviks. Puncaknya di antara umur 18 sampai 22 tahun," paparnya.

Ia memberitahukan tentang empat srategi untuk mencegah kanker serviks. Pertama, melakukan pencegahan primer. Kedua, melakukan deteksi dini. Ketiga, melakukan pengobatan. Keempat, melakukan pengurangan nyeri.

"Pengobatan dilakukan pada tingkat pra kanker itu relatif mudah, murah dan efektif. Pencegahan primer adalah bagi perempuan yang beresiko tinggi. Mengatasinya dengan vaksinasi. Kunci utamanya adalah pemeriksaan penapis atau screening," tukasnya.

Ia menambahkan, kanker leher rahim seringkali tidak menimbulkan gejala. Bila tidak ingin beresiko terkena penyakit ini, tegasnya, jangan menikah terlalu dini, tunda hubungan seksual saat remaja, tolak berhubungan seksual dengan banyak pasangan dan penderita kutil kelamin.

"Banyak orang tidak tidak tahu mereka terinfeksi kanker serviks dan banyak orang yang dapat menularkan penyakit ini tanpa menyadarinya. Stadium awal tanpa gejala atau perdarahan paska sanggama atau keputihan. Stadium lanjut perdarahan melalui vagina, keputihan yang berbau, nyeri, pembengkakan kelenjar tungkai. Kalau sudah stadium lanjut maka bisa terkena batuk darah, kencing berdarah, BAB berdarah," demikian Dr Julianty. [AM]