Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Perankan Kartini, Dian Sastro Belajar Habis Gelap Terbitlah Terang

Dian-sastro2-Sastrowardoyo-tiba-di-tenda-Perjuangan-para-Kartini-Kendeng-di-Rembang.-Foto-Eggy-Yunaedi 13557716-10206672040946260-2612529958342518801-n-edf3f4b82ea815f371244cbe44356093_420x280

 

 

 

 

 

 

JAKARTA, PB - Pemikiran dan perjalanan hidup sosok pahlawan emansipasi perempuan, R.A Kartini, yang banyak menginsipirasi kaum perempuan Indonesia bakal diangkat ke layar lebar. Film garapan sutradara Hanung Bramantyo rencananya akan tayang pada April 2017 mendatang.

Catatan pemikiran perempuan yang lahir tanggal 21 April tahun 1879 di Kota Jepara itu terekam baik dalam surat-suratnya. Ia memiliki sahabat pena dengan perempuan Belanda, diantaranya Marie Ovink-Soer dan Estella Zeehandelar.

Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca (1988), "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." Kartini pun demikian dikenal melalui tulisan-tulisannya yang menginspirasi perjuangan kaum perempuan dan kemerdekaan Indonesia.

Kisahnya yang menolak digelari putri bangsawan dan penentangannya atas pengekangan perempuan dalam tradisi feodalisme jawa, serta sikapnya melawan penjajahan Belanda inilah yang sedang di lakoni Dian Dian Sastrowardoyo dalam film berjudul Kartini.

Dian Sastro akan mulai syuting pada Juli ini. Tidak tanggung-tanggung, ibu dua anak itu bahkan bergerilya mencari literatur tentang Kartini, salah satunya Door Duisternis tot Lich, Habis Gelap Terbitlah Terang.

"Sekarang lagi menyelesaikan Habis Gelap Terbitlah Terang. Saya dalam proses belajar ini berkali-kali terinspirasi tulisan beliau. Kok dia bisa menulis kalimat powerfull yang menginspirasi saya dengan tulisan yang sangat mengenai sasaran dan indah," tuturnya.

Ia merasa "berjodoh" dengan sosok Kartini yang memiliki rasa peduli lebih terhadap peran perempuan di Indonesia. Demi memperkaya lakonnya tentang Kartini, Dian Sastro pun sampai bergerilya ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk kota asal R.A. Kartini.

"Bersyukur sekali, bisa jodoh. Makanya saya harus mempersiapkan peran besar ini. Yang low profile, feminimisme. Sangat memalukan kalau tidak bisa menyiapkan peran sebagai Kartini," kata Dian Sastrowardoyo saat konferensi pers Film Kartini, di XXI Djakarta Theater, baru-baru ini.

Dian Sastro yang baru-baru ini ikut mendukung perjuangan Ibu-ibu Kendeng menolak kehadiran pabrik Semen di Rembang itu, merasa memiliki semangat yang sama dalam memperjuangkan kaum termarjinalkan. Di Rembang, ia mendalami kehidupan adat Jawa.

"Saya sempat nyekar ke makam ibu Kartini di Rembang, kirim Al-Fatihah juga. Lalu ke Jepara lihat rumahnya, lihat kamar dia dipinggit. Lalu ke Rembang, melihat kediaman suaminya yang masih asli. Jadi saya masih bisa meresapi seperti apa dulu. Kamar mandinya masih belum berubah, tempat tidur tempat dia melahirkan dan meninggal, mengembuskan napas terakhir," terangnya.

Dalam film ini, Dian Sastro mengaku harus belajar banyak adat Jawa dan bahasa Belanda. "Saya belajar istiadat Jawa seperti kromo inggil dan mlaku ndodhok (jalan jongkok). Ya Allah mabok saya judulnya. So far ada 64 dialog bahasa Belanda yang saya harus hapal ngomong dan pahami artinya," ungkap Dian.


Film produksi Legacy Pictures ini melibatkan sederet artis film Tanah Air lainnya. Mereka adalah Nova Eliza sebagai ibu kandung Kartini, Ngasirah muda, Christine Hakim (Ngasirah tua), Acha Septriasa dan Ayushits sebagai dua adik Kartini. Deddy Sutomo sebagai ayah Kartini, Denny Sumargo (Raden Mas Slamet), Adinia Wirasti (Soelastri), Reza Rahadian (R. M. Panji Sosrokartono) dan Djenar Maesa Ayu. (Yn)