Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Ridwan Mukti: Budaya, Benteng Pertahanan Hadapi MEA

Kartini Gedung Daerah (18)BENGKULU, PB - Meskipun Negara Tiongkok dikenal sebagai negara mimikri (peniru) atas produk negara-negara lain, namun negara tirai bambu itu berhasil membangun industrinya dengan ciplakan, salah satunya ciplakan batik. Industri tekstil yang selama ini dikenal murah di Bandung, kalah bersiang dengan produksi batik asal Tiongkok yang harganya jauh lebih murah.

Baca juga: Hadapi MEA, Ekonomi Kreatif Perlu Berbenah

Hal itu diutarakan Gubernur Bengkulu saat memberikan sambutan memperingati hari Kartini ke 137 di Gedung Daerah Provinsi Bengkulu. Ia berharap kekayaan budaya Bengkulu seperti batik basurek yang belum ditiru negara lain untuk segera dikembangkan guna menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

"Meskipun batik dan pakaian hijab serta pakaian busana muslim di produksi di China dengan harga yang lebih murah namun mereka tidak ada motif basureknya. Oleh karena itu mari kita di Bengkulu ini menggairahkan menggunakan batik basurek," seru Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti.

Mencintai dan mengembangkan kekayaan tradisi lokal adalah cara menghadapi serbuan dari produk negara asing. Selain itu, kebudayaan menjadi identitas jati diri bangsa.

"Batik basurek saja akan di produksi di Provinsi Bengkulu (jadi identitas daerah-red)," kata Ridwan.

Ia juga menjelaskan bila kondisi Bengkulu saat ini telah berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Berdasarkan informasi dari Garuda Airlines pada bulan Februari, Maret dan April menjadi bulan yang sepi pengunjung, namun sekarang terbalik, kunjung ke Bengkulu menjadi deras.

Ridwan menungkapkan bahwa naiknya mobilitas sektor perjalanan ke Bengkulu ini merupakan dampak langsung dari komitmen pemerintah terhadap dunia usaha, serta upaya perbaikan pelayanan pemerintahan dengan lebih baik.

"Jika wisatawan datang menggunkan pakaian modern jangan sampai kita sebagai tuan rumah mengikuti adat kebiasan mereka. Namun kita bungkus adat kebiasaan mereka dengan hasil karya tangan-tangan kreatif dengan kain basurek," ungkap Gubernur.

Baca juga: Lawan MEA dengan UMKM

Selain itu, Ridwan juga mendorong agar tradisi musik lokal dikembangkan untuk meredam dan mengantisipasi berbagai musik house, remix, disco, dan sebagainya yang dikenal cukup dekat dengan para pengguna Narkoba. "Kita mesti pertahakan musik tradisional, sebagai (gendre-red) musik melayu yang berciri khas Bengkulu," tutupnya. [Zefpron Saputra]