Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Rupiah Pagi di 17.908, Bank Dunia Prediksi Ekonomi Tumbuh 4,5 Persen

 

PedomanBengkulu.com - Nilai tukar rupiah pagi ini bergerak menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Garuda terjadi ketika dolar AS mengalami tekanan setelah data aktivitas sektor jasa AS pada September menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Mengutip data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB, rupiah berada di level Rp17.908 per dolar AS, menguat 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, di Rp17.917 per dolar AS.

Pergerakan rupiah tersebut terjadi setelah indeks jasa Institute for Supply Management (ISM) AS turun menjadi 54,9 pada September, dari 55,4 pada Agustus. 

Meski turun 0,5 poin, angka tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan sektor jasa tetap berada dalam fase ekspansi. Data ISM juga menunjukkan aktivitas bisnis dan pesanan baru masih tumbuh, meski lajunya melambat. 

Bagi pasar valuta asing, perlambatan aktivitas jasa AS dapat mengurangi tekanan terhadap dolar karena membuka ruang bagi pasar untuk menilai kembali arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. 

Namun, efek tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan.

Ruang Penguatan Masih Terbatas

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pergerakan di dalam rentang tersebut menunjukkan pasar masih cenderung menunggu katalis baru sebelum menentukan arah yang lebih kuat.

Selain faktor eksternal, perhatian investor mulai beralih ke sejumlah indikator ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini. Data cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel menjadi beberapa indikator yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Posisi rupiah sendiri masih berada di bawah tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Pada akhir September, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil Treasury AS dan meningkatnya harga minyak dunia. 

Bank Indonesia juga menyatakan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Reuters

Karena itu, penguatan ke Rp17.908 pada Selasa pagi belum cukup untuk menunjukkan perubahan tren secara menyeluruh. Investor masih akan memperhatikan apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000 dan bergerak menuju area Rp17.850, atau kembali menghadapi tekanan apabila dolar AS menguat.

Tekanan lain berasal dari harga minyak. Kenaikan harga energi dapat memperbesar kebutuhan dolar untuk impor energi dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap rupiah. 

Kondisi tersebut membuat pergerakan mata uang Garuda tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter AS, tetapi juga perkembangan geopolitik dan pasar komoditas global.

Ekonomi Asia Pasifik Tetap Tumbuh
Di tengah tekanan eksternal tersebut, kawasan Asia Timur dan Pasifik menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif kuat. Bank Dunia memproyeksikan perekonomian kawasan tumbuh 4,5 persen pada 2026, meskipun pertumbuhan tidak merata antarnegara dan sektor.

Pertumbuhan kawasan ditopang antara lain oleh produksi dan ekspor barang-barang berteknologi tinggi yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya investasi global terkait kecerdasan buatan (AI). Perkembangan tersebut memberikan peluang bagi negara-negara yang memiliki posisi kuat dalam rantai pasok teknologi global.

Sejumlah negara bahkan mendapatkan revisi proyeksi pertumbuhan. Vietnam, misalnya, dalam laporan yang menjadi rujukan pemerintah, diproyeksikan tumbuh 7,4 persen pada 2026. 

Malaysia diperkirakan tumbuh 5,1 persen, sedangkan Thailand 2,0 persen. Sementara itu, China sebagai ekonomi terbesar di kawasan diproyeksikan tumbuh 4,4 persem.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan kawasan tidak berarti seluruh negara menghadapi kondisi yang sama. Negara yang terhubung kuat dengan rantai pasok teknologi dan ekspor berteknologi tinggi mendapatkan keuntungan lebih besar dari peningkatan aktivitas AI global.

Indonesia juga berada dalam posisi yang berkaitan dengan perkembangan tersebut. Basis manufaktur, komoditas, serta upaya hilirisasi dapat menjadi bagian dari rantai pasok yang mendukung investasi teknologi. Namun, peluang tersebut membutuhkan infrastruktur digital, energi, pembiayaan, dan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai.

AI Jadi Faktor Baru Pertumbuhan
Bank Dunia menilai AI berpotensi menjadi salah satu faktor yang semakin menentukan produktivitas dan pasar tenaga kerja Asia Timur dan Pasifik. Sejumlah negara telah mendapatkan manfaat dari meningkatnya permintaan terhadap barang yang mendukung investasi AI global.

Namun, adopsi teknologi AI di tingkat perusahaan dan individu masih belum merata. Hambatan utamanya mencakup biaya, keterbatasan keahlian, serta persoalan keamanan dan privasi.

Karena itu, Bank Dunia menilai manfaat jangka pendek terbesar bagi banyak negara justru dapat berasal dari apa yang disebut sebagai “AI Kecil”, yakni penggunaan dan adaptasi teknologi AI yang sudah tersedia dan relatif mudah diakses.

Pendekatan tersebut relevan bagi negara berkembang karena tidak selalu membutuhkan investasi teknologi dalam skala besar. Perusahaan dapat menggunakan perangkat AI yang sudah tersedia untuk meningkatkan produktivitas, mengotomatisasi sebagian pekerjaan administratif, memperbaiki analisis data, hingga meningkatkan pelayanan kepada konsumen.

Namun, adopsi AI juga akan mengubah kebutuhan keterampilan tenaga kerja. Perusahaan semakin membutuhkan pekerja yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan analitis dan keterampilan sosial.

Bank Dunia mencatat hanya sekitar 13 persen pekerjaan di Asia Timur dan Pasifik yang termasuk pekerjaan dengan kebutuhan tinggi terhadap pemikiran dan penilaian kompleks, jauh lebih rendah dibandingkan 39 persen di negara-negara maju. Kondisi ini menunjukkan besarnya ruang peningkatan keterampilan tenaga kerja di kawasan.

Peluang dan Tantangan bagi Indonesia
Bagi Indonesia, kombinasi penguatan ekonomi kawasan dan perkembangan AI memberikan peluang sekaligus tantangan. Penguatan ekspor barang berteknologi tinggi di negara-negara Asia dapat menciptakan permintaan baru, tetapi persaingan untuk menarik investasi dan meningkatkan produktivitas juga semakin ketat.

Indonesia membutuhkan infrastruktur digital dan energi yang memadai agar perusahaan dapat mengadopsi AI dengan biaya yang kompetitif. Penguatan keterampilan pekerja juga menjadi faktor penting agar perkembangan teknologi tidak hanya meningkatkan produktivitas perusahaan, tetapi turut menciptakan lapangan kerja yang lebih baik.

Di pasar keuangan, perkembangan ekonomi regional tersebut juga dapat memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang. Jika pertumbuhan Asia tetap kuat sementara tekanan dolar berkurang, aset regional berpotensi mendapatkan dukungan. 

Namun, tingginya imbal hasil obligasi AS, harga minyak, dan risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan demikian, penguatan rupiah ke Rp17.908 pada Selasa pagi masih bersifat terbatas. Data jasa AS yang melambat memberikan ruang bagi dolar untuk terkoreksi, tetapi imbal hasil obligasi AS dan harga minyak masih menjadi hambatan. 

Dalam jangka pendek, area Rp17.850–Rp17.950 menjadi rentang yang perlu diperhatikan.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Asia Pasifik sebesar 4,5 persen memperlihatkan kawasan masih memiliki daya tahan terhadap ketidakpastian global. 

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan investasi, produktivitas, ekspor bernilai tambah, serta adopsi AI yang lebih luas.

Sumber: www.kabarbursa.com