Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Penguatan Rupiah Hari Ini Masih Tertahan

 

PedomanBengkulu.com, Jakarta - Penguatan rupiah di perdagangan pasar spot hari ini, Rabu (14/10/2026), diperkirakan tertahan. Harga minyak kembali melejit hingga menembus US$106,48/barel, disusul ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang menguat. 

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Bank of New York John Williams memang mengatakan bahwa ia tidak melihat alasan bagi bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga pada 2027.

Namun, pernyataannya soal kenaikan suku bunga satu kali lagi tahun ini sebagai langkah yang tepat membuat probabilitas kenaikan Fed Fund Rate (FFR) bulan ini meninggi. Melansir Fedwatch, probabilitasnya terus naik dari 20,5% kemarin menjadi 22,7% pagi ini. 

Meski begitu, pelaku pasar sebagian menyambut ini sebagai sinyal positif. Setidaknya, suku bunga The Fed tidak bertahan tinggi lebih lama seperti yang diperkirakan sebelumnya. 

Dari pasar valuta Asia, hanya won Korea Selatan menguat 0,1%, diikuti rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) yang menguat terbatas 0,02% ke Rp17.923/US$. 

Akan tetapi, sebagian mata uang lainnya tercatat melemah terbatas. Seperti dolar Singapura dan ringgit Malaysia, masing-masing terpangkas 0,04%. 
Dari sisi domestik, penguatan rupiah hari ini masih terbebani prospek perekonomian domestik. Daya beli dan permintaan domestik melemah, dengan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat turun dari 109,4 menjadi 107,5 pada September. Memang angka itu masih berada di zona optimistis, tetapi di kelompok berpenghasilan Rp1-2 juta angkanya berada di zona pesimis yaitu 98. 

Selain itu, penjualan ritel memang diperkirakan tumbuh 1,4% secara tahunan pada September, tetapi tetap terkoreksi 2,3% secara bulanan. Angka-angka ini menandakan bahwa aktivitas konsumsi masih tumbuh, tapi momentum pemulihannya tak kunjung merata. 

Sentimen domestik juga kian diperparah dengan adanya gangguan pasokan energi (Bahan Bakar Minyak/BBM) di sejumlah daerah. Sejak kemarin, kelangkaan BBM berulang terjadi di sejumlah daerah, seperti Malang, Sintang, Bone Bolango, dan Bali. Bahkan, di Batam sempat terjadi gangguan pasokan listrik berskala luas pada awal pekan ini.  

Jika gangguan distribusi itu berlarut-larut, maka dampaknya dapat meluas ke biaya transportasi dan operasional usaha yang berpotensi menekan margin pelaku usaha sekaligus membuat konsumen menanggung harga barang dan jasa lebih tinggi. 

Dalam kondisi daya beli yang beli yang belum benar-benar pulih, tekanan ini dapat memperburuk prospek pertumbuhan pada kuartal IV-2026. 

Dari sisi fiskal, di tengah tekanan harga minyak yang bertahan tinggi hingga US$105/barel, pelaku pasar masih akan terus mencermati efektivitas dan efisiensi fiskal. Terutama dalam menjaga keseimbangan antara pembiayaan program prioritas, perlindungan daya beli masyarakat, dan keberlanjutan fiskal.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara, sebelumnya mengatakan bahwa ia menempatkan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai fokus utama dalam periode kepemimpinannya. Defisit APBN 2026 diperkirakan sekitar 2,85% Produk Domestik Bruto (PDB), sementara APBN 2027 dirancang dengan defisit lebih rendah di 2,4% PDB. Adapun, APBN 2027 menargetkan pertumbuhan penerimaan pajak di atas 22-23%. 

Namun, kredibilitas fiskal sebenarnya tak cukup hanya diukur dari kepatuhan terhadap target defisit dan realisasi penerimaan negara. Pelaku pasar juga akan menilai seberapa efektif belanja pemerintah menghasilkan dampak ekonomi, khususnya dalam menopang konsumsi, memperkuat produktivitas dan menjaga daya beli kelompok masyarakat paling rentan terhadap tekanan biaya hidup.

Apabila belanja negara lebih banyak terserap untuk program prioritas tanpa menghasilkan efek pengganda ekonomi yang signifikan, ruang fiskal untuk merespons perlambatan ekonomi diperkirakan akan semakin terbatas. 

Di tengah tekanan eksternal masih terus meninggi, sedangkan fundamental domestik belum juga menunjukkan perbaikan yang meyakinkan, penguatan rupiah cenderung bersifat sementara dan rentan kembali terkoreksi.

Di tengah kondisi dan sentimen yang ada, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.850-17.950/US$.

Analisis Teknikal

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih dibayangi risiko pelemahan. Target pelemahan terdekat menuju level Rp17.910/US$ dengan target lanjutan berharap tertahan di Rp17.950/US$.

Apabila menjebol kedua support tersebut, maka mata uang Ibu Pertiwi bisa saja melemah lagi menuju level Rp18.000/US$ sebagai support terkuatnya.

Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat hari ini, maka resistance yang menarik dicermati ada di Rp17.850/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$.

Adapun nilai tukar rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimistis lanjutan jika nantinya sentimen pasar mulai membaik menuju resistance potensial ke level Rp17.700/US$. Meski saat ini masih terbatas peluangnya.


Sumber: www.bloombergtechnoz.com