Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Laba BBCA Tembus Rp45,2 Triliun, Kredit Melesat 12,6 Persen 9M2026

 

PedomanBengkulu.com - BCA membukukan laba bersih Rp45,2 triliun hingga September 2026, ditopang pertumbuhan kredit 12,6 persen dan peningkatan dana murah sebesar 10,4 persen secara tahunan.

BBCA mencatat laba bersih Rp45,2 triliun hingga September 2026, dengan kredit tumbuh 12,6 persen menjadi Rp1.063 triliun.

 PT Bank Central Asia Tbk atau yang menggunakan kode saham BBCA melaporkan kinerja keuangan yang solid hingga periode September 2026. 

Di tengah dinamika perekonomian, perbankan swasta terbesar di tanah air ini mencatatkan pertumbuhan pembiayaan dan laba bersih yang ditopang oleh struktur pendanaan yang stabil.

Berdasarkan laporan kinerja, BBCA bersama entitas anak membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12,6 persen secara tahunan atau year on year menjadi Rp1.063 triliun per September 2026. 

Penyaluran pembiayaan tersebut disalurkan secara pruden ke berbagai segmen, mulai dari korporasi, komersial, hingga usaha kecil dan menengah.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan, ekspansi pembiayaan ini berjalan selaras dengan prinsip kehati-hatian di tengah kondisi likuiditas perseroan yang memadai.

"BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional, dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perseroan," ujar Hendra Rabu, 28 Oktober 2026.

Pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh penguatan dana pihak ketiga yang naik 8 persen secara tahunan mencapai Rp1.301 triliun. Kenaikan dana pihak ketiga ini ditopang oleh pertumbuhan giro dan tabungan atau current account saving account yang meningkat 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun.

Dari sisi penggunaan, kredit produktif menjadi motor utama pertumbuhan dengan nilai mencapai Rp831 triliun atau tumbuh 17,2 persen secara tahunan. 

Rincian pembiayaan produktif tersebut terdiri atas kredit korporasi yang naik 20,9 persen menjadi Rp528,1 triliun, kredit komersial yang tumbuh 7,8 persen menjadi Rp154,1 triliun, serta kredit usaha kecil dan menengah yang bertambah 15,4 persen menjadi Rp149,2 triliun.

Pencapaian penyaluran kredit pada segmen usaha kecil dan menengah tercatat berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio loan at risk dan non performing loan masing-masing berada pada level 4,6 persen dan 1,8 persen pada periode yang sama.

Seiring dengan ekspansi bisnis yang berjalan optimal, laba bersih BBCA dan entitas anak tercatat tumbuh 4,2 persen secara tahunan menjadi Rp45,2 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2026.

Selain pembiayaan konvensional, portofolio pembiayaan berkelanjutan BBCA juga mengalami peningkatan sebesar 16,3 persen secara tahunan menjadi Rp280,3 triliun per September 2026. Angka tersebut porsinya mencapai 26,4 persen dari total keseluruhan portofolio pembiayaan perseroan.

Dalam laporan kinerjanya, manajemen juga memaparkan perkembangan operasional secara berkala, termasuk pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi perbankan serta berbagai inisiatif sosial dan lingkungan yang dijalankan melalui program Bakti BCA sepanjang tahun berjalan.

Performa BBCA Sepekan
Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berada dalam tekanan selama sepekan terakhir hingga Rabu, 28 Oktober 2026. 

Meski mencatatkan penguatan pada perdagangan terakhir, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut belum sepenuhnya memulihkan penurunan yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan data historis perdagangan Stockbit, saham BBCA ditutup pada level Rp5.050 per saham pada Rabu, 28 Oktober 2026. Harga tersebut naik Rp150 atau 3,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp4.900.

Namun, jika dibandingkan dengan penutupan Rabu, 21 Oktober 2026, ketika BBCA berada di level Rp5.275, harga saham tersebut masih turun Rp225 atau sekitar 4,27 persen.

Penurunan Beruntun Sebelum Berbalik Menguat
Pergerakan BBCA selama periode 21–28 Oktober 2026 menunjukkan tekanan jual yang cukup konsisten sebelum terjadi pemulihan pada perdagangan terakhir.

Pada 21 Oktober 2026, saham BBCA ditutup di level Rp5.275, menguat 1,44 persen. Namun, penguatan tersebut tidak berlanjut. Sehari kemudian, harga saham terkoreksi 1,90 persen menjadi Rp5.175.

Tekanan berlanjut pada Jumat, 23 Oktober 2026, ketika BBCA turun 2,90 persen ke level Rp5.025. Pada Senin, 26 Oktober, saham kembali melemah 1,69 persen menjadi Rp4.940.

Koreksi berlanjut pada Selasa, 27 Oktober 2026. BBCA turun 0,81 persen ke level Rp4.900, sekaligus menjadi penutupan terendah dalam rangkaian perdagangan tersebut.

Pada Rabu, 28 Oktober, saham BBCA berbalik menguat 3,06 persen. Sepanjang perdagangan, harga saham bergerak pada rentang Rp4.920 hingga Rp5.100, dengan harga pembukaan Rp4.920.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp789,54 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 1,58 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 16.780 kali.

Asing Masih Gencar Menekan
Data perdagangan sebelumnya memperlihatkan adanya tekanan dari investor asing terhadap saham BBCA. Pada 23 Oktober, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp770,54 miliar. Angka tersebut berlanjut dengan net sell Rp235,53 miliar pada 26 Oktober dan Rp59,75 miliar pada 27 Oktober.

Sementara itu, data investor asing untuk perdagangan 28 Oktober belum tercantum dalam tangkapan layar yang tersedia.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan BBCA pada perdagangan terakhir terjadi setelah beberapa sesi pelemahan. Meski demikian, kenaikan satu hari belum cukup untuk menghapus koreksi selama sepekan.

Investor masih perlu mencermati kelanjutan pergerakan harga, nilai transaksi, serta arah aliran dana asing untuk melihat apakah penguatan tersebut berlanjut pada perdagangan berikutnya.


Sumber: www.kabarbursa.com