PedomanBengkulu.com, JAKARTA - Bank Dunia memperingatkan harga komoditas dunia diproyeksikan melonjak 23% pada 2026 akibat konflik Timur Tengah, gangguan pengiriman biji-bijian, serta dampak El Nino. Dalam laporan Commodity Markets Outlook terbaru yang dirilis Rabu (28/10), harga energi diperkirakan naik 32% dan mencapai level tertinggi dalam empat tahun.
"Pasar komoditas sedang terpukul oleh beberapa guncangan besar sekaligus," ujar Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia Ayhan Kose dikutip pada Kamis (29/10/2026). "Kenaikan biaya energi dan gangguan perdagangan mendorong harga berbagai komoditas, sehingga berpotensi memperburuk inflasi, ketahanan pangan, serta pertumbuhan ekonomi."
Proyeksi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan Bank Dunia pada April 2026, yang saat itu menaksir kenaikan harga komoditas keseluruhan sebesar 16%. Kenaikan tajam tersebut terutama dipicu oleh perang di Timur Tengah, gangguan pelayaran di Laut Hitam, serta meningkatnya permintaan aset lindung nilai seperti logam mulia.
Pasokan minyak dunia diproyeksikan turun 5,2% pada 2026, penurunan terbesar dalam lebih dari empat dekade di luar resesi global 2020. Sementara itu, konsumsi minyak diperkirakan turun 2,5%, kontraksi tahunan terbesar ketiga dalam sejarah setelah 2020 dan 1980.
Bank Dunia memperkirakan harga minyak mentah Brent akan rata-rata USD91 per barel pada 2026, naik dari USD69 per barel pada 2025, sebelum menurun ke USD79 per barel pada 2027. Produksi yang masih berada di bawah konsumsi diperkirakan memaksa penarikan cadangan minyak lebih lanjut.
Harga komoditas pangan diperkirakan naik sekitar 10% pada 2026 dan kembali naik 7% pada 2027, sehingga kenaikan kumulatif mencapai 18%. Dalam skenario terburuk, El Nino yang sangat kuat, serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam, serta harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong harga Brent mencapai rata-rata USD105 per barel pada 2027 dan harga pangan melampaui level 2022.
Harga logam juga diproyeksikan naik 25% hingga mencapai rekor baru, dengan aluminium, tembaga, dan timah berada pada level tertinggi. Kenaikan tersebut didorong permintaan energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pusat data, sementara harga logam mulia diperkirakan melonjak 40% akibat meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Secara keseluruhan, harga komoditas dunia diperkirakan turun 7% pada 2027. Bank Dunia menyatakan telah menyediakan dukungan sekitar USD50 miliar hingga USD60 miliar melalui instrumen yang ada dan telah menyalurkan USD8,7 miliar kepada 25 negara yang terdampak perang. "Prioritasnya adalah melindungi kelompok termiskin dan mendukung negara berpendapatan rendah yang sudah bergulat dengan beban utang yang berat," kata Kose.
Sumber: ekbis.sindonews.com
