Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Harga Emas Terpukul Minyak, Kilau Safe Haven Mulai Meredup

 

PedomanBengkulu.com- Emas sempat mencuri napas setelah inflasi Amerika Serikat keluar lebih jinak dari perkiraan. Namun, napas itu tidak berlangsung lama. Harga minyak yang kembali menanjak membuat pasar kembali waswas terhadap inflasi, sementara imbal hasil obligasi ikut menekan logam mulia alias emas.

Dilansir dari Reuters, harga emas spot turun 0,7 persen menjadi USD4.152,86 per troy ounce atau sekitar Rp74,34 juta pada Kamis, 1 Oktober 2026 WIB. Padahal, sesaat setelah data inflasi AS dirilis, harga emas sempat bergerak naik karena angka inflasi berada di bawah ekspektasi pasar.

Dengan pergerakan tersebut, emas telah merosot 6,6 persen sepanjang September.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik tipis 0,2 persen menjadi USD4.186,70 per troy ounce atau sekitar Rp74,94 juta.

Ada ironi kecil di pasar emas kali ini. Data inflasi yang lebih lunak seharusnya menjadi angin segar bagi emas karena membuka ruang bagi Federal Reserve untuk menahan kenaikan suku bunga. Namun, kenaikan harga energi membuat sentimen itu tidak cukup kuat untuk menopang emas.

“Dengan energi yang bergerak lebih tinggi, obligasi telah kehilangan kenaikannya dan kembali menekan logam. Ini hari yang mengecewakan bagi emas, meskipun peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah turun secara substansial setelah hasil PCE inti yang lebih rendah dari perkiraan,” kata pedagang logam independen Tai Wong.

Data Personal Consumption Expenditures Price Index atau PCE menunjukkan harga naik 0,3 persen pada bulan lalu setelah sebelumnya meningkat 0,1 persen pada Juli berdasarkan revisi. Sementara PCE inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, naik 3,0 persen secara tahunan pada Agustus setelah kenaikan 3,0 persen pada Juli berdasarkan revisi.

Data tersebut memang sedikit mengurangi tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Pasar keuangan kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 39 persen. Angka itu turun dari sekitar 45 persen sebelum data PCE dirilis, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Namun, cerita untuk Desember justru berbeda. Peluang kenaikan suku bunga pada bulan tersebut berada di sekitar 90 persen.

Dolar AS memang melemah setelah data inflasi keluar. Tetapi mata uang tersebut masih berada di jalur menuju kenaikan bulanan. Bagi emas yang dihargai dalam dolar AS, kondisi ini menjadi persoalan tersendiri karena membuat logam mulia lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

The Fed menggunakan indikator PCE sebagai salah satu ukuran utama untuk mengejar target inflasi 2 persen. Setelah menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen pada bulan ini, bank sentral AS masih membuka kemungkinan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Di sinilah emas menghadapi dilema klasiknya. Logam mulia memang kerap diburu ketika investor mencari perlindungan dari inflasi dan ketidakpastian. Tetapi ketika suku bunga tinggi, aset yang memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.

Masalahnya kemudian datang dari arah lain. Harga minyak kembali naik dan bahkan berada di jalur menuju kenaikan bulanan yang cukup besar setelah pembicaraan Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang mengalami kebuntuan.

Mandeknya pembicaraan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa harga energi akan bertahan tinggi lebih lama. Kalau minyak terus mahal, inflasi berpotensi ikut bertahan dan bank sentral bisa kembali berada dalam posisi harus mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Jadi, emas kali ini bukan cuma berhadapan dengan suku bunga. Ia juga harus berhadapan dengan minyak yang kembali membuat cerita inflasi menjadi rumit.

Tekanan serupa juga terlihat pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 2,1 persen menjadi USD60,18 per ounce atau sekitar Rp1,08 juta. Platinum melemah 0,4 persen menjadi USD1.699,40 per ounce atau sekitar Rp30,42 juta, sedangkan paladium turun 1,5 persen menjadi USD1.204,53 per ounce atau sekitar Rp21,56 juta.

Ketiga logam tersebut juga berada di jalur penurunan secara bulanan. Meski begitu, emas, perak, dan platinum masih berada di jalur mencatat kenaikan secara kuartalan.

Kenapa Emas Tertekan Saat Minyak Naik dan Investor Justru Borong ETF?
Ada paradoks di pasar emas pada akhir September. Harga emas sedang tertekan, tetapi di saat yang sama investor belum benar-benar meninggalkan logam mulia tersebut.

Salah satu sumber tekanannya datang dari pasar energi. Reuters mencatat harga minyak Brent kontrak November ditutup di USD103,50 per barel atau sekitar Rp1,85 juta pada 30 September 2026. Sepanjang September, Brent mencatat kenaikan sekitar 14 persen, sedangkan minyak West Texas Intermediate atau WTI naik sekitar 5 persen.

Kenaikan tersebut membuat persoalan inflasi kembali menjadi perhatian. Pembicaraan Amerika Serikat dan Iran yang mandek ikut menjaga kekhawatiran terhadap pasokan dan harga energi. Reuters mencatat pasar produk bahan bakar AS juga masih ketat, dengan persediaan bensin turun 1,7 juta barel dan stok distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, berkurang 2,3 juta barel dalam sepekan.

Buat emas, persoalannya bukan semata-mata harga minyak yang mahal. Energi yang mahal dapat membuat inflasi lebih sulit turun. Kalau tekanan inflasi bertahan, ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga ikut menyempit. Di titik inilah emas harus berhadapan dengan aset berbunga.

Pasar obligasi AS juga memberi sinyal serupa. Data Departemen Keuangan AS menunjukkan imbal hasil Treasury 10 tahun berada di 5,26 persen pada 29 September dan naik menjadi 5,27 persen pada 30 September. Sementara yield Treasury 30 tahun berada di 5,64 persen pada 29 September dan 5,63 persen sehari setelahnya.

Reuters mencatat yield Treasury 10 tahun bahkan telah naik sekitar 81 basis poin sepanjang kuartal Juli hingga September, menjadi kenaikan kuartalan terbesar sejak 2022. Kenaikan tersebut membawa biaya pinjaman AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan emas sulit mempertahankan momentumnya. Emas tidak memberikan bunga atau kupon. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS berada di level tinggi, investor memiliki alternatif aset yang menawarkan pendapatan secara langsung.

Namun, cerita emas tidak berhenti di sana. Justru ada data yang menunjukkan investor masih menyimpan selera besar terhadap logam mulia. World Gold Council mencatat ETF berbasis emas global menerima arus dana masuk sebesar USD18 miliar atau sekitar Rp322,2 triliun sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut menjadi arus masuk bulanan terbesar kedua sepanjang sejarah.

Arus dana tersebut ikut mengerek total aset kelolaan ETF emas global sebesar 16 persen secara bulanan menjadi USD615 miliar atau sekitar Rp11,01 kuadriliun. Kepemilikan emas fisik yang mendukung produk-produk ETF tersebut juga bertambah 121 ton menjadi 4.189 ton, sekaligus mencatat rekor tertinggi.

Jadi, kalau September memperlihatkan harga emas yang melemah, data Agustus justru memperlihatkan cerita yang berbeda. Investor ETF belum sedang beramai-ramai meninggalkan emas. Bahkan, arus dana yang masuk menunjukkan permintaan investasi masih sangat kuat.

Perbedaan antara harga dan arus dana tersebut menjadi penting untuk membaca posisi emas saat ini. Tekanan jangka pendek datang dari kombinasi harga energi yang tinggi dan imbal hasil obligasi yang meningkat. Namun, pada saat yang sama, permintaan melalui ETF masih menunjukkan bahwa emas tetap menjadi bagian penting dari strategi investasi sebagian pelaku pasar.

Dengan kata lain, emas sedang menghadapi dua cerita sekaligus. Di pasar harian, minyak dan yield obligasi menjadi lawan yang cukup berat. Di pasar investasi, permintaan terhadap emas masih belum kehilangan tenaga.

Sumber: www.kabarbursa.com