Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Bursa Asia Berpotensi Menguat Ditopang Sinyal Suku Bunga The Fed

 

PedomanBengkulu.com - Bursa saham Asia diperkirakan menguat secara luas pada Rabu (14/10) setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) pulih dari level terendah sesi perdagangan. Penguatan tersebut terjadi menyusul sinyal bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif tahun depan.

Kontrak berjangka indeks saham Jepang dan Korea Selatan menguat, sementara kontrak berjangka Australia sedikit melemah. Indeks S&P 500 ditutup relatif tidak berubah, sedangkan harga obligasi pemerintah AS menguat setelah Gubernur Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan bahwa ia masih menilai kenaikan suku bunga satu kali lagi tahun ini sebagai langkah yang tepat, tetapi saat ini tidak melihat perlunya pengetatan lebih lanjut pada 2027. Dolar AS melemah.

Tekanan jual pada saham-saham produsen cip juga mereda, dengan indeks sektor tersebut memangkas kerugiannya menjadi 0,2%. Saham Microsoft Corp mencetak rekor tertinggi, sementara indeks Nasdaq 100 turun 0,3%.

Harga minyak AS sedikit menguat setelah minyak mentah Brent stabil menyusul kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Arab Saudi mencegat lebih banyak rudal dan drone yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman pada Selasa (13/10). Pertempuran melawan kelompok yang didukung Iran tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pernyataan Williams disampaikan menjelang rilis laporan inflasi penting AS yang dapat membantu menentukan seberapa cepat The Fed akan kembali mengubah suku bunga. Kenaikan harga bensin kemungkinan mendorong inflasi utama lebih tinggi pada September. Namun, meredanya tekanan harga yang mendasari inflasi dapat memberi ruang bagi para pembuat kebijakan untuk menunda pengetatan lebih lanjut.

“Konfirmasi bahwa inflasi mendasar melambat pada bulan lalu akan memungkinkan The Fed mempertimbangkan waktu kenaikan suku bunga berikutnya dengan lebih sabar, alih-alih terburu-buru,” kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.

Seiring dimulainya musim laporan keuangan di AS, JPMorgan Chase & Co, Citigroup Inc, dan Wells Fargo & Co mencatat rekor pendapatan dari aktivitas pinjaman pada kuartal III. Nasabah terus meminjam dana meskipun suku bunga meningkat.

Di Goldman Sachs Group Inc, kinerja perdagangan saham melampaui ekspektasi, sementara pendapatan dari perdagangan pendapatan tetap dan suku bunga jauh di bawah perkiraan Wall Street.

Meski demikian, pelaku pasar saham tampaknya masih relatif tenang. Indeks S&P 500 tidak pernah mencatat penurunan sebesar 1% selama 53 sesi perdagangan hingga Selasa. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bahwa ini merupakan rentang terpanjang tanpa penurunan sebesar itu sejak Januari 2020.

“Rentang panjang yang relatif tenang ini tentu mengejutkan, mengingat munculnya kembali berbagai kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir terkait kenaikan suku bunga, lonjakan imbal hasil obligasi, dan tingginya harga minyak,” kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments LLC.

Di Asia, saham-saham India akan menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman mengatakan dirinya terbuka untuk membahas pajak transaksi perdagangan saham. Langkah itu dipertimbangkan ketika India berupaya meningkatkan aliran masuk modal. Indeks Nifty 50 memperpanjang penguatannya saat Sitharaman menyampaikan pernyataan tersebut pada Selasa dan ditutup naik 1,6%, mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari dua bulan.

Di pasar lain, yen relatif tidak berubah pada awal perdagangan setelah sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan para pejabat Bank of Japan (BOJ) cenderung menolak kenaikan suku bunga dua kali berturut-turut dalam pertemuan bulan ini, sebuah langkah yang jarang terjadi. Meski demikian, peluang kenaikan berikutnya paling cepat pada Desember masih terbuka.

Di AS, pernyataan Williams mendorong imbal hasil obligasi pemerintah turun. Imbal hasil obligasi bertenor dua tahun hampir menghapus kenaikan sebesar tiga basis poin. Ia memperkirakan inflasi akan melambat “cukup signifikan” dan mendekati target The Fed sebesar 2% tahun depan, seiring memudarnya dampak tarif dan guncangan harga energi. Kondisi tersebut akan mengurangi kebutuhan untuk melakukan pengetatan lebih lanjut.

“Saya tidak mengubah pandangan bahwa kenaikan suku bunga satu kali lagi mungkin tepat dilakukan,” kata Williams dalam wawancara dengan Bloomberg News di kantor Federal Reserve Bank of New York pada Selasa. “Untuk saat ini, saya tidak melihat alasan untuk meyakini bahwa kita perlu melakukan pengetatan lebih lanjut” setelah itu.


Sumber: www.bloombergtechnoz.com