PedomanBengkulu.com- Harga emas ambruk ke level terendah dalam lebih dari tujuh minggu setelah lonjakan harga minyak akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran inflasi serta spekulasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Dilansir Reuters, harga emas spot turun 3,5 persen menjadi 4.136,81 dolar AS per ounce pada Senin (28/9/2026).
Harga emas bahkan sempat jatuh hingga 4.110,55 dolar AS per ounce, level terendah sejak 5 Agustus 2026.
Kontrak berjangka emas AS juga ditutup turun 3,5 persen menjadi 4.168,40 dolar AS per ounce.
Sementara itu, Al Jazeera melaporkan harga emas spot turun 3,3 persen menjadi 4.146,51 dolar AS per ounce pada Senin.
Penurunan harga emas terjadi ketika harga minyak melonjak sekitar 3 persen setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran Iran untuk menyelesaikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Kondisi tersebut kemudian memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau kembali menaikkannya.
Secara tradisional, emas dikenal sebagai salah satu aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian.
Namun, kondisi pasar kali ini justru membuat harga emas tertekan.Menurut laporan Reuters, kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury menjadi kombinasi yang menekan logam mulia tersebut.
Harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi itu menjadi persoalan bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan bunga.
Ketika imbal hasil obligasi meningkat, investor dapat mengalihkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil.
Sherif Othman, CEO Poise Investment Advisors yang berbasis di Maryland, menjelaskan hubungan tersebut.
"Emas tidak menghasilkan bunga, jadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah naik, investor akan menjauhi emas, yang berdampak pada nilainya," kata Othman kepada Al Jazeera.
Othman mengatakan kondisi tersebut mungkin tidak langsung memberikan dampak signifikan kepada masyarakat biasa.
Investor yang sebelumnya beralih ke emas dapat merasakan tekanan tersebut, terutama ketika tingkat inflasi masih tinggi.
Pasar Bertaruh The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga
Tekanan terhadap emas semakin besar karena pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember.
Para pedagang memperkirakan peluang sekitar 94 persen untuk satu kali kenaikan suku bunga pada Desember berdasarkan data FedWatch Tool milik CME.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase pada awal September.
Bank sentral AS juga mengisyaratkan kemungkinan adanya kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Sejumlah pembuat kebijakan kemudian memperingatkan bahwa risiko inflasi masih tinggi dan suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack menjadi salah satu pejabat terbaru yang kembali menyampaikan pandangan tersebut.
Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat emas berada di bawah tekanan.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, yang kemudian dapat mendorong bank sentral memperketat kebijakan moneter.
Kondisi tersebut membuat aset yang menawarkan imbal hasil menjadi lebih menarik dibandingkan emas.
Dolar AS Ikut Menekan Harga Emas
Selain prospek suku bunga, penguatan dolar AS turut menekan harga emas.
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan.
Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS terus meningkat.
Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan bunga.
Menurut Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, kombinasi kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah dan penguatan dolar AS memberikan tekanan kuat terhadap harga emas.
Wyckoff mengatakan kenaikan imbal hasil Treasury dan posisi dolar AS yang kuat menciptakan "badai sempurna" yang mendorong harga logam mulia turun tajam.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian
Pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Menurut Reuters, data tersebut mencakup lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), serta laporan non-farm payrolls.
Data tersebut akan menjadi perhatian investor karena dapat memberikan petunjuk mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.
Pergerakan harga minyak juga tetap menjadi perhatian karena konflik AS-Iran dan ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz masih memengaruhi pasar energi.
Al Jazeera melaporkan harga minyak Brent sempat naik lebih dari 3 persen setelah Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari.
Logam Mulia Lain Ikut Turun
Penurunan harga tidak hanya terjadi pada emas.
Harga perak di pasar spot turun 4,5 persen menjadi 61,39 dolar AS per ounce.
Harga platinum juga turun 2,8 persen menjadi 1.727,88 dolar AS per ounce.
Sementara itu, harga paladium turun 3,6 persen menjadi 1.220,65 dolar AS per ounce.
Sumber: m.tribunnews.com