PedomanBengkulu.com, Lebong - Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dilakukan ketika tubuh mulai merasakan keluhan. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, hingga kepatuhan terhadap pengobatan menjadi bagian penting dalam mencegah penyakit dan menjaga kondisi pasien dengan penyakit kronis.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam pelayanan di Poli Spesialis Penyakit Dalam RSUD Lebong yang setiap harinya menangani sedikitnya 20 pasien dengan beragam kondisi kesehatan, mulai dari pemeriksaan rutin hingga pengobatan lanjutan penyakit kronis.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Lebong, dr. Yessi Apriance, Sp.PD, mengatakan pasien yang datang memiliki kondisi yang beragam. Di antaranya pasien dengan penyakit jantung yang membutuhkan pemantauan dan pengobatan secara berkala.
“Rata-rata minimal 20 pasien per hari berkunjung ke Poli Penyakit Dalam. Sebagian datang untuk pemeriksaan rutin maupun melanjutkan pengobatan, termasuk pasien dengan riwayat penyakit jantung, seperti penyakit jantung kronis, pembengkakan jantung, hingga pasien yang sudah menjalani pemasangan ring jantung,” ungkap dr. Yessi.
Selain penyakit jantung, lanjut dr Yessi, pelayanan penyakit dalam juga mencakup berbagai kondisi lain, seperti batu empedu, keluhan saluran pencernaan berupa maag atau dispepsia, diabetes melitus, serta berbagai penyakit kronis lainnya.
Untuk kasus tuberkulosis (TBC), sebagian pasien dapat datang melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD), khususnya ketika sudah mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
“Untuk kasus TBC, beberapa pasien masuk melalui IGD karena rata-rata datang sudah dalam kondisi sesak napas, demam kronis, dan kekurangan energi protein yang berlangsung lama,” jelasnya.
Keluhan Maag Jangan Selalu Dianggap Sepele
Di tengah beragamnya kondisi yang ditangani, keluhan yang oleh masyarakat sering disebut “maag” juga menjadi salah satu keluhan yang perlu mendapat perhatian.
Dr. Yessi menjelaskan bahwa istilah maag dalam kehidupan sehari-hari dapat merujuk pada berbagai keluhan saluran pencernaan. Salah satunya adalah dispepsia, yaitu kumpulan gejala berupa rasa tidak nyaman atau nyeri pada bagian atas perut.
Gejalanya dapat berupa mual, muntah, perut kembung, cepat kenyang, sering bersendawa, rasa terbakar atau tidak nyaman di ulu hati, hingga penurunan nafsu makan.
“Maag atau dispepsia bukan hanya sekadar sakit perut. Keluhannya bisa beragam dan penyebabnya juga tidak selalu sama. Karena itu, kalau keluhan terus berulang atau menetap, perlu dicari penyebabnya,” terang dr. Yessi.
Menurutnya, pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan tinggi lemak atau makanan olahan, makan dalam jumlah berlebihan, serta kebiasaan makan terlalu dekat dengan waktu tidur dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang.
Selain faktor makanan, kondisi psikologis seperti stres juga dapat berperan dalam munculnya maupun memburuknya keluhan saluran pencernaan.
Pola Hidup Sehat Jadi Bagian Penting Pencegahan
Dr. Yessi menekankan bahwa menjaga pola hidup sehat bukan hanya berkaitan dengan kesehatan lambung, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menurunkan risiko berbagai penyakit tidak menular.
Masyarakat dianjurkan membiasakan pola makan teratur dengan porsi yang wajar, memilih makanan yang lebih sehat, serta membatasi makanan tinggi lemak dan makanan olahan.
“Yang paling penting adalah membiasakan pola makan yang teratur dengan porsi yang wajar. Pilih makanan yang lebih sehat, batasi makanan tinggi lemak dan makanan olahan, serta hindari makan terlalu banyak menjelang tidur,” sarannya.
Selain memperhatikan makanan, masyarakat juga perlu mencukupi kebutuhan cairan dengan air putih, melakukan aktivitas fisik secara rutin, menjaga berat badan, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko penyakit.
Bagi masyarakat yang telah memiliki diabetes, penyakit jantung, maupun penyakit kronis lainnya, pemeriksaan rutin dan kepatuhan terhadap pengobatan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi tetap terkontrol.
Kapan Keluhan Maag Perlu Diperiksakan
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketika keluhan yang dianggap sebagai “maag” muncul berulang atau tidak kunjung membaik.
Dr. Yessi mengingatkan masyarakat agar tidak terus-menerus mengandalkan obat yang dibeli sendiri tanpa mengetahui penyebab keluhan yang dialami. Keluhan yang menetap, semakin berat, atau disertai tanda-tanda tertentu perlu mendapatkan evaluasi medis.
Berdasarkan kondisi dan faktor risiko pasien, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebabnya, termasuk pemeriksaan endoskopi bila diperlukan.
“Kalau keluhan menetap, semakin berat, atau disertai tanda-tanda yang mengkhawatirkan, jangan ditunda untuk memeriksakan diri. Dengan pemeriksaan yang tepat, kita bisa mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai,” pungkas dr. Yessi.
Pesan dari dr Yessi Apriance Sp.PD, menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika sakit sudah muncul. Membiasakan pola makan yang baik, aktif bergerak, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak dini.[spy]