Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Venezuela, Amerika, dan Runtuhnya Mitos Kekuatan Tanpa Kepemimpinan Islami

PedomanBengkulu.com - Riuh perbincangan dunia tentang Amerika Serikat, Venezuela, dan sosok Nicolás Maduro—apa pun perkembangan faktualnya—sejatinya membuka ruang perenungan yang lebih mendasar: apakah yang sesungguhnya menjadikan sebuah negara benar-benar kuat?

Sejarah modern kerap menjawabnya dengan ukuran material: kekuatan militer, dominasi ekonomi, dan pengaruh politik global. Amerika Serikat, dengan seluruh instrumen kekuasaannya, sering diposisikan sebagai simbol negara adidaya. Namun pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kekuatan yang bertumpu semata pada daya paksa dan kepentingan duniawi tidak pernah sepenuhnya kokoh. Ia bisa menundukkan wilayah, tetapi gagal membangun legitimasi moral; bisa memaksa rezim jatuh, tetapi tak mampu melahirkan ketertiban yang berkeadilan dan berumur panjang.

Kekuasaan semacam itu cenderung reaktif, penuh kontradiksi, dan berumur pendek. Ia bergantung pada situasi, aliansi, dan kalkulasi untung-rugi. Ketika kepentingan berubah, komitmen pun ditinggalkan. Maka tak mengherankan jika banyak intervensi negara adidaya justru meninggalkan luka sosial, instabilitas, dan kehancuran peradaban.

Sejarah Islam memperlihatkan jalan yang sama sekali berbeda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangun kekuasaan bukan dari keunggulan material, melainkan dari fondasi iman yang lurus kepada Allah subḥānahu wa ta‘ala. Negara Madinah berdiri di atas tauhid, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab moral. Para sahabat radiallahu ‘anhum dididik untuk memahami kekuasaan sebagai amanah, bukan alat pemuasan hawa nafsu.

Padahal, bangsa Arab ketika itu hanyalah masyarakat gersang, terpecah, dan terbelakang dalam peta geopolitik dunia. Namun dengan iman sebagai poros peradaban, mereka mampu menumbangkan dua kekuatan adidaya zamannya: Persia dan Romawi. Penaklukan itu bukan sekadar ekspansi wilayah, melainkan transformasi peradaban—dari tirani menuju keadilan, dari kegelapan menuju ilmu pengetahuan.

Yang lebih penting, kekuasaan Islam tidak berhenti pada kemenangan militer. Ia melahirkan peradaban yang bertahan lebih dari 14 abad, memberi sumbangan besar bagi hukum, ilmu, budaya, dan tata kelola masyarakat dunia. Ini adalah bukti bahwa iman yang benar melahirkan daya tahan sejarah, sesuatu yang tidak dimiliki oleh kekuatan hegemonik modern.

Dari sini menjadi jelas: tidak ada kekuatan negara yang benar-benar hebat tanpa landasan iman dan moralitas yang kokoh. Senjata dapat menaklukkan, tetapi iman menegakkan. Kekuasaan dapat memaksa, tetapi iman mengikat hati manusia.

Maka tantangan terbesar bangsa-bangsa hari ini bukanlah bagaimana menjadi paling ditakuti, melainkan bagaimana menjadi paling adil dan bermakna. Sebab sejarah telah mengajarkan satu kebenaran yang tak terbantahkan: kekuatan yang berpisah dari iman hanya akan menjadi bayangan besar yang perlahan runtuh oleh kehampaannya sendiri.