PedomanBengkulu.com- Pernahkah kita pikir, mengapa negeri yang kaya raya ini masih saja dilanda kemiskinan? Mengapa pemimpin yang kita pilih sering kali justru mengecewakan? Mengapa keadilan terasa begitu mahal dan sulit dijangkau?
Jawabannya mungkin bukan di istana bukan di parlemen. Tapi di tempat yang kita kira suci dan aman: masjid.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini bukan sekadar nasihat. Ini adalah hukum Allah yang tak pernah berubah. Keadaan bangsa, suasana negeri, dan nasib rakyat—semuanya bergantung pada satu hal: amal. Dan amal yang paling pertama diperhatikan Allah adalah amal di rumah-Nya: masjid.
Masjid adalah bibit. Jika bibitnya baik, pohonnya akan rindang dan buahnya manis. Jika bibitnya rusak, pohonnya akan kerdil dan buahnya pahit
Di masjid, kita belajar kejujuran. Di masjid, kita dilatih bersatu. Di masjid, kita diajarkan peduli sesama. Di masjid, kita ditempa menjadi pemimpin yang amanah. Jika di sini kita gagal, lalu di mana lagi kita akan berhasil?
Pengurus masjid adalah guru pertama bagi calon pemimpin bangsa. Ketika seorang anak melihat pengurus mengambil uang infak tanpa pertanggungjawaban, ia tumbuh dengan anggapan bahwa mengambil hak orang lain itu lumrah.
Ketika ia melihat jamaah diusir hanya karena beda pendapat soal ibadah, ia terbiasa memandang perbedaan sebagai ancaman.
Ketika ia melihat masjid semakin megah namun orang di sekitarnya tetap menderita, ia belajar bahwa kemewahan lebih berharga daripada kemanusiaan.
Dan kelak, anak kecil itu bisa saja menjadi pengurus negara.
Mari kita telusuri bagaimana kekeliruan pengurusan rumah Allah menjadi bencana besar bagi bangsa.
🔹 Saat Masjid Saling Menyalahkan, Negara Terpecah Belah
Perbedaan cara shalat, perbedaan pendapat soal ibadah—hal-hal yang masih dalam lingkup ijtihad—sering dijadikan alasan untuk saling mencela, saling mengkafirkan, bahkan saling menjauh.
Masjid yang seharusnya menjadi tempat berkumpulnya umat justru berubah menjadi arena perpecahan.
Lihatlah ke ruang negara. Pemimpin saling menjatuhkan. Kebijakan untuk rakyat tertahan karena konflik kepentingan. Mereka sibuk berdebat siapa benar dan siapa salah, lupa bahwa rakyat sedang menunggu keadilan. Bukankah ini cermin dari apa yang kita lakukan di masjid?
🔹 Saat Masjid Korup, Negara Pun Korups
Masih ada yang menganggap: "Ah, itu cuma uang masjid. Tidak seberapa." Padahal ini bukan soal jumlah, tapi soal pola pikir.
Ketika pengurus masjid terbiasa mengelola harta amanah tanpa rasa takut kepada Allah, sifat itu akan terbawa ke mana pun mereka pergi. Kelak, ketika mereka atau orang yang dididik dengan pola pikir itu duduk di kursi kekuasaan, mereka akan melakukan hal yang sama. Bedanya, kali ini yang dikelola adalah uang rakyat—triliunan rupiah.
Konon banyak pelaku korupsi di negeri ini adalah orang yang rajin ke masjid. Bahkan tak jarang mereka adalah pengurus masjid. Mengapa? Karena ibadah mereka belum sepenuhnya mengubah cara pandang mereka terhadap harta dan amanah.
🔹 Saat Masjid Mewah, Tapi Jama'ah Menderita
Kita bisa melihat masjid dengan karpet tebal, AC dingin, dan hiasan indah. Namun di luar pagar, masih ada jamaah yang berjuang menafkahi keluarga. Pengurus sibuk mempercantik bangunan, namun lupa memperhatikan nasib umat di sekitarnya.
Pola pikir ini kemudian tercermin dalam kebijakan negara. Pembangunan fisik tampak megah, namun pelayanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial justru terabaikan. Inilah buah dari sikap mengutamakan bentuk di atas substansi.
🔹 Saat Masjid Mengabaikan Perempuan dan Pemuda
Masih banyak yang memandang perempuan dan pemuda sekadar sebagai objek pelayanan, bukan sebagai bagian penting yang harus diberi ruang dan peran. Padahal sejarah Islam mencatat: Sayyidah Khadijah adalah penopang dakwah, Aisyah adalah rujukan ilmu, dan pemuda seperti Mush'ab bin Umair serta Ali bin Abi Thalib adalah tulang punggung perjuangan.
Jika masjid tidak melibatkan mereka, maka negara pun kehilangan potensi besar. Bangsa menjadi lemah karena membuang tenaga, pikiran, dan semangat yang seharusnya menjadi kekuatan masa depan.
🔹 Saat Masjid Dijadikan Alat Politik
Ketika mimbar masjid digunakan untuk berkampanye, ketika dana masjid dialirkan untuk kepentingan kelompok tertentu, maka rumah Allah pun kehilangan kemurniannya.
Dampaknya, agama dijadikan alat di mana-mana. Pemimpin memanfaatkan sentimen keagamaan demi kekuasaan, sementara rakyat semakin terbelah dan dimanfaatkan. Padahal masjid adalah tempat kembali kepada Allah, bukan tempat untuk membagi umat demi kepentingan sesaat.
Pemimpin Adalah Cermin dari Amal Rakyat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Seperti apa kalian, maka seperti itulah pemimpin yang akan diangkat untuk kalian."
Ini adalah keadilan Allah yang sempurna. Allah tidak menempatkan pemimpin secara acak. Dia mengangkat pemimpin yang sepadan dengan amal dan watak umatnya.
Jika kita menginginkan pemimpin yang jujur, mulailah dengan menjaga kejujuran di masjid.
Jika kita menginginkan pemimpin yang menyatukan, mulailah dengan menjaga persatuan di masjid.
Jika kita menginginkan pemimpin yang peduli rakyat, mulailah dengan peduli pada jamaah di sekitar masjid.
Mari Mulai dari Masjid Kita Sendiri
Berhentilah menyalahkan keadaan atau pemimpin. Mari kita introspeksi diri dan mulai perbaiki dari tempat yang paling dekat dengan kita:
✅ Jadikan masjid rumah bagi semua, tempat persatuan bukan perpecahan.
✅ Kelola harta masjid dengan jujur, terbuka, dan penuh rasa takut kepada Allah.
✅ Perhatikan nasib sesama, jangan hanya bangga pada kemegahan bangunan.
✅ Berikan peran dan kepercayaan kepada perempuan dan pemuda.
✅ Kembalikan masjid pada fungsinya sebagai rumah Allah, bukan panggung kepentingan duniawi.
Allah Maha Besar dan Maha Melihat. Tak ada amal sekecil apa pun yang luput dari perhatian-Nya. Jangan remehkan peran masjid dan amal para pengurusnya. Karena dari sinilah Allah menentukan arah dan nasib seluruh negeri.
Mari kita perbaiki masjid kita. Bukan hanya fisiknya, tapi juga hatinya, perilakunya, dan tata kelolanya. Jika kita sudah melakukannya, percayalah janji Allah yang tak pernah ingkar:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Mari kita ubah diri kita. Mulai dari masjid. Mulai dari hari ini.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita negeri yang baik, pemimpin yang adil, dan kehidupan yang penuh berkah.
Amin, ya Rabbal 'alamin
Catatan: Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan semua pengurus masjid. Masih banyak pengurus yang luar biasa amanah dan berdedikasi. Tulisan ini adalah seruan untuk introspeksi bersama, karena kita semua adalah bagian dari umat ini.