PedomanBengkulu.com, Jakarta- Nilai tukar rupiah terus bergerak melemah. Pelemahan ini utamanya dipengaruhi oleh sentimen kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak. Di sisi lain, Bank Indonesia akan menempuh langkah intervensi demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Mengutip Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (21/9/2026) ditutup di level Rp 17.813 per dolar AS atau melemah sekitar 1 persen dalam sepekan terakhir. Secara tahun kalender berjalan, rupiah terdepresiasi 6,5 persen.
Pada saat yang sama, data Trading Economics menunjukkan, harga minyak mentah Brent berada di kisaran level 101 dolar AS per barel. Lonjakan harga minyak ini terjadi setelah perang antara AS-Iran kembali memanas pada awal September 2026.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel.
”Sentimen ini meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal. Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
ia menilai, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37 persen. Di sisi lain, posisi cadangan devisa juga meningkat ke level 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
Kendati demikian, BI akan terus berada di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, antara lain, melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter.
"Pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh berbagai kebijakan domestik."
Selain itu, bank sentral akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai. Dalam hal ini, BI juga akan memberikan insentif bagi swap lindung nilai.
”Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujar Erwin.
Ia menambahkan, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga akan terus dilakukan untuk mendorong arus masuk modal asing, antara lain dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Sentimen domestik
Dihubungi secara terpisah, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh berbagai kebijakan domestik.
Salah satunya, pasar masih akan mencermati keputusan BI di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi. Dengan perkembangan ini, pasar memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga lanjutan oleh BI.
”Sebagian (bank sentral) mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan. Namun, melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin,” katanya.
Selain itu, pasar juga menakar komitmen mengenai disiplin fiskal di bawah ambang batas maksimal sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski demikian, angka ini belum tentu menjamin ketahanan ekonomi nasional jika tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.
Di sisi lain, pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, berpendapat, depresiasi rupiah bukan hanya dipengaruhi oleh keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps.
”Tekanan eksternal memang nyata. Akan tetapi, kekuatan rupiah juga ditentukan oleh fondasi ekonomi domestik,” ujarnya.
Menurut dia, pelemahan nilai tukar juga dipengaruhi oleh bantalan ketahanan eksternal domestik. Bantalan ini, antara lain, tecermin dari defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar 12,5 miliar dolar AS atau sekitar 3,3 persen PDB pada triwulan II-2026.
"Modal portofolio Ketergantungan berlebihan kepada modal asing membuat rupiah selalu sensitif terhadap kondisi global."
Defisit transaksi berjalan tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia semakin membutuhkan aliran modal untuk menutup kebutuhan devisa. Apalagi, investasi langsung dan portofolio masih mampu penopang utama neraca pembayaran.
”Modal portofolio dapat berubah arah dengan cepat ketika yield obligasi Amerika naik, risiko geopolitik meningkat, atau persepsi terhadap ekonomi Indonesia memburuk. Ketergantungan berlebihan kepada modal asing membuat rupiah selalu sensitif terhadap kondisi global,” tutur Achmad.