Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Kekuatan Cinta di Balik Duka Warga Pengantungan

 

PedomanBengkulu.com, Bengkulu- Api boleh melalap rumah dan harta benda dalam sekejap. Namun, bagi warga korban kebakaran di RT 5 Kelurahan Pengantungan, Kota Bengkulu, rasa kehilangan itu sedikit terobati oleh satu hal. Mereka tidak dibiarkan menghadapi musibah seorang diri.

Lima hari setelah kebakaran hebat yang menghanguskan 21 unit rumah dan berdampak terhadap 25 kepala keluarga (KK), bantuan masih terus berdatangan. Makanan, sembako, pakaian, obat-obatan hingga kebutuhan sehari-hari silih berganti diterima dan disalurkan kepada warga terdampak.

Di tengah puing-puing rumah yang tersisa, aktivitas warga yang kehilangan tempat tinggal pun masih berlangsung. Namun ada wajah-wajah yang berusaha tegar karena perhatian dan bantuan datang sejak hari pertama musibah.

Salah satunya Rena (42), warga yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut. Rena masih mengingat jelas bagaimana dirinya mengetahui rumahnya terbakar.

Saat kejadian, ia sedang berjualan di pasar. Telepon dari sang suami tiba-tiba masuk dan memintanya segera pulang.

"Suami saya telepon, disuruh pulang. Saya tanya kenapa, katanya rumah kebakaran. Saya langsung pulang. Sampai di rumah, api sudah berkobar," tutur Rena.

Begitu tiba, api sudah membesar dari bagian dapur. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Dalam kepanikan, ia bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga miliknya.

Surat-surat penting seperti kartu keluarga, akta kelahiran anak, surat nikah, BPKB kendaraan hingga uang tunai ikut terbakar.

Rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal bagi Rena. Ia telah menetap di sana selama puluhan tahun. Rumah itu merupakan rumah milik orang tuanya.

"Sudah lama saya tinggal di sini, puluhan tahun," katanya.
Kehilangan itu tentu tidak ringan. Namun di tengah kesedihan, Rena mengaku bersyukur karena bantuan datang begitu cepat.

Sejak awal kejadian, Pemerintah Kota Bengkulu bergerak membantu warga terdampak. Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Bengkulu berjibaku memadamkan api hingga akhirnya kebakaran dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Pasca kebakaran, bantuan tidak berhenti. Melalui Kelurahan Pengantungan, bantuan dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) terus disalurkan. Mulai dari Dinas Sosial, BPBD, Dinas Kesehatan, Baznas Kota Bengkulu, Rumah Sakit Harapan dan Doa, sekolah-sekolah SD dan SMP, puskesmas, kecamatan hingga OPD di lingkungan Pemkot Bengkulu.

Dapur umum juga terus berjalan untuk memastikan kebutuhan makanan warga terpenuhi.
Bagi Rena, bantuan tersebut bukan sekadar barang yang diterima. Lebih dari itu, bantuan menjadi tanda bahwa pemerintah hadir ketika masyarakat sedang berada di titik paling sulit.

"Alhamdulillah, bantuan dari Pemkot Bengkulu seperti makanan, pakaian dan dapur umum. Bantuan yang diberikan cukup, bahkan sangat banyak. Kami sangat terbantu," ujarnya.

Rena bahkan menyampaikan terima kasih secara khusus kepada Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi dan jajaran Pemerintah Kota Bengkulu.

"Terima kasih banyak Pak Wali Kota, khususnya Pemkot Bengkulu yang sudah memberikan bantuan kepada kami sehingga sangat meringankan beban kami. Kami betul-betul merasakan kehadiran pemerintah saat kami sedang berduka seperti ini," ucapnya.

Bantuan pemerintah juga menyentuh kebutuhan anak-anak korban kebakaran. Seragam sekolah dan perlengkapan sekolah anak Rena yang ikut terbakar akan dibantu pengadaannya kembali melalui Dinas Pendidikan.

"Baju seragam sekolah anak saya, termasuk sepatu yang ikut terbakar juga akan dibelikan yang baru oleh Pemkot Bengkulu melalui Dinas Pendidikan. Alhamdulillah," katanya.

Untuk dokumen kependudukan yang ikut musnah, warga juga tidak harus menghadapi persoalan itu sendirian. Dokumen seperti KK dan akta kelahiran tengah dibantu pengurusannya melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kota Bengkulu.

**Tidak Membiarkan Warga Berjuang Sendiri**
Ketua RT 5 Kelurahan Pengantungan, Aulia Rahman, menjadi salah satu pihak yang menyaksikan langsung bagaimana bantuan datang sejak hari pertama. Menurutnya, respons cepat Pemerintah Kota Bengkulu sangat dirasakan warga.

"Alhamdulillah cepat tanggap pemerintah kota kita. Pak Wali Kota juga turun langsung pada hari pertama. Beliau juga mengerahkan untuk dapur umum," kata Aulia.

Tidak hanya pemerintah, kepedulian masyarakat juga mengalir deras. Para donatur berdatangan membawa berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, sembako, makanan ringan, roti hingga pakaian layak pakai.

Menurut Aulia, perhatian yang datang membuat warga korban kebakaran merasa tidak sendirian menghadapi musibah.

"Warga sangat terbantu dengan cepat tanggapnya pemerintah kota dan para donatur yang ada," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Bengkulu juga turut turun langsung memberikan perhatian kepada para korban. Sementara dari tingkat kecamatan dan kelurahan, pendampingan dilakukan setiap hari.

Camat Ratu Samban bersama Lurah Pengantungan turut mendampingi warga dari pagi hingga malam.
"Walaupun dalam keadaan duka, mereka tetap merasa terhibur karena banyak yang memperhatikan," tutur Aulia.

Untuk tempat tinggal sementara, sebagian warga memilih tinggal bersama keluarga. Ada yang menetap di rumah anak, saudara, sepupu maupun orang tua.

Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan alternatif tempat tinggal sementara, termasuk rumah susun, rumah singgah, posko, musala dan kantor lurah. Namun warga memilih tinggal bersama keluarga karena masih memiliki kerabat yang bersedia menampung.

**Setiap Bantuan Langsung Disalurkan**
Sementara itu, Lurah Pengantungan, Lilis Suryani, mengatakan bantuan yang masuk tidak ditumpuk begitu saja. Setiap bantuan yang diterima di kantor kelurahan langsung disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

"Setiap bantuan yang masuk ke kantor lurah langsung diterima dan saat itu juga langsung kita salurkan kepada korban," jelas Lilis.

Bahkan kebutuhan makanan warga diperhatikan setiap hari.
Setiap pagi, para korban mendapatkan sarapan yang berasal dari bantuan OPD. Setiap hari terdapat empat OPD yang bergiliran membantu menyediakan sarapan, di samping keberadaan dapur umum yang juga terus berjalan.

"Setiap hari para korban diberikan sarapan pagi, bantuan dari OPD-OPD. Setiap hari ada empat OPD yang membantu sarapan pagi meskipun di lokasi juga ada dapur umum," katanya.

Lilis juga mengaku hampir setiap hari turun langsung menemui para korban.
Bukan hanya untuk memastikan bantuan tersalurkan, tetapi juga untuk mendengar kebutuhan warga secara langsung.

"Alhamdulillah bantuan sampai hari ini terus berdatangan dari banyak pihak," ujarnya.

**Ketika Kepedulian Menjadi Penguat**
Selain bantuan dari Pemerintah Kota Bengkulu, para korban juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, Gubernur Bengkulu, instansi vertikal, perusahaan swasta, sekolah, komunitas, donatur pribadi dan berbagai pihak lainnya.

Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi juga turun langsung ke lokasi dan memberikan bantuan kepada warga terdampak.

Bagi warga yang kehilangan hampir seluruh harta benda, bantuan tersebut mungkin tidak serta-merta mengembalikan rumah yang terbakar atau barang-barang yang hilang.

Tetapi perhatian yang diberikan memiliki arti lain. Ia membuat mereka tahu bahwa di tengah musibah, masih ada banyak tangan yang terulur.

Bahwa ketika rumah mereka tidak lagi berdiri, masih ada tempat untuk berteduh. Ketika dapur mereka tidak lagi bisa digunakan, masih ada makanan yang datang. Ketika pakaian mereka habis terbakar, masih ada yang memberikan pakaian.

Dan ketika dokumen penting mereka musnah, masih ada pemerintah yang membantu mengurusnya kembali.

Hari kelima pascakebakaran, asap memang telah menghilang. Api telah padam. Namun proses untuk bangkit masih panjang. Warga masih harus menata kembali kehidupan mereka dari awal.

Namun setidaknya, untuk hari-hari pertama yang begitu berat, mereka tidak menghadapinya sendirian. Bagi Rena dan warga korban kebakaran lainnya, itulah yang paling mereka rasakan.

Di tengah kehilangan, kehadiran pemerintah dan kepedulian banyak orang telah menjadi penguat untuk kembali berdiri. (**)