PedomanBengkulu.com- Senja di Desa Taba Anyar, Kabupaten Lebong, Selasa petang itu terasa lebih hening dari biasanya. Langit perlahan meredup ketika satu per satu pelayat mengiringi langkah terakhir seorang perempuan yang sepanjang hidupnya lebih memilih menjadi cahaya di dalam rumah daripada berdiri di atas panggung kehidupan.
Tepat pukul 17.10 WIB, tanah kampung halamannya menerima kembali jasad Nurhayati binti Jamaludin. Di sanalah kisah panjang tentang seorang ibu sederhana, yang diam-diam menanam begitu banyak kebaikan, berakhir di dunia, tetapi sesungguhnya baru memulai babak baru dalam ingatan orang-orang yang mencintainya.
Beberapa jam sebelumnya, keluarga, kerabat, dan masyarakat mengantarnya dengan doa yang tak putus-putus. Mereka tidak hanya kehilangan seorang ibu atau nenek. Mereka kehilangan sosok yang selama puluhan tahun menghadirkan kehangatan melalui hal-hal yang tampak sederhana, tetapi justru paling sulit digantikan.
Nurhayati binti Jamaludin mengembuskan napas terakhir pada Selasa, 7 Juli 2026, pukul 21.17 WIB di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak.
Dalam hidupnya, Nurhayati tidak dikenal karena pidato-pidato besar atau jabatan yang disandang. Ia dikenal karena kebiasaannya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Usia yang terus bertambah tak membuat semangat ibadahnya memudar. Puasa sunah Senin dan Kamis tetap dijalani. Puasa Ayyamul Bidh tak pernah ingin dilewatkan. Hari-harinya dipenuhi salat, zikir, serta mendengarkan tausiyah Ustaz Abdul Somad yang menjadi teman setia di waktu senggang.
Barangkali, bagi sebagian orang, semua itu hanyalah rutinitas. Namun, bagi keluarga, itulah pelajaran paling berharga yang diwariskan tanpa banyak kata. Keteladanan tidak selalu lahir dari nasihat yang panjang, melainkan dari kebiasaan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Kesalehan Nurhayati tumbuh dalam kesunyian. Ia tidak mencari pujian. Ia hanya berusaha menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta.
Ada kebiasaan kecil yang hingga kini masih dikenang banyak orang. Senyumnya mudah merekah. Tutur katanya lembut. Rumahnya terbuka bagi siapa saja.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individualistis, ia mempertahankan satu nilai yang kini terasa semakin langka: memuliakan tamu sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia.
Kebaikan-kebaikan kecil itulah yang akhirnya menjelma menjadi kenangan besar.
Dari rahim perempuan sederhana itu lahirlah Hj Leni Haryati John Latief, yang kini mengemban amanah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan Bengkulu.
Perjalanan pengabdian tersebut tentu tidak lahir dalam sekejap. Ada nilai-nilai yang tumbuh sejak masa kanak-kanak, dipupuk oleh kasih sayang seorang ibu yang mengajarkan tentang kejujuran, kesederhanaan, kepedulian, dan keikhlasan.
Warisan itu tidak berhenti pada satu generasi.
Putri Senator Leni John Latief, Hj Riri Damayanti John Latief, lebih dulu mencatat sejarah sebagai senator termuda saat pertama kali dilantik menjadi anggota DPD RI pada usia 24 tahun untuk periode 2014–2019. Kepercayaan masyarakat Bengkulu kembali mengantarkannya melanjutkan amanah hingga dua periode berturut-turut.
Melihat perjalanan itu, terasa bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar pilihan politik. Ia tumbuh dari nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan sejak dalam keluarga.
Barangkali, itulah warisan terbesar seorang ibu.
Tak mengherankan jika kabar wafatnya Nurhayati binti Jamaludin menghadirkan duka yang meluas.
Ucapan belasungkawa datang dari pimpinan dan anggota MPR RI, DPD RI, DPRD, jajaran Kepolisian, Bupati dan Wakil Bupati Lebong, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga para pengusaha.
Namun, di balik banyaknya karangan bunga dan ucapan belasungkawa, ada sesuatu yang jauh lebih bermakna: doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh orang-orang yang pernah merasakan kebaikan almarhumah.
Sebab, ukuran kehidupan seseorang tidak hanya dihitung dari berapa lama ia hidup, melainkan juga dari seberapa banyak hati yang merasa kehilangan ketika ia pergi.
Ada orang yang dikenang karena kekuasaan. Ada pula yang dikenang karena kekayaan.
Nurhayati binti Jamaludin akan dikenang karena kelembutan hati, keteguhan ibadah, dan kasih sayang yang tak pernah memilih kepada siapa ia diberikan.
Ia membuktikan bahwa seorang ibu tidak harus tampil di hadapan publik untuk mengubah masa depan. Dari rumah yang sederhana, ia melahirkan nilai-nilai yang kemudian tumbuh menjadi pengabdian bagi masyarakat dan negeri.
Kini, langkahnya telah berhenti.
Namun, doa-doa yang pernah ia panjatkan, kasih sayang yang pernah ia tebarkan, dan teladan yang ia wariskan akan terus hidup dalam diri anak-anaknya, cucu-cucunya, serta setiap orang yang pernah merasakan hangatnya senyum seorang ibu bernama Nurhayati binti Jamaludin.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa almarhumah, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan alam kuburnya, menempatkannya di sisi terbaik bersama orang-orang yang beriman, serta menganugerahkan ketabahan dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.
