PedomanBengkulu.com, Bengkulu- Pemerintah Provinsi Bengkulu memastikan komitmen dalam menjaga keberlanjutan pendidikan pelajar anak yatim dan yatim piatu mendapatkan perhatian serius.
Program sosial Orang Tua Asuh, yang melibatkan langsung pejabat daerah sebagai penopang pendidikan siswa SMA dan SMK, dipastikan terus berlanjut hingga tahun 2026.
Program yang digagas oleh Gubernur Bengkulu Helmi Hasan bersama Wakil Gubernur Mian ini tak hanya dipertahankan, tetapi juga akan diperketat dari sisi akurasi data.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Bengkulu, Partono, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 lalu, tercatat lebih dari tiga ribu pelajar telah mendapatkan pendampingan melalui program tersebut.
“Jumlah anak asuh yang kita dampingi tahun lalu kurang lebih 3.152 siswa SMA dan SMK,” ujar Partono, Senin (29/06/2026).
Menurutnya, verifikasi ulang menjadi langkah penting mengingat kondisi sosial ekonomi keluarga siswa kerap mengalami perubahan.
Ada yang mulai mandiri, namun tak sedikit pula yang justru mengalami penurunan kemampuan ekonomi.
“Data itu sangat dinamis. Karena itu di 2026 ini akan kita evaluasi bersama Disdikbud dan pihak sekolah, supaya bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Partono menyampaikan bahwa hingga awal tahun 2026, mekanisme pelaksanaan program Orang Tua Asuh masih merujuk pada regulasi tahun sebelumnya.
Dalam aturan tersebut, setiap pejabat diwajibkan memiliki jumlah anak asuh yang disesuaikan dengan jenjang jabatannya.
Pejabat eselon II diwajibkan membina enam anak asuh, eselon III tiga anak asuh, sementara eselon IV bertanggung jawab terhadap dua anak asuh.
“Jumlahnya sudah diatur. Setiap pejabat memiliki kewajiban memberikan santunan pendidikan sesuai tingkat jabatannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, kehadiran program Orang Tua Asuh bukan semata bantuan materi, melainkan bentuk nyata kepedulian aparatur negara terhadap masa depan generasi muda Bengkulu.
“Ini adalah simbol kehadiran negara. Bahwa pemerintah tidak membiarkan anak-anak Bengkulu kehilangan harapan untuk terus bersekolah,” tutupnya.

.webp)