PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Anggota DPD RI asal Bengkulu, Hj Leni Haryati John Latief, mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam fase darurat bencana ekologis akibat tingginya eksploitasi ruang dan sumber daya alam. Peringatan itu disampaikannya dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diperingati setiap 5 Juni.
Menurut Senator asal Bengkulu ini, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang sedang dihadapi masyarakat saat ini.
"Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengajak dunia untuk bertindak sekarang menghadapi perubahan iklim. Ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi berbagai dampak kerusakan lingkungan," kata Hj Leni Haryati John Latief, Jumat (5/6/2026).
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, aktivitas industri ekstraktif, ekspansi perkebunan, dan proyek ketahanan pangan telah menyebabkan angka deforestasi nasional mencapai 283.803 hektare. Indonesia juga masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah dengan volume mencapai 71 juta ton per tahun yang sebagian besar berasal dari rumah tangga.
"Kita tidak bisa memisahkan isu perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, dan persoalan sampah. Semua saling terkait dan membutuhkan langkah penanganan yang terintegrasi," ujar Hj Leni Haryati John Latief.
Mantan Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Bengkulu ini menyoroti kondisi kerusakan hulu sungai di berbagai wilayah yang ada di Bumi Merah Putih yang telah memicu siklus banjir yang berkepanjangan dan juga menghadapi risiko besar di wilayah pesisir.
"Sebagai provinsi yang berada di pantai barat Sumatra, Bengkulu rentan terhadap abrasi dan dampak kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim. Jika krisis iklim tidak dimitigasi secara serius, diproyeksikan sebanyak 184 desa pesisir di Bengkulu terancam tenggelam pada tahun 2050. Karena itu langkah adaptasi dan mitigasi harus menjadi prioritas bersama," papar Hj Leni Haryati John Latief.
Dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pembina Forum Melayu Rembuk Bengkulu ini mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melalui aksi-aksi sederhana namun berdampak nyata, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler saat beraktivitas, memilah sampah rumah tangga, hingga terlibat dalam kegiatan penanaman pohon dan aksi bersih lingkungan.
"Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Semangat #NowForClimate harus diwujudkan melalui tindakan nyata agar kita dapat mewariskan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang," pungkas Hj Leni Haryati John Latief.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diinisiasi Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengusung tema "Inspired by Nature. For Climate. For Our Future" atau "Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita". Kampanye global tersebut menggaungkan tagar #NowForClimate sebagai seruan untuk merespons sinyal darurat perubahan iklim yang semakin nyata. Tahun ini, Republik Azerbaijan dengan pusat kegiatan di Kota Baku ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan global.
Sejalan dengan itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI mengadopsi tema nasional #NowForClimate melalui Surat Edaran Nomor 09 Tahun 2026. [**]
