Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Lulusan Siap Kerja Bukan Lagi Wacana: TEFA AHM Jadikan 12 SMK di Bengkulu Setara Bengkel Industri

PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Lulusan siap kerja tak lagi sebatas konsep. Di Bengkulu, Teaching Factory (TEFA) Astra Honda Motor (AHM) menegaskannya dalam praktik. Sebanyak 12 SMK kini dijalankan dengan standar bengkel industri—siswa tidak lagi sekadar belajar, tetapi bekerja dalam sistem nyata sejak di bangku sekolah.

Hingga 2026, implementasi TEFA telah menjangkau SMK Negeri 2 Bengkulu Utara, SMK Negeri 3 Bengkulu Selatan, SMK Negeri 6 Kota Bengkulu, SMK S9 Muhammadiyah, SMK Negeri 7 Rejang Lebong, SMK Negeri 6 Rejang Lebong, SMK Negeri 2 Lebong, SMK Negeri 3 Kaur, SMK Negeri 3 Seluma, SMK Negeri 4 Kepahiang, SMK Negeri 4 Bengkulu Tengah, dan SMK Negeri 5 Bengkulu Selatan.

Di dalam TEFA, ruang praktik diubah menjadi unit kerja. Sistemnya jelas: ada alur layanan, target waktu, standar kualitas, dan evaluasi hasil. Siswa menjalankan proses kerja utuh—menerima pelanggan, mendiagnosa kerusakan, melakukan servis, hingga memastikan kualitas sesuai SOP.

PIC Vocational Astra Motor Bengkulu, Ryafhen, menegaskan pendekatan ini bukan sekadar inovasi pembelajaran, tetapi kebutuhan.

“Ini bukan lagi praktik biasa. Lingkungannya kami buat seperti dunia kerja. Siswa harus bekerja sesuai standar, ada target, dan ada kualitas yang harus dijaga,” ujar Ryafhen saat dihubungi oleh media ini melalui pesan Whatsapp, Senin (18/5/2026).

Ia menekankan, perbedaan utama TEFA terletak pada disiplin sistem kerja yang diterapkan sejak awal.

“Di TEFA, semua terukur. Ada waktu pengerjaan, ada standar hasil, dan ada tanggung jawab. Ini yang membuat siswa terbiasa dengan tuntutan industri,” katanya.

Menurut Ryafhen, pola ini secara langsung mengurangi kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan lapangan kerja.

“Selama ini kendalanya ada di adaptasi. Lulusan butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Dengan TEFA, mereka sudah terbiasa, jadi tidak mulai dari nol,” ujarnya.

Interaksi dengan pelanggan juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran.

“Siswa tidak hanya memperbaiki motor. Mereka harus bisa berkomunikasi, memahami kebutuhan pelanggan, dan menjelaskan hasil kerja. Ini bagian dari standar kerja,” kata dia.

Ia menambahkan, TEFA dirancang untuk membentuk kompetensi teknis sekaligus sikap kerja.

“Industri butuh lebih dari sekadar bisa. Harus disiplin, bertanggung jawab, dan konsisten. Itu yang kami latih di sini,” ucapnya.

Perluasan TEFA ke 12 SMK dinilai menjadi langkah konkret memperkuat pendidikan vokasi di daerah.

“Semakin banyak sekolah yang pakai standar industri, semakin siap lulusan kita. Ini soal kualitas, bukan jumlah,” ujar Ryafhen.

Dengan sistem tersebut, lulusan TEFA memiliki peluang lebih besar untuk langsung masuk ke dunia kerja, termasuk di jaringan bengkel resmi dan sektor otomotif lainnya.

“Targetnya jelas, lulusan siap kerja. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka langsung terserap atau membuka usaha sendiri,” kata Ryafhen.

Program TEFA AHM merupakan model pembelajaran berbasis produksi dan jasa yang mengintegrasikan kurikulum sekolah dengan standar industri. Sekolah tidak lagi hanya tempat belajar, tetapi menjadi bagian dari proses kerja itu sendiri.