PedomanBengkulu.com,Bengkulu - Jakarta – Kemajuan sektor kesehatan di Indonesia dalam satu dekade terakhir patut diapresiasi. Negara ini telah bergerak cukup jauh dari persoalan klasik keterbatasan akses menuju fase baru: memastikan kualitas dan pemerataan layanan. Namun, sebagaimana lazimnya sebuah transformasi besar, keberhasilan tersebut kini justru membuka lapangan ujian yang lebih kompleks.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Leni Haryati John Latief mengatakan, indikator makro kesehatan di Tanah Air terus menunjukkan arah yang menggembirakan dimana umur harapan hidup meningkat, sementara angka kematian ibu dan bayi cenderung menurun, sejalan dengan target pembangunan nasional dalam RPJMN 2025-2029.
"Ini adalah bukti bahwa intervensi kebijakan tidak berjalan sia-sia," kata Hj Leni Haryati John Latief di tengah peringatan Hari Kesehatan Internasional, Selasa (7/4/2026).
Lulusan Magister Administrasi Publik Universitas Bengkulu ini menjelaskan, namun di balik capaian tersebut, tantangan mendasar masih membayangi dimana beban penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi terus meningkat, menggerus pembiayaan kesehatan negara.
"Paradigma layanan yang masih berorientasi pada pengobatan harus segera bergeser ke pencegahan. Selain itu, ketimpangan fasilitas kesehatan, baik alat canggih maupun tenaga spesialis yang masih terkonsentrasi di kota besar, terutama di Pulau Jawa, menunjukkan bahwa asas keadilan belum sepenuhnya terwujud," ujar Hj Leni Haryati John Latief.
Kondisi serupa tercermin di daerah, termasuk di Provinsi Bengkulu. Di satu sisi, capaian Universal Health Coverage (UHC) di Kota Bengkulu yang telah menembus 103,5 persen pada awal 2026 merupakan prestasi yang layak diapresiasi.
"Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menjamin perlindungan kesehatan warganya," papar Hj Leni Haryati John Latief.
"Kualitas layanan publik juga menunjukkan kemajuan. Rumah Sakit Harapan dan Doa Kota Bengkulu berhasil meraih predikat kualitas tertinggi baru-baru ini, sebuah pengakuan yang menempatkannya sebagai rujukan pelayanan prima di daerah. Di saat yang sama, pembangunan dan peningkatan kelas rumah sakit daerah, termasuk di Bengkulu Tengah, menandai keseriusan dalam memperluas layanan spesialis hingga ke tingkat kabupaten," lanjut Hj Leni Haryati John Latief.
Pembina Bundo Kanduang Provinsi Bengkulu ini menambahkan, akan tetapi, tantangan struktural tetap nyata.
"Distribusi tenaga dokter spesialis masih timpang, membuat fasilitas yang telah dibangun belum sepenuhnya optimal. Akibatnya, beban layanan masih menumpuk di rumah sakit rujukan utama. Semoga dengan kekompakan hal ini bisa diatasi sehingga kita bisa memastikan bahwa setiap warga, di mana pun berada, tidak hanya dapat berobat, tetapi juga memperoleh layanan yang layak, cepat, adil, dan berkualitas," demikian Hj Leni Haryati John Latief.
