Provinsi Bengkulu pernah memiliki catatan kelam terkait korupsi yang menyentuh hampir seluruh sektor pemerintahan. Pejabat berganti-ganti dan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terus terjadi, namun kerugian negara tetap berlanjut dan rakyat merana. Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Helmi Hasan muncul dengan gagasan yang dianggap tidak biasa oleh sebagian orang. Beliau meyakini bahwa akar masalah korupsi bukan hanya lemahnya pengawasan atau besaran gaji—melainkan jaraknya aparatur dari nilai-nilai agama. Sehingga lahirlah program Retret Merah Putih dengan konsep Mitigasi Langit, sebuah upaya membentengi ASN dari pengaruh negatif melalui pendekatan spiritual intensif.
Pelaksanaan Program: 72 Jam di Rumah Allah
Program ini dimulai pada 11 Desember 2025 dan hingga kini telah memasuki Angkatan ke-13, dengan jumlah peserta yang signifikan: lebih dari 800 peserta pria, lebih dari 200 peserta wanita, serta lebih dari 2000 pelajar. Pesertanya mencakup seluruh elemen ASN—baik pejabat struktural, staf, Tenaga Harian Lepas (THL), laki-laki maupun perempuan—dengan tempat pelaksanaan disesuaikan: masjid bagi yang muslim, dan rumah ibadah masing-masing bagi non-muslim.
Gubernur Helmi Hasan dengan tegas menyatakan:
"Masjid ini rumah Allah. Kalau sudah di rumah Allah tidak bisa baik, mau diperbaiki di rumah siapa lagi?"
Beliau juga menegaskan bahwa di bulan Ramadhan—bulan suci penuh ampunan dan rahmat, lalu di bulan ini juga belum bisa memperbaiki diri, mau diperbaiki di bulan apa lagi?"
Pernyataan ini menunjukkan bahwa program dirancang untuk memanfaatkan momentum terbaik agar transformasi spiritual berjalan optimal.
Para peserta menjalani program selama 72 jam penuh di tempat ibadah, mengikuti bimbingan intensif dari para pembina. Rangkaian acara dikendalikan langsung oleh Ustadz Saeed Kamyabi, pembina kerohanian kaliber internasional yang menjabat sebagai Ketua Steering Committee Retret Merah Putih. Materi yang disampaikan merupakan pembinaan mendalam yang pernah diterapkan di berbagai negara.
Dalam setiap angkatan, peserta dibagi menjadi kelompok kecil dan ditempatkan di masjid-masjid di Kota Bengkulu dan sekitarnya. Mereka didampingi 72 jam oleh para pembimbing yang terlatih, dengan materi yang sangat mendasar—mulai dari perbaikan bacaan Al-Qur'an, tata cara shalat yang benar, adab-adab sunnah sehari-hari, hingga shalat-shalat sunnah yang belum banyak diketahui.
Dampak dan Transformasi: Getaran yang Mulai Terdengar
Program ini bukan sekadar seremonial, melainkan memberikan dampak nyata yang dirasakan hingga ke berbagai provinsi di Indonesia. Bahkan, Gubernur Sulteng Anwar Hafid dan Walikota Pare-Pare Sul-Sel Tasming Hamid telah mulai menjalankan program serupa. Berikut beberapa dampak dan testimoni yang berhasil dihimpun.
1. Kesadaran akan Kedangkalan Ilmu Agama
Seorang peserta mengaku awalnya kesal terpilih, namun setelah tiga hari menyadari betapa dangkal pemahaman agamanya. Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu juga menyampaikan bahwa banyak peserta lelaki baru menyadari bahwa bacaan Al-Fatihah masih banyak salah, dan kurang memperhatikan adab-adab sunnah sehari-hari.
2. Ibadah yang Sebelumnya Tak Pernah Tersentuh
Banyak peserta baru pertama kali merasakan shalat-shalat sunnah, seperti shalat Tasbih, Isyrak, Awwabin, Hajat, bahkan Tahajud.
3. Perbaikan Hubungan Rumah Tangga
Salah satu peserta yang semula berniat menceraikan istrinya, setelah mengikuti retret membatalkan niatnya dan pulang dengan "sembilan resep untuk membahagiakan istri" dari Ustad Saeed. Hal ini membuktikan program tidak hanya memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan keluarga dan sesama.
4. Perasaan "Baru Menjadi Muslim"
Di penutupan Angkatan VII, seorang peserta menyatakan bahwa setelah mengikuti program ini, dirinya merasa baru menjadi orang Islam. Peserta lain juga mengaku rasa mudah menangis saat berdoa dan berzikir yang hilang bertahun-tahun kini kembali.
5. Keinginan untuk Memperpanjang Masa Retret
Banyak peserta merasa durasi 72 jam terlalu singkat dan menginginkan program yang lebih panjang, bahkan berharap menjadi "ahli masjid".
Menanggapi hal ini, Gubernur Helmi Hasan menyampaikan bahwa program akan terus berlanjut, dan bagi mereka yang telah mengikuti tiga kali, akan dikirim ke luar kota untuk studi banding.
6. Ramadhan sebagai Momentum Puncak Perbaikan
Ketika program bertepatan dengan Ramadhan, efeknya semakin mendalam. Peserta mengaku pengalaman yang didapatkan jauh lebih menyentuh karena bulan tersebut dianggap sebagai waktu di mana hati lebih mudah terbuka.
Filosofi: Mitigasi Langit dan Visi Besar Bengkulu
Gubernur Helmi Hasan menyebut program ini sebagai "Mitigasi Langit"—suatu ikhtiar spiritual agar Bengkulu dijaga oleh Allah dari berbagai bencana, termasuk bencana moral seperti korupsi. Beliau menjelaskan filosofinya:
"Manusia diciptakan bukan semata-mata untuk urusan dunia, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Selama tiga hari retreat, insyaallah keimanan kita meningkat. Dunia ini bukan tempat tinggal, melainkan tempat meninggal. Karena itu, berbuatlah baik kepada sesama, sebab dunia hanya sementara, sedangkan akhirat selamanya."
Ketika ditanya mengenai anggaran, beliau menjawab bahwa kerusakan akibat jaraknya agama dalam diri ASN jauh lebih berbahaya dibanding anggaran yang dikeluarkan untuk pencegahan. Program ini juga sejalan dengan visi besar beliau: "Bengkulu Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan sebagai Berkah dari Masyarakat yang Religius", yang menekankan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pembentukan mental dan spiritual ASN.
Baru Permulaan, dan Ramadhan Adalah Buktinya
Gubernur Helmi Hasan menegaskan bahwa ini baru permulaan dan tahap perkenalan untuk mendekatkan ASN kepada agama secara kebijakan pemerintah. Ke depan, program akan terus diperluas dan ditingkatkan—bahkan telah ada wacana untuk memperpanjang durasi hingga 40 hari.
Pelaksanaan di bulan Ramadhan menjadi bukti bahwa program ini serius memanfaatkan momen istimewa dalam Islam. Jika di rumah Allah dan di bulan suci para ASN belum berbenah, kapan lagi mereka akan berubah?
Jika program ini terus berjalan istiqamah, Bengkulu berpotensi menjadi percontohan nasional dalam pembinaan ASN berbasis spiritual. Getarannya yang mulai terdengar di Sulteng dan Pare-Pare adalah bukti awal bahwa cara tak biasa dari Gubernur Helmi Hasan ini mulai mendapatkan perhatian.@sangsaka
