Ada kegelisahan yang nyata dalam setiap pernyataan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan ketika berbicara tentang petani. Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Di tengah produksi kopi yang relatif baik, petani Bengkulu masih terjebak dalam lingkaran lama: bekerja keras di hulu, tetapi hanya menikmati sedikit nilai di hilir. Harga tak stabil, posisi tawar lemah, dan ketergantungan pada penjualan bahan mentah menjadi realitas yang terus berulang.
Program Kopi Merah Putih lahir dari kegundahan tersebut. Bukan sekadar seremoni penanaman, program ini mencerminkan tekad pemerintah daerah untuk memutus rantai ketidakadilan yang selama ini dialami petani kopi. Helmi Hasan secara terbuka menyatakan pemerintah tidak ingin petani hanya menjadi penonton dari nilai tambah hasil perkebunannya sendiri. Pernyataan “dari petani berdaki menjadi petani berdasi” bukan retorika kosong, melainkan simbol perubahan kelas sosial dan ekonomi petani.
Komitmen pendampingan menyeluruh dari penanaman, pengolahan, hingga pemasaran menunjukkan bahwa pemerintah memahami persoalan petani tidak selesai di sawah atau kebun. Pembentukan Pokja Merah Putih, keterlibatan akademisi, hingga dorongan penggunaan teknologi modern menjadi bukti keseriusan tersebut.
Namun, kegelisahan ini juga menjadi pengingat bagi semua pihak. Program tidak boleh berhenti pada pilot project atau jargon kebijakan. Harapan petani, seperti disampaikan kelompok tani, adalah pendampingan yang konsisten hingga hasil nyata dirasakan.
Jika kegelisahan Gubernur Helmi Hasan terus dijaga dan diterjemahkan dalam kebijakan yang berkelanjutan, maka Kopi Merah Putih bukan hanya akan menjadi produk unggulan daerah, tetapi juga penanda hadirnya negara secara utuh di tengah kehidupan petani Bengkulu.
