Di tengah dunia yang kian gaduh oleh konflik, perang, krisis kemanusiaan, dan kegersangan spiritual, kehadiran pemimpin yang menautkan kekuasaan dengan ketundukan kepada Allah menjadi sesuatu yang semakin langka. Padahal, justru pemimpin seperti inilah yang paling dibutuhkan umat manusia di akhir zaman, pemimpin yang menyadari bahwa keselamatan sebuah negeri tidak semata ditentukan oleh kecanggihan mitigasi bumi, tetapi juga oleh mitigasi langit.
Apa yang ditunjukkan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan melalui pelepasan Retreat Merah Putih berbasis rumah ibadah patut dibaca dalam bingkai yang lebih luas dari sekadar agenda pemerintahan rutin. Ketika seorang gubernur melepas ASN dari masjid, berbicara tentang perlindungan Allah, menghidupkan masjid 24 jam, dan menjadikan iman sebagai fondasi birokrasi, sesungguhnya ia sedang mengembalikan makna kepemimpinan pada fitrahnya: amanah untuk menuntun manusia menuju kebaikan dunia dan akhirat.
Narasi yang dibangun Helmi Hasan sederhana namun mendalam. Manusia diciptakan untuk beribadah, dunia bukan tempat tinggal melainkan tempat berpulang, dan pemimpin memiliki kewajiban moral untuk mengingatkan rakyat, terlebih aparatur negara agar tidak terperangkap dalam kesibukan administratif yang kering dari nilai ilahiah. Dalam konteks inilah Retreat Merah Putih menjadi simbol antitesa terhadap sekularisasi kekuasaan yang memisahkan urusan publik dari nilai ketuhanan.
Lebih dari itu, program ini menegaskan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti pada zikir dan doa semata. Iman harus menjelma menjadi kepedulian sosial: memperbaiki rumah tak layak huni, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim dan janda, serta hadir langsung di tengah denyut penderitaan rakyat. Inilah wajah kepemimpinan yang dirindukan, tegas dalam nilai, lembut dalam empati.
Namun, sejarah mengajarkan satu hal penting: pemimpin yang baik sering kali tidak runtuh karena niatnya sendiri, melainkan karena lingkungan yang mengitarinya. Pemimpin yang membawa nilai langit harus dijaga keistikamahannya. Di sekelilingnya harus melekat orang-orang saleh, jujur, dan berani mengingatkan, bukan para pecinta dunia dan kekuasaan yang justru menjadi tirai penghalang turunnya pertolongan Allah.
Di akhir zaman, ketika kebatilan kerap dibungkus dengan kecerdikan dan kebenaran sering terasa asing, pemimpin yang berani menyebut nama Allah dalam kebijakan publik adalah anomali, sekaligus harapan. Helmi Hasan menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual bukan utopia. Tetapi agar cahaya ini tidak padam, ia memerlukan dukungan moral, doa, dan barisan orang-orang lurus yang menjaga arah langkahnya.
Sebab, negeri yang dijaga oleh Allah bukan hanya dibangun oleh pemimpin yang saleh, melainkan juga oleh lingkaran kebaikan yang setia menguatkannya. Jika pemimpin seperti ini benar-benar langka, maka menjaganya adalah tanggung jawab bersama.
