Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Mitigasi Langit di Awal Tahun, Tiga Hari Retreat Merah Putih Membentuk Kesadaran Baru

PedomanBengkulu.com - Dentang tahun baru 2026 tak dirayakan dengan kembang api oleh para aparatur negara di Bengkulu. Kamis sore, 1 Januari, seusai salat Ashar, langkah mereka justru terarah ke Masjid Raya Baitul Izzah. Di sanalah Retreat Merah Putih dimulai—sebuah ikhtiar menata ulang batin, menguatkan iman, dan mengembalikan orientasi hidup aparatur negara dari hiruk-pikuk dunia menuju kesadaran akhirat.

Program yang digagas Gubernur Bengkulu Helmi Hasan ini memasuki angkatan keempat. Selama tiga hari, hingga Ahad, 4 Januari 2025, peserta yang berasal dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Bengkulu meninggalkan rutinitas birokrasi. Mereka mengganti rapat dan berkas dengan sajadah, pengajian, dan dakwah langsung ke tengah masyarakat.

Retreat Merah Putih bukan sekadar pengajian di ruang tertutup. Peserta dibagi ke dalam lima kelompok kecil dakwah, masing-masing dipimpin seorang amir dan didampingi dalil. Dari pusat kota hingga kawasan Taba Penanjung, mereka menyebar ke masjid-masjid, mengetuk pintu-pintu hati warga. Mengajak salat berjamaah, menyapa jamaah yang jarang hadir, sekaligus merasakan langsung beratnya menjaga konsistensi dakwah di tengah lelah fisik dan keterbatasan waktu.

Selama tiga hari itu, ritme hidup para peserta berubah drastis. Mereka beriktikaf, mengikuti pengajaran agama secara intensif, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Tidur singkat, makan sederhana, dan agenda padat menjadi bagian dari proses “mitigasi langit”—istilah yang digunakan untuk menggambarkan upaya mendekatkan diri kepada Allah sebagai fondasi membangun negeri.

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menjadi salah satu peserta yang mengikuti kegiatan ini secara penuh. Pengalaman spiritual yang ia rasakan meninggalkan kesan mendalam.

“Sebagaimana disampaikan semua yang mengikuti program Retreat Merah Putih ini, kegiatan ini sangat bagus, sangat positif, dan memberikan kesan spiritual yang sangat mendalam bagi kami. InsyãAllah sebagaimana arahan Pak Gubernur, ini akan kita teruskan,” ujar Herwan Antoni dengan mata berkaca-kaca.

Pria berdarah Rejang ini mengaku, setelah menjalani seluruh rangkaian retreat, keyakinannya semakin kuat bahwa program ini bukan hanya penting bagi ASN, tetapi juga relevan untuk seluruh kaum muslimin.

“Selama ini kita hanya sibuk dengan dunia dan lupa dengan akhirat. Besarnya kecintaan kita kepada dunia menutup mata hati kita akan akhirat. Dengan Retreat Merah Putih ini, mata hati kita jadi terbuka,” ungkapnya.

Di balik kelancaran kegiatan, terdapat kerja kolektif Steering Committee yang dikomandoi Ustaz Saeed Kamyabi, bersama Ketua Tim Retreat Merah Putih Syafriandi Jahri—Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu. Evaluasi dari angkatan sebelumnya menjadi bekal penting bagi pelaksanaan kali ini.

“Alhamdulillah angkatan keempat ini jauh lebih baik karena telah melewati evaluasi dari angkatan-angkatan sebelumnya. Peserta yang bertahan hingga akhir juga lebih banyak,” tutur Ketua Tim Retreat Merah Putih Syafriandi Jahri.

Puncak kegiatan berlangsung Ahad sore di Markaz Dakwah Al Anshor. Seusai Ashar, suasana menjadi haru ketika satu per satu peserta menyampaikan refleksi. Tangis tak tertahan, suara bergetar, dan kejujuran hati memenuhi ruangan.

“Setelah tiga hari ini saya teringat betapa berat siksa kubur yang akan saya hadapi karena selama ini banyak lalai mengingat Allah. Alhamdulillah sekarang saya insaf. Berat sekali rasanya membayangkan kalau kita mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah,” ujar seorang peserta dengan air mata mengalir.

Peserta lain mengungkapkan perubahan cara pandang yang ia rasakan. “Tadinya kami menganggap kegiatan dakwah dari pintu ke pintu sebagai aliran baru dalam Islam. Setelah ikut, kami sadar bahwa inilah sebenarnya kerja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat radhiyallahu ‘anhum.”

Menjelang penutupan, Amir Markaz Bengkulu Haji Syahril Zainudin memberikan pembekalan terakhir. Ia berpesan agar semangat Retreat Merah Putih tidak berhenti di acara seremonial semata. Peserta diminta tetap istikamah dalam dakwah, meluangkan waktu tiga hari setiap bulan untuk membina iman dan akhlak di rumah, memakmurkan masjid, serta konsisten hadir di Masjid Al Anshor Sukarami.

Di awal tahun yang baru, Retreat Merah Putih menegaskan satu pesan sederhana namun mendalam: membangun Bengkulu tidak hanya soal infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga tentang membangun hati manusia yang mengelolanya. Dari masjid, perjalanan itu dimulai—menuju pribadi yang lebih sadar, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah. [**]