Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Helikopter Polri Mendarat Darurat di Bukit Tamia, Benarkah Faktor Cuaca?

PedomanBengkulu.com, Jambi - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebutkan penyebab helikopter rombongan Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono mendarat darurat di Bukit Tamia karena gangguan cuaca buruk dan jarak pandang. 

"Selain cuaca buruk, pendaratan darurat dilakukan karena kabut yang menyelimuti jalur penerbangan sehingga jarak pandang terbatas," ungkapnya. 

Pernyataan ini dibenarkan Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Didi Satiadi mengatakan wilayah Indonesia umumnya masih berada pada musim hujan dan kondisi La-Nina sehingga mengandung cukup banyak uap air.

“Hasil analisis cuaca di sekitar waktu kejadian dari satelit Himawari memperlihatkan pertumbuhan awan di sekitar lokasi kejadian di Desa Tamiai,” ujar Didi, Senin (20/2) mengutip tempo.co.

Ia memperlihatkan gambar kondisi angin dan pertumbuhan awan di sekitar wilayah Jambi pada tanggal 19 Februari 2023 sekitar jam 10 pagi berdasarkan sadewa.brin.go.id. Ia memberi tanda lingkaran merah untuk memperlihatkan posisi Desa Tamiai.

“Dapat dilihat pada gambar bahwa saat itu terjadi angin yang cukup kuat dari arah utara atau dari Laut Cina Selatan ke arah pegunungan Bukit Barisan,” jelasnya.

Angin tersebut dapat mendorong uap air yang kemudian terangkat oleh adanya pegunungan sehingga terjadi proses kondensasi, pertumbuhan awan, dan berpotensi menghasilkan hujan, terutama di sebelah timur Bukit Barisan. Pada gambar juga terlihat terjadinya sirkulasi siklonik (berputar) di Samudra Hindia yang cenderung menahan angin dari Laut Cina Selatan.

Ia juga memperlihatkan gambar topografi di sekitar wilayah kejadian. “Dapat dilihat bahwa lokasi kejadian kemungkinan berada di lembah di wilayah dataran tinggi yang berada di antara dua pegunungan,” jelasnya.

Menurutnya, sirkulasi angin di wilayah seperti ini memang cenderung lebih kompleks karena keberadaan pegunungan yang dapat menimbulkan turbulensi, terjadinya angin lembah/gunung atau anabatic/katabatic winds, gelombang pegunungan atau Lee Waves, hujan orografis, dan seringkali mengalami kabut yang dapat mengganggu pandangan.

Sebagai medium penerbangan, ujarnya, cuaca memang merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan gangguan bagi penerbangan. Beberapa bahaya cuaca penerbangan, antara lain pembentukan es di badan pesawat atau icing terutama di ketinggian, terbatasnya jarak pandang akibat kabut, awan, hujan, atau asap, angin kencang, termasuk windshear, aliran jet, turbulensi, dan puting beliung gelombang pegunungan (Lee waves), thunderstorm atau badai petir, termasuk macroburst dan microburst atau angin kencang ke arah bawah, abu vulkanik, dan zona deformasi, yaitu zona di mana angin berpisah dan bersatu.

“Dengan demikian, informasi cuaca penerbangan sangat penting diketahui untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi penerbangan, termasuk cuaca di dekat permukaan dan wilayah yang kompleks seperti pegunungan,” jelas Didi.

Kabar terbaru, dilansir dari Kompas.com (20/2/2023), total tiga unit helikopter diturunkan untuk membantu evakuasi helikopter rombongan Kapolda Jambi sejak Minggu sore.

Selain itu, Polri juga menerjunkan tim dari Satuan Brimob yang memiliki kemampuan pencarian dan penyelamatan di lokasi tersebut.

Proses evakuasi dibantu oleh masyarakat dan para pecinta alam setempat yang memahami lokasi sekitar hutan untuk memandu jalan ke lokasi helikopter tersebut.

Proses evakuasi ini paling tidak melibatkan 100 orang personel. Mereka di antaranya adalah 11 personel dari Kantor Basarnas Jambi dan tim gabungan dari Polda Jambi, TNI, dan Dokpol.

Saat ini tim gabungan telah berada di lokasi dan telah memberikan pertolongan medis. Namun rombongan Kapolda Jambi belum bisa dievakuasi karena kabut dan jarak pandang yang tidak memungkinkan.[Red]