Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Aksi Protes G-20 di Hamburg

Dua hari terakhir, mata banyak orang tertuju pada kota Hamburg, Jerman. Kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa itu menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara anggota G-20.

Namun, dari beragam warna pemberitaan media yang memborbardir ruang informasi kita, tidak banyak yang mengupas pembicaraan, perdebatan, maupun suasana di dalam forum itu.

Yang paling banyak adalah soal demonstrasi berujung rusuh yang menjadikan kota Hamburg tak ubahnya medang peperangan. Asap pekat hitam yang menutupi udara sebagian kota. Puing-puing kaca toko yang berhamburan. Hingga api yang berkobar melalap mobil-mobil di pinggir jalan. Tidak ketinggalan, gambar pertempuran jalanan antara polisi dan demonstran.

Gambar-gambar itu kemudian diberi narasi yang menyudutkan demonstran: perusuh, vandalis, penjarah, ekstremis kiri, dan lain-lain.

Walhasil, alih-alih menangkap pesan yang hendak disampaikan demonstran, sebagian kita termakan “framing” yang dibuat oleh media-media besar itu.

Nah, agar kalian tidak termakan mentah-mentah oleh framing media besar itu, berikut sedikit ulasan tentang aksi protes menentang G-20 yang dihimpun dari sejumlah media alternatif dan release organisasi/aliansi yang berpartisipasi dalam aksi itu.

Mengapa ada demonstrasi?

Sudah menjadi tradisi, pertemuan besar yang membawa agenda kapitalisme global akan dikepung dengan aksi demonstrasi. Mulai dari pertemuan WTO, G-7, Konferensi Perubahan Iklim, Bank Dunia, IMF, dan lain-lain.

Bagi aktivis anti-kapitalis dan anti-globalisasi, pertemuan besar itu merupakan momentum bagi mereka untuk menyuarakan aspirasi rakyat dunia yang selama ini terabaiakn. Di forum-forum itu, media massa berkerumun dan mata dunia menyorot.

Tidak hanya itu, demonstrasi di forum itu menjadi ruang bagi organisasi politik, gerakan sosial, maupun individu untuk merajut solidaritas dan perjuangan bersama.

Begitu juga dengan pertemuan G-20. Bagi para aktivis, forum G-20 ini hanyalah ajang konsolidasi bagi kapitalisme global yang tengah sempoyongan akibat krisis ekonomi yang mendera sejak 2008.

Ditambah lagi, aktor-aktor yang terlibat dalam pertemuan ini bermasalah: Angela Merkel (Kanselir Jerman) dianggap bertanggung-jawab atas kebijakan penghematan yang merontokkan kehidupan rakyat di Eropa; Donal Trump (Presiden AS) dianggap rasis, xenophobia, tidak percaya perubahan iklim, dan lain-lain; Erdogan (Turki) dianggap tiran yang menindas kurdi dan oposisi. Dan masih banyak yang lain.

Bagaimana protes itu disalurkan?

Aksi protes besar menentang pertemuan G-20 sebetulnya dirancang 4 hari, dari tanggal 5-8 Juli 2017. Dengan beragam kelompok dan bentuk protesnya.

Jadi, dari tanggal 5-6 Juli 2017, ada forum tandingan yang disebut “Global Solidarity Summit”. Kalau forum G-20 isinya kepala negara, maka forum tandingan ini isinya gerakan sosial dan intelektual progressif.

Beragam isu bergulir di forum itu, dari isu kapitalisme global, perang imperialis, perubahan iklim, imigran, demokrasi, feminisme, hingga soal bangkitnya populisme kanan. Pembicaranya pun hebat-hebat, seperti Vandana Shiva (aktivis India), Patrick Bond (intelektual kiri Afsel), dan Jayati Ghosh (intelektual India).

Selain forum tandingan, ada aksi protes yang dikemas dengan sangat kreatif. Diantaranya aksi teatrikal bertajuk“1000 Gestalten”atau “1000 sosok”, yang menampilkan seribuan orang yang dilumuri tepung putih sekujur tubuhnya dan berjalan di tengah kota Hamburg. Keren kan?

Juga ada aksi yang diorganisir oleh Block G-20 yang membuat aksi bertajuk “Colour the Red Zone”. Mereka memakai jas hujan plastik maupun kostum warna-warni dan berpawai di jalan-jalan penting Hamburg.

Dan ada banyak aksi kreatif lainnya. Dari panggung musik, tari-tarian, pawai, dan lain-lain. Intinya, lebih banyak aksi kreatif ketimbang aksi vandalis segelintir demonstran berkostum dan bertopeng hitam-hitam.

Kemudian, pada tanggal 6 Juli 217, bertepatan dengan kedatangan para Kepala Negara peserta G-20, diadakan aksi besar bernama “Welcome to Hell”. Aksi yang diikuti puluhan ribu massa ini diorganisir oleh International Anti-Capitalist Demonstration. Sayang, belum sampai di titik tujuan, demonstrasi sudah dibubarkan paksa oleh polisi.

Kemudian, pada tanggal 7 Juli 2017, aksi besar-besaran di banyak titik yang melibatkan ratusan ribu orang. Aksi hari itu disebut “aksi pembangkangan rakyat”. Hari itu ada beragam aksi protes: aksi merebut jalan-jalan penting di jantung kota, blokade pelabuhan, naik sepeda, hingga mimbar bebas.

Namun, seperti diketahui dari berita media, sebagian besar aksi ini berakhir rusuh. Para aktivis mengklaim, polisi bertindak berlebihan dalam menghadapi demonstrasi simbolik ini.

Kemudian, pada 8 Juli 2017, ada aksi besar yang melibatkan juga ratusan ribu orang. Namanya “Solidarity Without Borders”, berupa aksi demonstrasi berbagai kelompok dan organisasi di jalan-jalan kota Hamburg.

Kok bisa rusuh?

Memang, seperti pengakuan banyak aktivis, jauh hari sebelum pertemuan G-20 dimulai, pengamanan kota Hamburg memang luar biasa ketat. Banyak larangan demonstrasi di sejumlah tempat.

Dalam banyak kasus, pendekatan polisi yang eksesif telah memancing situasi menjadi panas. Banyak bentrokan dipicu oleh aksi polisi yang mengepung demonstran dan menciptakan kepanikan.

Di sisi lain, seperti disorot oleh polisi dan media-media Jerman, ada kelompok demonstran yang memang sengaja menggunakan metode kekerasan: blokade jalan, melempar molotov, dan membakar mobil.

Mereka sebagian besar adalah kaum anarkis dan aktivis anti-fasis. Taktik mereka disebut “Black Block”. Biasanya, memakai kostum dan topeng serba hitam. Aksi mereka merusak dinding kaca toko-toko kapitalis dan properti borjuis, membuat barikade, dan konfrontasi dengan polisi.

Sebetulnya, banyak yang tidak setuju taktik Black-Block ini. Sebab, seringkali aksi vandalisme mereka dijadikan dalih oleh polisi untuk memukul demonstrasi damai dan menghancurkan perlawanan. Tidak hanya itu, dalam beberapa kejadian, polisi juga sering menyamar sebagai “Black Block” untuk memancing keributan.

Siapa saja yang berdemo di Hamburg?

Yang menggelar demonstrasi di Hambur berjumlah ratusan ribu orang. Mereka berasal dari lintas negara, organisasi bahkan ideologi.

Mereka berasal dari ratusan organisasi. Ada partai politik seperti Die Linke (partai kiri Jerman), Partai Komunis Jerman (DKP), Sosialis Kiri (Jerman), Partai Hijau, Sinistra Italiana (Kiri Italia), International Socialist Organization (ISO), Partai Marxis –Leninis Jerman (MLPD), dan partai-partai kiri Eropa lainnya.

Juga ada koalisi gerakan kiri Eropa yang disebut DiEM25 atau Democracy in Europe Movement 2025, yang didirikan oleh sejumlah tokoh kiri Eropa: Yanis Varoufakis (Mantan Menkeu Yunani), Antonio Negri (Italia), Ken Loach (sutradara kiri Inggris), dan Srećko Horvat (Kroasia).

Juga ada gerakan sosial seperti ATTAC, European Alternatives, Transnational Institute (TNI), PAH (Spanyol), CADTM (Koalisi penghapusan utang illegal), dan masih banyak lagi. Juga serikat buruh, gerakan mahasiswa, organisasi feminis, organisasi petani, dan lain-lain.

Juga ada LSM seperti Greenpeace, Oxpam, BUND (Jerman), dan lain-lain.

Jadi, ada banyak warna dan suara dalam protes G-20 di Hamburg.

Apa yang mereka suarakan?

Jadi, pada saat pertemuan G-20 ini berlangsung, ada banyak masalah yang mendera dunia. Setiap 10 detik ada satu anak yang meninggal karena kelaparan di dunia ini. Ada 800 juta orang di dunia yang masih terperangkap kemiskinan ekstrem.

Belum lagi, dunia ini makin panas akibat penggunaan energi fosil besar-besaran (81 persen dari energi dunia). Dan masih banyak persoalan lagi: perang, terorisme, krisis pengungsi, hak minoritas, dan lain-lain.

Demonstran yang menentang pertemuan G-20 di Hamburg membawa isu besar yang mewakili mayoritas manusia di bumi ini, seperti penolakan terhadap perdagangan bebas, memprotes ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi global, menentang kebangkitan fasisme dan populisme kanan, menentang politik Donald Trump yang menarik Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris soal antisipasi perubahan iklim, dan lain-lain.

Intinya, mereka mengecam kapitalisme yang telah memiskinkan umat manusia, menciptakan ketimpangan, mendorong perang, melahirkan rasisme dan terorisme, dan merusak iklim dunia.

Raymond Samuel

Sumber: berdikarionline.com