Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Musik Intifada Shadia Mansour



Perempuan jadi rapper? Ah, itu biasa. Tetapi perempuan Arab jadi rapper, itu baru luar biasa. Musik hip-hop memang sudah merambah dunia Arab, tetapi belum perempuannya.

Karena itulah Shadia Mansour jadi unik. Dia dijuluki “perempuan Arab pertama dalam musik hip-hop”. Mungkin juga dia satu-satunya perempuan Arab di jalur musik ini.

Shadia lahir di London, Inggris, pada tahun 1985. Tetapi keluarganya berasal dari Palestina. Ayah-ibunya, yang beragama Kristen, berasal dari wilayah Haifa dan Nazareth. Tidak mengherankan, Shadia selalu merasa dirinya: Palestina.

Tumbuh besar di negeri orang tidak membuat Shadia lupa akan bangsa dan tanah-air Ibu-Bapaknya. Apalagi, dia dibesarkan di tengah komunitas Arab-Palestina di Inggris.

“Seluruh hidupku di barat, di pengasingan. Kami adalah pengasingan Palestina,” kata Shadia dalam wawancara dengan SAMAR Media, pada 17 Mei 2014.

Shadia sendiri mulai menyanyi sejak usia belia. Dia kerap menyertai kedua orang tuannya saat menggelar aksi demonstrasi bersama komunitas Palestina di London. Di situlah dia suka menyanyikan lagu-lagu protes dalam bahasa Arab.

“Kami menyanyikan lagu-lagu protes,” kenangnya.

Keluarga Shadia adalah keluarga pemusik. Sejak kecil dia sudah bersentuhan dengan pemusik-pemusik Arab. Tetapi dia sangat suka pada penyanyi Arab klasik macam Fairouz dari Lebanon dan  Mohammed Abdel Wahab dari Mesir.

Dia mulai jatuh cinta pada hip-hop saat menginak usia remaja. Terutama di tahun 2003, ketika dia mulai muncul sebagai perempuan Arab di gelanggang musik hip-hop. Dan, uniknya, Shadia memilih bahasa Arab.

“Bagi saya, ini tentang keaslian. Aku Arab, namaku Arab, dan aku rasa rapku harus Arab,” jelasnya, seperti dikutip BBC, September 2010.

Memang, melalui musik hip-hop, Shadia membawa sejumlah misi penting. Misi pertama, dia ingin menjungkirbalikkan konservatisme masyarakat Arab.

Kita tahu, konstruksi sosial masyarakat Arab sangat membatasi ruang-gerak perempuan. Termasuk dalam ekspresi seni-musik. Dengan memilih hip-hop, musik yang dikenal keras dan menghentak, Shadia seakan berusaha menjungkirbalikkan konstruksi sosial itu.

Misi kedua, dia berusaha membangun politik identitas melalui hip-hop. Dari semua penampilannya, Shadia selalu memakai kostum tradisional perempuan Arab-Palestina.

“Pakaian tradisional Palestina adalah simbol kebanggaan kami, juga identitas Arab,” ujarnya.

Lagunya yang berjudul “Al Kufiyyeh 3arabeyyeh” bicara tentang salah satu identitas Arab yang terkemuka, yakni Kaffiyeh—syal yang sering digunakan oleh orang Arab sebagai penutup kepala atau dibalutkan dileher.

“Kaffiyeh adalah Arab, itu simbol kami,” jelasnya.

Musik intifada

Misi ketiga, ini yang terpenting: menyuarakan pembebasan Palestina dari kolonialisme Israel. Dia pun menamai musiknya sebagai “musik intifada”.

Intifada adalah istilah bagi pemberontakan kolektif rakyat Palestina melawan Israel. Rakyat Israel, dari tua-muda hingga laki-laki dan perempuan, turun ke jalan menentang militer Israel dengan senjata seadanya: batu, ketapel dan lain-lain.

Tahun 2008, Israel menggempur Gaza. Ribuan orang tewas. Shadia marah dan memprotes kebrutalan Israel itu. Protesnya itu diabadikan lewat lagu berduet dengan rapper Amerika, Logic, berjudul “So Serius”.

Dia juga berkolaborasi dengan rapper keturunan Arab, Lowkey, dalam lagu “Long Live Palestine 2”. Di lagu ini, teriakan “Free Palestine” berkumandang berulangkali.

Di tahun 2008, dia tampil untuk pertama kalinya di hadapan anak-anak Palestina di Tepi Barat.

Timur Subangun, Berdikari Online