Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Bung Karno di Bengkulu, Dinamis, Dialektis dan Romantis

Bung Karno semasa pengasingan di Bengkulu (Foto: Istimewa)

MESKI tinggal di Bengkulu dalam periode singkat, namun Bumi Rafflesia memiliki kesan yang kuat bagi Bung Karno, Presiden Indonesia pertama yang dikagumi dunia.

Kesan yang kuat itu tampak dari pernyataannya sendiri yang tertulis dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Edisi Revisi, Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo, Cetakan Ketiga, 2014.

Pada halaman 167 dalam buku itu, Bung Karno mengemukakan penilaiannya tentang putri-putri Bengkulu yang menurutnya memiliki perawakan nan cantik.

"Banyak bayi yang dulu pernah kutimang di atas pengkuanku sekarang sudah menjadi para perempuan cantik," kata Bung Karno ketika menjelaskan tentang betapa sering bayi ia menggendong bayi perempuan keturunan Bengkulu dan keinginan orangtua-orangtua mereka agar Sukarno mencarikan suami buat anaknya itu.

Pada bagian ini pula dalam buku itu, Bung Karno mengisahkan tentang keinginannya untuk memiliki buah hati. Sebab, Inggit Garnasih, istri yang telah 20 tahun hidup bersamanya, belum memberikannya anak. Bung Karno sendiri saat itu telah berumur 37 tahun.

"Barangkali kegelisahanku terangsang oleh cara hidup orang Indonesia. Bahkan di antara orang Indonesia yang beristri satu pun memiliki banyak anak. Setiap tahun penduduk kami bertambah dua juta lebih. Mungkin tidak ada kegiatan lain yang dapat diperbuat oleh rakyat kami yang miskin. Mungkin juga karena kami adalah bangsa berdarah panas dan penuh gairah yang tak mau melewatkan malam-malam yang romantis," ungkapnya.

Jendral Romulo, lanjut Bung Karno, pernah mengatakan, "Saya kira dari seluruh bangsa Asia, kami orang Filipinalah yang paling ganteng."

Bung Karno menjawab, "Mungkin juga, tetapi kami orang Indonesialah yang paling bergairah!"

Di Bengkulu, Bung Karno dan Inggit tinggal di sebuah rumah di Kelurahan Anggut Atas yang tergolong asri dengan halaman depan yang luas dan hijau. Rumahnya hingga saat ini tampak kokoh. Selain bersama Inggit, rumahnya juga dihuni oleh anak angkatnya Ratna, Kartika, dan juga Riwu yang merupakan pengawal pribadi Bung Karno, serta dua orang pembantu rumah tangga.

Di rumah yang ia huni pada tahun 1938 hingga 1942 itu, Bung Karno juga pernah menampung Fatmawati, gadis yang kelak menjadi ibu negara pertama Republik Indonesia. Waktu itu, Fatmawati yang berasal dari Curup mengikuti Ratna Juami memasuki sekolah rumah tangga, satu-satunya sekolah tingkat menengah di Bengkulu. Fatmawati butuh rumah tumpangan. Bung Karno menyambutnya sebagai anggota keluarga.

Ketika menumpang di rumah Bung Karno, Fatmawati telah beranjak menjadi gadis cantik. Umurnya 17 tahun. Benih-benih cinta bersemai secara dinamis tatkala dialektika hidup mereka jalani bersama. Bung Karno menginginkan kegembiraan hidup yang menurutnya tak lagi dipikirkan oleh Inggit. Inggit tahu itu dan Fatmawati akhirnya pindah ke rumah neneknya yang tak jauh dari kediaman Bung Karno. Tapi mereka tetap sering bertemu karena bibi Fatmawati menikah dengan kemenakan Bung Karno.

Pada kediaman Bung Karno yang kini berdiri Masjid Megah Akbar Attaqwa didekatnya, terdapat beberapa ruangan, lemari-lemari buku, ruang tamu, halaman belakang yang mengasyikkan untuk berdiskusi, serta sebuah sumur yang oleh warga Bengkulu dipercaya memiliki air dengan kandungan magis. Semua itu pernah menjadi saksi bisu ketika Bung Karno bertengkar dengan Inggit Garnasih karena kehadiran Fatmawati.

"Ini semua kesalahanku. Beginilah jadinya, kalau kita memberi tempat bernaung pada anak orang di rumah kita. Tapi aku tak pernah membayangkan hal itu akan menjadi seperti ini. Dia seperti anakku sendiri." Demikian dikatakan Bung Karno mengisahkan apa yang dikatakan Inggit ketika mereka bertengkar.

Namun, sebagaimana sikap yang pernah diambil oleh Nabi Muhammad yang pernah bersetia dengan Khadijah meski usia mereka terpaut jauh, Bung Karno pun bersetia dan berusaha untuk mempertahankan Inggit sebagai istri yang telah banyak membantu perjuangannya.

"Aku sangat bersyukur dengan kehidupan kita berdua," katanya.

"Kau menjadi tulang punggungku dan tangan kananku selama separuh umurku. Bagaimanpun juga, aku ingin merasakan kegembiraan memiliki anak. Aku selalu berdoa secara khusus, agar di satu hari memperoleh anak laki-laki," Bung Karno melanjutkan.

"Aku tidak bisa menerima istri kedua. Aku minta cerai," jawab Inggit.

"Aku tidak ingin menceraikanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri pertama, jadi memegang segala kehormatan yang menyangkut hal ini, sementara aku mematuhi hukum agama dan hukum sipil, mengambil istri kedua agar mendapatkan keturunan," balas Bung Karno.

"Tidak," tegas Inggit.

Airmata menggenangi mata Bung Karno ketika pertengkaran ini terjadi.

"Kalau sekiranya aku menjalani kehidupan normal dengan kegembiraan yang normal pula, mungkin aku dapat menerima kesepian karena tak punya anak. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu kecuali kemiskinan dan penderitaan. Aku sekarang berumur 40. Dalam umur 28 aku sudah dipenjara. Dua belas tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki kuhabiskan dalam pembuangan. Di mana pun .... dengan cara apa pun ..... sebaiknya ada suatu imbalan. Aku merasa aku tidak mampu lagi menanggung beban jika yang ini juga dirampas dariku," kilah Bung Karno, menyudahi pertengkaran.

Kemudian Bung Karno mengalihkan pikirannya dari persoalan pribadi dengan memelihara hewan-hewan piaraan. Awalnya dua ekor anjing pemberian Jimmy, pemuda Belanda yang menjadi menantu Residen dan pernah diajarkannya bahasa Jawa secara privat. Koleksi hewan piaraannya bertambah setelah ia membeli 50 ekor burung gelatik dengan harga yang sangat murah yang ia satukan dalam sebuah sangkar besar dengan sepasang burung barau-barau. Namun semuanya ia lepas karena Bung Karno tak tega melihat sesuatu dikurung dalam sangkar.

Setelah itu Bung Karno menyibukkan diri dengan memperindah halaman belakang kediamannya. Dia memperkeras jalanan yang menuju ke jalan besar dengan batu. Ketua sebuah organisasi setempat mengetahui apa yang dia kerjakan. Hari Minggu pemuda itu datang dengan selusin teman-temannya. Dalam waktu dua minggu pekerjaan itu selesai.

Tapi pikiran Bung Karno masih kacau.

Ia lantas membuat kelompok perdebatan setiap malam Minggu. Membahas Teori Evolusi Darwin, apa pengaruh bulan terhadap perilaku perempuan. Bung Karno menyusun pendapatnya sambil mengikuti perdebatan. Terkadang ia percaya dengan yang diucapkannya, terkadang tidak. Terkadang dia hanya mencoba menyalakan api di bawah semangatnya sendiri.

Saat itu ia juga mengasah otaknya dengan menulis artikel. Karena menulis baginya terlarang, Bung Karno menggunakan nama samaran Guntur atau Abdurachman. Pun demikian, tulisan-tulisan Bung Karno tetap mudah dikenali, karena tulisan tangan seseorang merupakan pembuka rahasia wataknya. Karena itu Bung Karno menulisk dalam huruf cetak atau menulisnya dengan tangan kiri.

Sayangnya, semua tulisan-tulisan Bung Karno itu tak bisa ditemukan lagi di kediamannya di Bengkulu. Namun sampul surat cintanya untuk Fatmawati terpajang dalam foto berbingkai dengan ukuran cukup besar untuk dibaca oleh orang yang matanya minus sekalipun. Sebuah surat yang menunjukkan kehidupan Bung Karno di Bengkulu yang dinamis, dialektis dan romantis. [Ahmad Runako]

Sumber Tulisan: Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Edisi Revisi, Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo, Cetakan Ketiga, 2014.