Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Meriam Honisuit, Senjata Raksasa Peninggalan Sejarah yang Pantas Jadi Ikon Wisata

Jikalau anda pernah pergi berkunjung ke suatu tempat secara otomatis yang pasti terbesit di dalam benak adalah mencari hal yang berbau ikonik atau menjadi ciri khas daerah tersebut, baik itu ikon berbentuk bangunan atau hal berbentuk lain yang kemudian dapat dijadikan sebuah obyek dan diabadikan dalam bentuk latar foto maupun dibawa pulang dalam bentuk oleh-oleh apabila ikon tersebut sudah dikemas berbentuk seperti souvenir atau pakaian yang bergambarkan ikon kota yang dikunjungi.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya ikon daerah atau landmark secara tidak langsung mampu mendongkrak pamor sebuah daerah, sebagai sebuah identitas maupun keunggulan dalam sektor pariwisata dalam upaya menarik antusiasme wisatawan untuk datang berkunjung.

Sebagai contoh tugu Monas di ibukota Jakarta, tugu Jogja di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Tugu Kujang di Bogor atau mungkin Siger yang amat terkenal di provinsi tetangga Bengkulu, Lampung, yang sangat ikonik dan bahkan menjadi lambang setiap bangunan pemerintahan Provinsi Lampung. Apabila anda pernah berkunjung ke daerah tersebut maka sudah barang tentu ada keinginan untuk sekedar melihat ataupun berpose di ikon daerah itu sebagai bukti kita pernah berkunjung.

Pun halnya di bumi sekundang setungguan Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, sebenarnya ada hal berbau ikonik yang seyogyanya mampu diperkenalkan secara luas ke khalayak ramai guna menarik minat wisatawan untuk sekedar singgah ataupun berkunjung.

Adalah Meriam Honisuit, meriam peninggalan masa pendudukan penjajah Jepang yang terletak di jalan raya Padang Panjang komplek perkantoran Pemerintah Daerah kabupaten Bengkulu Selatan ini secara historis dinilai memiliki sebuah ciri khas dan keunikan tersendiri bagi orang yang belum banyak tahu dengan keberadaan meriam tersebut.

Meriam Honisuit merupakan senjata buatan Inggris. Senjata ini dibawa oleh Jepang saat menjajah Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Dan bahkan pernah diklaim sebagai salah satu meriam terbesar peninggalan sejarah yang pernah ditemukan di nusantara, walaupun memang agak sulit untuk mencari literatur lengkap mengenai keberadaan Meriam Honisuit di Bengkulu.

Dengan spesifikasi panjang laras sekitar 3,4 meter, bobot meriam mencapai 2,2 ton, dengan kaliber 19 sentimeter. Meriam ini dibawa oleh tentara Jepang ke Kota Manna, ibu kota Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 1942 untuk menjaga pertahanan garis pantai Bengkulu Selatan dari ancaman musuh Jepang saat itu.

Pada 10 januari 2008, Meriam Honisuit atas kesepakatan Dinas Purbakala Provinsi Jambi dan Pemda Bengkulu Selatan dipindahkan ke Bundaran Jalan Raya Padang Panjang, Kota Manna di dekat kantor Bupati Bengkulu Selatan.

Beberapa masyarakat mengungkapkan, dahulu, meriam ini dilengkapi oleh beberapa meriam lain yang memiliki lebih dari tiga laras (multi laras), namun hingga kini tak diketahui secara pasti dimana keberadaannya.

Ditinjau dari sudut pandang ciri atau identitas daerah tentu keberadaan Meriam Honisuit ini boleh dikatakan layak untuk ditonjolkan sebagai salah satu Ikon dalam upaya memperkenalkan kabupaten Bengkulu Selatan di bidang Pariwisata, karena menurut hemat sayab bahwa Honisuit mempunyai nilai jual, sebab keberadaannya tidak dapat ditemui di daerah lain serta karakteristik dan bentuk yang lumayan besar merupakan sebuah keunggulan dan bersifat langka.

Apabila hal ini bisa dikembangkan serta dikemas secara baik bukan tidak mungkin akan mampu menarik minat wisawatan untuk berkunjung, serta dapat memacu pertumbuhan usaha ekonomi kreatif warga Bengkulu Selatan khususnya yang mungkin dapat membikin cinderamata baik dalam bentuk souvenir, gantungan kunci ataupun baju kaos kedaerahan yang kerap ditemui disetiap obyek wisata setiap daerah.

Kendati memang letak atau penataan lokasi Meriam Honisuit ini mungkin kurang pas karena lumayan jauh dari keramaian serta minimnya fasilitas penunjang jikalau dikunjungi pada saat siang atau malam hari, seperti halnya Tugu Jogja yang tetap ramai dikunjungi baik siang maupun malam hari meski terletak di perempatan jalan raya.

Besar harapan memang sebagai putera daerah yang pernah berkunjung dan lumayan hobi melakukan travelling bahkan mengadu nasib ke daerah lain, sebenarnya merasa miris ranah Serawai kabupaten Bengkulu Selatan yang saya cintai ini terbilang miskin identitas yang layak untuk diperkenalkan ke daerah lain.

Apa pasal? Kita ambil contoh dalam konteks tugu, lazimnya sebuah tugu melambangkan ciri sebuah daerah, namun apakah tugu yang ada di daerah Bengkulu Selatan ada yang benar-benar ikonik? Memang semuanya tidak segampang membalikkan telapak tangan, membutuhkan proses serta biaya yang tidak sedikit pula, kendati demikian bukan merupakan barang mustahil apabila ada upaya serius dari pihak pemerintah daerah dalam upaya menggenjot kemajuan pembangunan sektor pariwisata dengan harapan dapat memperoleh sumber pendapatan baru, yang notabene selama ini masih terus menyusu pada anggaran pusat. [Heru Septian/Komunitas Ayo Menulis Bengkulu]