Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Empat November, Momentum Kekuatan Politik Anti-Ahok

nezar-patriaJAKARTA, PB - Aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nezar Patria, berpendapat, menunggu aksi massa 4 November 2016 di Jakarta seperti menunggu sebuah pertarungan tinju.

"Menunggu 4 November 2016 ini seperti menunggu sebuah pertandingan tinju saja. Manuver, sesumbar, dan aneka gertakan begitu ramai di media massa maupun media sosial. Jelas ini adalah momentum politik yang bisa dipakai oleh banyak kekuatan dari berbagai spektrum anti-Ahok tentu saja," tulisnya, baru-baru ini.

Menurut dia, momentum ini sengaja diciptakan.

"Momentum ini tampaknya sengaja diciptakan sebagai sebuah titik temu antara kekuatan politik anti-Ahok di parlemen dan di luar parlemen, dengan tujuan yang juga terukur: menggusur Ahok dari pencalonan gubernur, dan siapa tahu dapat bonus menggoyang kepercayaan politik rezim Jokowi," ungkapnya.

Ia menuturkan, aksi ini juga bisa dilihat sebagai pemanasan dalam Pilkada DKI.

"Pertarungan ini tak bisa dilepaskan dari Pilkada DKI, dan para kandidat adalah proxy dari tiga kekuatan politik besar: Mega-Jokowi, Prabowo, dan SBY. Jadi aksi ini adalah "pemanasan", sebuah try out, bagi tiga kekuatan politik itu untuk momentum politik selanjutnya," sampai aktivis korban penculikan 1998 itu.

Ia menekankan bahwa aksi ini dapat menjadi pesan politik bagi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

"Aksi 4 November bisa jadi hanya sebuah long march biasa, mungkin jumlahnya besar, bisa juga sedang-sedang saja. Tampaknya bukan itu soal pokoknya. Jika aksi itu berjalan aman dengan massa yang besar, tentu menjadi pesan politik yang penting bagi Ahok, dan menjadi semacam show of force bagi para kandidat yang bersaing melawan Ahok. Siapa yang diuntungkan?," tukasnya dengan nada bertanya.

"Katakanlah aksi itu berhasil membuat Ahok jadi tersangka penodaan agama, dan dia walk-out dari kontes gubernur. Yang tersisa adalah Anies dan Agus, yang tentu saja akan meraup laba dari tersingkirnya Ahok dengan cara berbeda," lanjut Nezar.

Dalam tulisan yang ia unggah dalam akun media sosialnya itu, Nezar memperhitungkan langkah politik yang mungkin akan diambil Anies dan Agus, dua rival Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta.

"Bagi Anies, yang lama dipersepsikan sebagai figur intelektual Muslim moderat, tentu harus menata bagaimana cara ia berdiri, apakah akan mengakomodasi tuntutan yang lebih radikal, lalu menjauh dari dukungan tradisionalnya selama ini, atau tetap menjadi figur moderat. Bagi Agus, sangat mungkin ia menunggu langkah Anies, karena jika Anies keliru melangkah, maka ia menangguk hasil yang lebih besar dengan memainkan dirinya sebagai "kekuatan tengah"," beber anggota Dewan Pers ini.

"Jika Ahok tetap bertarung, maka gaung dari 4 November pun akan terus ada dan menjadi olahan di tingkat grass-root, hingga mempengaruhi pilihan warga pada awal 2017 nanti. Jelas, kubu Ahok harus bekerja keras menambal banyak kerusakan di basis-basis politik pinggiran Jakarta," tutup Nezar. [RN]