Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Pasokan solar global menipis, IEA waspadai gejolak hingga 2027

 

PedomanBengkulu.com, JAKARTA - Pasokan solar global berpotensi tetap ketat hingga semester I 2027 seiring gangguan produksi di Timur Tengah dan Rusia.

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan lonjakan harga solar dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya operasional industri, dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Seperti dikutip Reuters, dalam laporan bulanan yang dirilis Rabu, IEA menyebut gangguan pasokan berkepanjangan telah menguras persediaan solar ketika stok biasanya mulai meningkat.

“Rekor harga solar saat ini telah menimbulkan dampak ekonomi yang luas dengan meningkatkan biaya barang serta memengaruhi pendapatan riil, aktivitas ekonomi, dan inflasi,” kata IEA.

Solar merupakan bahan bakar utama bagi berbagai sektor, termasuk industri, pertanian, dan transportasi. Kenaikan harga solar karena itu berpotensi merambat ke biaya produksi dan distribusi barang, sehingga menambah tekanan inflasi.

IEA mencatat, kehilangan ekspor solar dari Timur Tengah dan Rusia mencapai total 1,3 juta barel per hari pada September 2026. Volume tersebut setara sekitar 4,5% dari proyeksi permintaan global solar dan gasoil sepanjang tahun ini.

IEA memperingatkan pasar minyak berpotensi menghadapi gejolak lebih besar apabila konflik di Timur Tengah tidak segera mereda.

“Ketika cadangan penyangga dalam sistem terus terkikis, tanpa penyelesaian konflik di Timur Tengah, pasar minyak berpotensi menghadapi gejolak yang lebih besar dalam beberapa bulan mendatang sebelum akhirnya mengalami surplus pada 2027,” kata IEA.

Pasokan Baru Belum Cukup

Pemulihan operasi kilang minyak global yang diperkirakan berlangsung menjelang akhir 2026 berpeluang menambah persediaan.

Namun, IEA menilai peningkatan produksi tersebut belum cukup untuk menutup defisit produk distilat menengah, yang mencakup solar, gasoil, dan bahan bakar jet.

IEA memperkirakan pasar gasoil global tetap ketat pada semester I 2027 sebelum mulai melonggar pada semester II tahun depan.

Tekanan pasokan turut mendorong margin pengolahan solar mencapai rekor hampir US$95 per barel pada September.

Margin ini mengukur selisih harga solar dengan harga minyak mentah sebagai bahan baku. Berkurangnya kapasitas pengolahan menjadi salah satu faktor yang menekan produksi.

Di sisi lain, permintaan minyak global juga melemah. IEA memperkirakan konsumsi minyak dunia turun 2,6 juta barel per hari sepanjang 2026, lebih besar dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya sebesar 2,5 juta barel per hari. Solar menyumbang sekitar 25% dari total penurunan permintaan tersebut.

IEA memperkirakan pasokan minyak global menyusut 5,8 juta barel per hari pada 2026. Namun, pada 2027 pasokan diproyeksikan meningkat 7,7 juta barel per hari sehingga pasar kembali mengalami surplus.

Pada Rabu, harga minyak mentah Brent relatif stabil di kisaran US$105,80 per barel, naik 0,1% dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, margin pengolahan solar meningkat 2% menjadi sekitar US$85,42 per barel.

Cadangan Darurat Belum Tersalur Penuh

Untuk meredam tekanan pasokan, negara-negara anggota IEA pada Maret 2026 menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Total komitmen kemudian meningkat menjadi 426 juta barel, dengan sekitar 100 juta barel masih menunggu penyaluran.

Namun, laju pelepasan cadangan melambat menjadi sekitar 270.000 barel per hari pada September, jauh di bawah rata-rata 2,2 juta barel per hari selama Maret hingga Juni.

Hingga akhir September, sebanyak 331 juta barel telah disalurkan. Eropa masih harus melepas 46 juta barel, Amerika 40 juta barel, dan Asia-Oseania 10 juta barel.

Dari sekitar 1 miliar barel stok minyak pemerintah yang dimiliki negara anggota IEA, lebih dari 200 juta barel berupa solar.

IEA dijadwalkan membahas rincian dan waktu pelepasan cadangan berikutnya pada Kamis. Pelaku pasar mencermati kecepatan penyaluran serta kemungkinan tambahan volume yang akan dilepas.

Serangan Baru Aancam Pemulihan

Ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September, mencapai sekitar 75% dari tingkat sebelum perang.

Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan pengiriman melalui Selat Hormuz sebesar 3,7 juta barel per hari, sehingga arus pengiriman mencapai 10,9 juta barel per hari.

Namun, eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi regional dan kapal tanker kembali mengancam kelancaran pasokan.

“Namun, eskalasi serangan baru-baru ini terhadap infrastruktur energi regional dan lalu lintas kapal tanker mengancam akan menggagalkan kemajuan lebih lanjut,” kata IEA.

Risiko gangguan baru tersebut membuat prospek pasokan energi global masih rentan. Jika produksi dan distribusi belum pulih secara berkelanjutan, tingginya harga solar dapat terus menekan biaya industri dan distribusi, sekaligus memperpanjang tekanan inflasi hingga 2027.


Sumber: www.idnfinancials.com