PedomanBengkulu.com, Jakarta - Platform kripto Binance mengakui akibat insiden peretasan menyebabkan kerugian US$6,3 miliar (setara Rp114,23 triliun).
“Perkiraan total nilai akibat dampak [peretasan] sekitar US$6,3 miliar. Kami telah bekerja sama dengan mitra blockchain untuk membekukan aset yang terdampak, dimana sekitar US$3 miliar dibekukan di blockchain sejauh ini,” jelas perusahaan.
Insiden yang tercatat sebagai peretasan terbesar dalam sejarah membuat Binance menangguhkan sementara semua setoran dan penarikan.
TRM Labs menyebut Korea Utara berada di balik insiden yang dialami Binance, seperti dilaporkan Bloomberg News.
“TRM mengaitkan serangan ini dengan TraderTraitor, kelompok peretas terorganisir Korea Utara, berdasarkan intelijen on-chain dan off-chain yang kuat,” kata perusahaan Perusahaan bidang intelijen blockchain tersebut.
“Kami membuat penilaian ini dengan tingkat keyakinan yang tinggi.”
Industri kripto terus mendapat guncangan berupa percobaan peretasan seperti dialami bursa Bybit pada Februari 2025. Aktor peretas menggondol token kripto bernilai US$1,5 miliar.
Pasar kripto kini mendapat pukulan berarti di tengah tren rebound harga. Sebelumnya guncangan berkepanjangan terjadi saat FTX dan Mt. Gox, mengalami upaya pencurian dan penipuan.
Bitcoin pada posisi terkini Bitcoin mengalami kemunduran 3% pada akhir sesi perdagangan AS dan turun lagi 3% dalam perdagangan di Asia, jatuh di bawah US$77.000 ke level terendahnya sejak September, dilansir dari data Bloomberg. Token kripto lain juga mengalami tekanan jual.
“Binance akan menanggung semua kerugian dari dana SAFU dan dana perusahaan. Dana pengguna aman,” tulis perusahaan dalam pengumuan resmi, Jumat (30/10/2026).
Sebuah dana asuransi dan cadangan darurat dari Binance yang disebut Secure Asset Fund for Users (SAFU) didirikan pada tahun 2018 untuk menjadi penopang bagi pelanggan dalam “situasi ekstrem,” menurut bursa tersebut.
SAFU umumnya dijaga pada angka sekitar US$1 miliar, tetapi telah berfluktuasi di masa lalu seiring dengan pergerakan pasar, demikian kata Binance pada tahun 2024.
Dua penerbit stablecoin terbesar menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk membekukan dana yang hilang. Paolo Ardoino, CEO Tether, mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa perusahaannya telah membekukan lebih dari US$1,5 miliar stablecoin “yang terkait dengan dugaan peretasan bursa Binance.”
Jeremy Allaire, dari Circle Internet Group Inc., mengatakan bahwa US$800 juta koin perusahaannya telah dibekukan saat “laporan terkait dugaan eksploitasi yang melibatkan Binance.”
Sumber: www.bloombergtechnoz.com
