Sticky

FALSE

Page Nav

HIDE

GRID

GRID_STYLE

Hover

TRUE

Hover Effects

TRUE

Berita Terkini

latest

Harga Emas Ambruk ke Level Terendah Dua Bulan

 

PedomanBengkulu.com - Harga emas jatuh ke level terendah sejak Agustus setelah dolar AS dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat kembali menguat.

Harga emas spot turun 1,2 persen ke USD4.113,89 per ons setelah dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat.

 Emas sedang tidak baik-baik saja. Harga logam mulia itu tergelincir ke level terendah dalam dua bulan pada Kamis, 8 Oktober 2026, setelah dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak. Kombinasi ini membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin menjadi kurang menarik.

Dilansir dari Reuters, harga emas spot turun 1,2 persen menjadi USD4.113,89 per troy ounce atau sekitar Rp73,64 juta per troy ounce dengan kurs Rp17.900. Harga tersebut sekaligus menjadi level terendah sejak 5 Agustus 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 1,1 persen menjadi USD4.140,70 per troy ounce atau sekitar Rp74,12 juta.

Cerita di pasar emas kali ini sederhana. Ketika dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik, emas kehilangan sebagian daya tariknya. Emas memang punya reputasi sebagai tempat berlindung ketika keadaan ekonomi dan geopolitik bikin kepala pening, tetapi logam ini tidak membayar bunga.

Indeks dolar AS naik 0,4 persen pada perdagangan tersebut. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun berada di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Bagi investor, imbal hasil yang lebih tinggi berarti ada pilihan aset berbunga yang semakin menarik dibandingkan menyimpan emas tanpa kupon.

Pasar saat ini mayoritas memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini. Namun, menurut CME FedWatch Tool, pasar masih memperhitungkan peluang sebesar 85 persen bahwa The Fed menaikkan suku bunga pada Desember.

Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, melihat pesan dari pasar suku bunga cukup jelas. “Saya pikir pesannya adalah suku bunga akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, dan hal itu membuat imbal hasil serta dolar tetap mendapat dukungan,” kata Grant.

Nada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed ikut membuat pasar semakin berhati-hati. Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid mengatakan upaya menekan inflasi mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly juga menyatakan arah kebijakan moneter akan bergantung pada apakah tekanan inflasi masih berlanjut. Masalahnya bagi emas cukup terang. Semakin tinggi suku bunga, semakin besar biaya peluang memegang aset yang tidak menghasilkan bunga seperti emas.

Perdebatan di internal The Fed pun belum benar-benar selesai. Dalam pertemuan bulan lalu, para pembuat kebijakan terpecah mengenai alasan untuk menaikkan suku bunga. Sebagian melihat kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak guncangan harga energi dan komoditas lainnya, sementara kelompok yang lebih hawkish menilai kenaikan diperlukan untuk mencegah munculnya inflasi yang didorong oleh permintaan.

Namun, emas belum sepenuhnya kehilangan penopangnya. Bank sentral China justru meningkatkan pembelian emas pada September dan memperpanjang aksi borong tersebut menjadi 23 bulan berturut-turut, berdasarkan data resmi. Grant menilai pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi faktor utama yang menopang harga.

“Permintaan resmi dari bank sentral merupakan faktor pendukung utama. Saya pikir kita mungkin akan melihat satu kali lagi pengujian ke bawah, mungkin hingga USD4.000, kemudian pemulihan menjelang akhir tahun dengan potensi mencapai USD4.400,” ujarnya.

Jika skenario tersebut terjadi, harga USD4.000 setara sekitar Rp71,60 juta per troy ounce, sedangkan USD4.400 setara sekitar Rp78,76 juta per troy ounce.

Jadi, emas saat ini sedang menghadapi dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Di satu sisi ada dolar AS dan imbal hasil Treasury yang membuat logam mulia kehilangan pesona. Di sisi lain ada bank-bank sentral yang masih rajin menambah simpanan emas.

Logam mulia pun untuk sementara harus menerima kenyataan pahit. Setelah lama bertingkah seperti aset yang selalu punya tempat ketika pasar sedang gelisah, emas kini harus berhadapan dengan aset berbunga yang sedang kembali dipoles oleh ekspektasi suku bunga tinggi.

Sementara itu, harga perak spot turun 3 persen menjadi USD59,86 per ounce atau sekitar Rp1,07 juta. Platinum melemah 3,9 persen menjadi USD1.635,04 per ounce atau sekitar Rp29,27 juta, sedangkan palladium turun 4 persen menjadi USD1.125,70 per ounce atau sekitar Rp20,15 juta.


Sumber: www.kabarbursa.com