PedomanBengkulu.com, Jakarta - Ekonom menilai Bank Indonesia (BI) masih perlu menaikkan level suku bunga acuan atau BI Rate untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah pelemahan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini.
Hal itu menyusul terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah yang bahkan melewati level psikologis Rp18.000/US$.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksi bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 20-21 Oktober 2026 ini.
"Proyeksinya [BI] akan menaikkan suku bunga. Paling tidak untuk memberikan jaminan pada pelaku pasar dan menjaga spread imbal hasil aset rupiah dibanding negara-negara emerging market (pasar berkembang) lain," kata David kepada Bloomberg Technoz, Senin (19/10/2026).
Di sisi lain, menurutnya, ekspektasi kenaikan suku bunga di AS pada akhir tahun juga akan turut menjadi pertimbangan BI dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Bahkan ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut apabila BI tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
"Tekanan kelihatannya akan berlanjut [bila suku bunga tidak dinaikkan]," pungkasnya.
Di sisi lain, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi justru menilai opsi kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate bisa jadi opsi utama hanya ketika pelemahan rupiah berubah menjadi koreksi pasar uang yang tidak terkendali atau disorderly adjustment.
Artinya, kondisi rupiah terus mencetak level terendah, aliran modal asing keluar atau outflow meluas dari saham hingga Surat Berharga Negara (SBN), ekspektasi inflasi naik, dan intervensi pasar kehilangan efektivitas.
"Jadi, angka Rp18.000 penting secara psikologis, tetapi bukan pemicu mekanis untuk menaikkan suku bunga," kata Syafruddin dihubungi secara terpisah.
Dia melanjutkan, bank sentral belum perlu menaikkan BI Rate hanya karena rupiah menembus Rp18.000/US$. Saat ini, JISDOR sudah berada di Rp18.052 pada 16 Oktober 2026, sementara BI Rate telah dinaikkan menjadi 5,75% sejak Juni.
"Dalam kondisi sekarang, persoalan utamanya bukan sekadar selisih bunga, tetapi kombinasi yield global tinggi, shock MSCI, foreign outflow, dan melemahnya kepercayaan pasar," jelas Syafruddin.
Dia menjelaskan, kenaikan BI Rate sebesar 25 basispoin (bps) dapat memberi sinyal defensif dan memperbaiki carry rupiah, tetapi biayanya adalah kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi yang ikut tertahan.
"Pilihan dasar yang lebih proporsional adalah mempertahankan 5,75% sambil memperkuat intervensi spot, DNDF, NDF offshore, serta stabilisasi SBN," katanya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hari ini (19/10/2026) kembali dibuka melemah 0,23% ke Rp18.053/US$, menyusul berlanjutnya tekanan di pasar saham dan kekhawatiran akan arus keluar modal asing dari pasar RI, setelah pengumuman MSCI pekan lalu.
Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) juga bergerak melemah di kisaran Rp18.074/US$. Sementara, harga minyak mentah berada di US$105/barel dan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di 101,84 masih membebani sentimen eksternal.
Sumber: www.bloombergtechnoz.com
